Birmingham, 1919

Birmingham, 1919
Grace



Birmingham, 1919.


Sudah satu bulan semenjak Anne tinggal di rumahnya sebagai anggota keluarga Scott yang baru. Rumah yang lebih tepat disebut Mansion itu berisi Thomas, Anne dan beberapa pelayan. Keluarga lainnya berada di rumah yang berbeda. Setiap pagi mereka semua berkumpul di tempat yang mereka sebut markas di pusat kota Birmingham. Markas itu berupa kantor perusahaan dagang barang seludupan dengan pabrik wiski sebagai kedoknya.


The Blinders di Birmingham rupanya tidak ditakuti masyarakat sekitar, masyarakat malah mempercayakan keamanan kotanya kepada The Blinders dari pada kepada polisi setempat, dengan membayar uang keamanan setiap bulannya. Beberapa oknum polisi pun dibayar oleh The Blinders untuk menutupi bekas-bekas kekacauan yang ditimbulkan apabila terjadi perang.


Perang? Ya, perang kerapkali terjadi. Perang kecil yang diakibatkan oleh beberapa oknum yang berani menyeledupkan barang dari The Blinders dan itu menyalahi kode etik mereka. Hanya The Blinders yang dapat menguasai pasar di Birmingham dan sekitarnya, jika ingin menjadi pesaing, maka carilah barang seludupan lain. Jika berani menyeludupkan barang yang sama dengan The Blinders, maka dia akan buta.


Orang-orang yang pernah bermasalah dengan The Blinders tidak akan dibunuh. Mereka akan ditandai dengan dibutakan sebelah matanya, maka dari itulah kelompok itu dinamakan The Blinders, yang berarti "Penutup Mata". Mereka yang dibutakan pada akhirnya akan bunuh diri karena tidak sanggup menanggung beban mental yang diakibatkan karena bermasalah dengan The Blinders.


The Blinders dibagi menjadi dua lapisan. Lapisan luar adalah para pekerja yang bekerja di bawah naungan The Blinders, mereka yang berhutang budi dan materi kepada The Blinders dan mereka yang mengidolakan The Blinders sehingga dengan senang hati menjadi bagian. Sedangkan lapisan dalam adalah anggota keluarga yang terikat darah dan pernikahan.


Anne, karena dia terikat pernikahan maka kini dia adalah anggota The Blinders. Anne ikut bekerja menjadi bagian manajerial bersama Adda dan Bibi Poly. Sementara para lelaki bekerja secara langsung. Anne sudah mulai berbaur dengan Adda, Bibi Poly, istri Arthur dan istri Jhonny, sembari merahasiakan hubungannya dengan Thomas.


Setelah satu bulan menjadi suami-istri yang tidak pernah saling menyentuh satu sama lain, mereka berdua sepakat untuk terlihat menjadi pasangan romantis di hadapan keluarga dan orang lain. Sementara di dalam rumah mereka biasa-biasa saja, seperti dua lawan jenis yang saling mengenal tapi tak ada ikatan batin di antara keduanya.


Malam ini, semua wanita sudah menutup kantor dan sepakat untuk makan malam bersama di rumah Anne sementara para pria sedang pergi keluar kota dalam misi membeli sebuah bar untuk melebarkan sayap penjualan wiski.


Setelah makan malam bersama, semua wanita menikmati segelas wine sambil menghangatkan tubuh di ruang keluarga dengan perapian yang menyala.


"Mungkin kau harus segera beri Thomas keturunan agar mereka tidak jauh-jauh," saran istri Jhonny, Esme.


"Uhuk! Uhuk!" Anne tersedak mendengarnya.


"Ah itu tidak akan berpengaruh!" sahut istri Arthur, Jane. Arthur dan Jane sudah memiliki seorang anak lelaki yang sekarang sedang beranjak remaja dan disekolahkan di sekolah berasrama.


