
London, 1918.
Malam itu hujan turun dengan lebat seperti biasa. Setiap malam di musim panas, London selalu basah. Anne duduk di ruang tengah dengan perapian yang menyala untuk menghangatkan seisi ruangan. Anne ditemani Charlotte, kekasih William—kakaknya Anne. Ekspresi muka mereka sedang tidak dalam keadaan santai, dengan rasa gugup menunggu seseorang.
'DAK! DAK! DAK!"
Suara pintu yang sepertinya diketuk dengan benda tumpul terdengar. Albert, salah satu asisten William mengeluarkan revolver dari dalam saku jasnya dan mulai mendekati pintu. Anne berdiri dari tempat duduk dan hendak mendekat, namun tertahan oleh isyarat tangan Albert.
Albert membuka pintu dan mengembalikan senjata apinya ke dalam saku setelah melihat William yang datang
dengan basah kuyup dan dibopong dua orang lelaki di samping kanan dan kirinya. Ada darah yang bercucuran di balik baju basahnya.
"William!" teriak Charlotte saat mendapati kekasihnya terluka.
"Kakak!" Anne segera mengambil alih Martin, dan membopong William di sebelah kanan.
Martin menutup pintu dan semua membawa William ke kamarnya. Albert yang juga seorang dokter keluarga segera
mengeluarkan peralatan medisnya untuk menolong William. Diambilnya sebotol scotch di atas meja lampu kemudian diguyurnya ke atas luka di perut sebelah kiri.
"Aaakk!" teriak William.
Philip segera menyumpal mulut William dengan kain selimut. "Gigit ini dan tahan!"
Albert segera membedah luka itu dan dengan cepat berhasil mengeluarkan sebutir peluru dari dalam perut William.
Pemandangan itu sudah biasa bagi Anne. Menunggu kedatangan seorang kakak dengan harap-harap cemas pun sudah biasa. Dia bilang pekerjaannya adalah pebisnis.
Ya, bisnis jual-beli suku cadang mobil yang diprakarsai oleh ayah mereka pasca Perang Dunia I. Namun setelah orangtua mereka meninggal, William menambah jenis bisnisnya yaitu penyeludupan senjata api. William pun menambah orang-orang kuat yang tak akan segan menembak untuk melindungi keluarga dan bisnisnya. Mereka berubah menjadi keluarga yang ditakuti. Dengan kata lain, keluarga mafia.
Saat ini William sedang bersitegang dengan mafia lain yang juga berbisnis minuman alkohol sebagai bisnis legalnya dan penyeludupan senjata api sebagai bisnis gelapnya. Kelompok itu berasal dari Birmingham, masih baru tapi sudah kuat dan setara dengan William. Mereka bersitegang karena kelompok dari Birmingham itu mulai merebut pasar William.
Setelah luka itu dijahit, William akhirnya tertidur. Mereka pun keluar dari kamar itu, menyisakan Charlotte dan William.
"Siapa yang telah menembak William?" tanya Albert pada Martin dan Philip.
"Thomas Scott," jawab Martin dengan tatapan penuh amarah.
"Thomas Scott? Bukankah dia pimpinan The Blinders dari Birmingham?" tanya Albert lagi.
Philip mengangguk. "Ya."
"Bukankah William bilang kalau mereka akan bernegosiasi? Kenapa menjadi adu tembak?" tanya Anne, ikut mengobrol.
"Ya, awalnya kami memang bernegosiasi. Tapi kemudian, Thomas mengajukan tawaran yang membuat William
marah dan terjadilah baku tembak," jelas Martin.
"Tawaran apa?" tanya Anne kembali.
"Soal..." ucap Martin yang tertahan oleh isyarat tangan Philip.
Anne dan Albert menatap Philip dan Martin yang menyembunyikan sesuatu.
"Besok kau pun akan tahu dari kakakmu," pungkas Philip.
Anne mengerutkan keningku karena heran. Tawaran apa?
***
'Srek!'
Bibi Julie membuka gorden dan cahaya matahari menerobos masuk, membuat Anne terpaksa membuka mata.
"Nona, sarapan sudah siap," ucap Bibi Julie sambil memunguti pakaian yang kotor.
"Apa William sudah pulih?" tanya Anne.
"Sudah, dia dan Nona Charlotte sedang menunggu Anda di bawah."
Anne pun beranjak dari tempat tidur dan pergi menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Rambut merah ikal panjang dia biarkan terurai. Anne masih memakai kimono tidur dan turun ke ruang makan dan menatap William duduk dengan ekspresi wajah yang serius, mungkin masih menaruh rasa kesal karena kekalahan semalam dari The Blinders.
Anne duduk di samping kiri William, di seberang Charlotte.
"Kau sudah lebih baik?" tanya Anne sambil meminum jus jeruk di gelasnya.
Anne mulai memakan telur mata sapi dan roti keringnya, namun William nampaknya tidak menyentuh makanannya sama sekali. Anne melirik Charlotte meminta penjelasan, namun Charlotte pun menggeleng tak tahu apa-apa.
"Hari ini apa yang akan kau lakukan?" tanya William tiba-tiba.
"Aku? Seperti biasa, ke perpustakaan dan melukis di danau. Mungkin nanti kalau kau sudah mengizinkanku
untuk terlibat dalam bisnis keluarga, aku tidak akan banyak menikmati waktuku," jawab Anne.
"Martin akan menemanimu," ucap William, sambil melirik Martin yang berdiri di ujung ruangan.
Tiba-tiba selera makan Anne hilang. Selalu seperti ini. Setiap William telah bersitegang dengan kelompok mafia lain maka dia akan membuat Anne tak memiliki kebebasan bahkan seujung kuku pun.
"Martin tidak boleh masuk ke dalam perpustakaan," kata Anne, kemudian naik kembali ke dalam
kamar.
***
Anne berjalan di trotoar dengan Martin yang berjarak satu meter di belakangnya. Itu pun setelah Anne memerintahkannya untuk menjaga jarak. Sesampainya di depan perpustakaan, Anne menghentikan Martin.
"Kau tunggu di sini. aku akan aman di dalam perpustakaan. Seorang mafia tidak mungkin hobi membaca bukan?" kataku pada Martin.
Anne pun masuk ke dalam perpustakaan dengan nafas lega setelah Martin mematuhinya. Anne mengembalikan buku yang dia pinjam pada Mrs. Olga kemudian menyusuri koridor untuk mencari buku lain. Anne masuk ke dalam koridor yang terlihat sepi dan mencari buku-buku dark roman kesukaannya. Matanya tertuju pada buku berjudul Black Swan, pada saat yang bersamaan dia rasakan hembusan nafas dari belakang leher. Seseorang memeluknya dari belakang dengan pelukan yang hangat.
“George,” ucap Anne pelan, kemudian membalikkan badannya.
Lelaki berambut pirang itu tersenyum, tatapannya yang hangat menerpa tubuhnya. Anne melekatkan ujung bibirnya pada bibir George yang tipis. George menyambut bibir Anne dengan penuh kelembutan. Sudah satu tahun lamanya Anne dan George menjalin cinta di belakang William. Anne pernah mempertemukan George dengan William pada awal mereka berhubungan, namun George ditolak mentah-mentah oleh William. George adalah lelaki biasa-biasa, bekerja sebagai penambang batu bara. Anne selalu bisa membayangkan hidup normal saat bersama George.
Anne diam-diam masih berhubungan dengan George seperti ini. Perpustakaan adalah tempat yang tepat untuknya
bersembunyi dari William beserta para anak buahnya. Mafia tidak mungkin punya hobi membaca buku, bukan?
Dari meja baca, seorang lelaki dengan kacamata bacanya tersenyum tipis. Sayup-sayup dia mendengar suara Anne yang berbincang-bincang ringan dengan George dari balik rak buku. Dia menutup bukunya, membuka kacamatanya dan menyimpannya ke dalam saku jasnya.
“Maria Anne,” gumamnya.
Lelaki itu berdiri kemudian melangkah keluar dari perpustakaan. Martin terbelalak saat melihat seorang lelaki
dengan jas panjang hitam itu. Martin hendak mengeluarkan revolver dari balik sakunya, namun tertahan saat beberapa orang di sebrang jalan juga hendak mengeluarkan revolver.
Lelaki itu tersenyum tipis pada Martin, lalu menyalakan sebatang rokok dari saku jasnya. Kemudian naik ke dalam mobil dan berlalu. Segera setelah lelaki itu berlalu, Martin menyimpan kembali senjatanya dan berlari masuk ke dalam perpustakaan.
“Maria Anne!” teriak Martin, membuat perpustakaan yang hening seketika terdengar suara.
Anne yang kaget namanya disebut, segera menyuruh George pergi dan Anne menghampiri Martin.
“Ada apa?” tanya Anne pada Martin dengan suara tertahan.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Martin dengan raut muka cemas dan suara yang menggelegar.
“Silahkan berbincang-bincang di luar!” seru Mrs. Olga, merasa terganggu.
Anne pun kesal kemudian segera keluar dari perpustakaan sambil menarik Martin.
“Ada apa?” tanya Anne pada Martin dengan suara yang tidak tertahan.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Martin sambil memperhatikan badan Anne yang terlihat baik-baik saja.
“Aku tidak apa-apa. Memangnya kenapa?”
“Apa kau bertemu seseorang di dalam?”
Pertanyaan Martin membuat Anne tegang seketika. “Shit! Apa dia tahu soal George?” pikirnya dalam hati.
“Aku melihat Thomas Scott keluar dari perpustakaan barusan!” sambar Martin.
“Huufft… ternyata bukan George,” ucap Anne dalam hati. "Siapa? Thomas Scott?”
“Iya.”
“Aku tidak bertemu siapa-siapa. Aku pun tidak tahu Thomas Scott seperti apa wajahnya. Memangnya ada mafia yang hobi membaca buku?”