"Laki-laki akan terus melakukan apa yang disukainya, tanpa keberatan memikirkan anak dan istrinya," tambah Bibi Poly.


"Yang paling penting, selalu penuhi isi perut mereka dan kosongkan isi ***** mereka. Hahahaha," ucap Jane.


Semua wanita di ruangan itu tertawa lepas, terkecuali Anne. Dia ikut tertawa dengan terpaksa. Bibi Poly mencium kecanggungan Anne.


'BRAK!'


Pintu utama terbuka dan terlihat para lelaki sudah kembali. Arthur dan Jhonny menatap para wanita dengan ekpresi bingung.


"Mana Tomy?" tanya Bibi Poly.


Tak lama Thomas muncul dari belakang kedua saudaranya. Thomas muncul bersama seorang perempuan berambut pendek berwarna pirang. Wanita itu cantik dan bermata biru.


Semua wanita terbelalak melihat kedatangan wanita yang bersama Thomas.


"Grace?" ucap Adda terkejut.


Anne menatap perempuan itu dengan bingung. "Grace?"


Bibi Poly seketika menatap Thomas dan Grace dengan ekspresi yang siap meledak, yang lainnya menatap Anne dengan tatapan prihatin, sementara Anne bingung dengan kedatangan wanita itu.


"Siapa wanita itu? Kenapa Thomas membawanya pulang?" bingung Anne dalam hati.


"Tomy! Kita harus bicara berdua, sekarang!" seru Bibi Poly.


Thomas yang sudah paham akan emosi Bibi Poly mengikutinya menuju ruang kerja. Sementara yang lainnya duduk di perapian bersama pasangannya masing-masing. Adda menatap Grace dengan tatapan tak bersahabat. Tak ada yang menjamu Grace, atau menyambut kedatangannya sama sekali.


'PLAK!'


"Di mana otakmu?! Kenapa kau membawa pengkhianat itu ke rumahmu? Rumah dimana terdapat seorang istri yang menanti kepulanganmu!" seru Bibi Poly emosi.


"Aku menyelamatkan Grace dari Lee Bersaudara. Aku pun baru mendengar penjelasannya atas kejadian dua tahun yang lalu. Dia dimanfaatkan oleh Lee Bersaudara untuk menjadi mata-mata dan merusak kita dari dalam. Dia sudah meminta maaf," jelas Thomas yang seperti tak berdaya terhadap permohonan maaf dari Grace.


Bibi Poly menggubris dengan sinis. "Hah! Dan kau masih percaya padanya?"


Thomas terdiam.


"Baiklah, katakanlah kalau kali ini dia sudah jujur. Lalu kau mau apakan dia? Kau sudah menikah! Bagaimana perasaan Anne melihat ini? Bagaimana kalau The Alexanders tidak terima dan mulai menyerang?!" tambah Bibi Poly.


Thomas terdiam. Meskipun pernikahannya hanya sebatas di atas hukum, dia sadar tidak sepantasnya dia  memperlakukan Anne seperti ini.


"Baiklah akan aku tempatkan Grace di apartemen," ucap Thomas.


'PLAK!'


Bibi Poly menampar pipi kanan Thomas, lagi.


"Singkirkan Grace, buang dia jauh-jauh dari pikiranmu! Kau memang cerdas, tapi kau bodoh saat menghadapi wanita!" tegas Bibi Poly, kemudian keluar dari ruang kerja.


***


"Perkenalkan," Anne mengulurkan tangannya pada Grace yang terlihat tidak nyaman berada di sana.


Perlahan Grace membalas uluran tangan wanita berambut merah panjang di hadapannya.


"Aku, Maria Anne Alexander Scott, panggil saja aku Anne. Aku istrinya Thomas."


Grace menatap Anne dengan kaget. Adda menatap puas saat Anne memperkenalkan dirinya pada Grace sebagai istri Thomas.  Jane dan Esme menatap Anne dan Grace. Dua wanita yang berada dalam hidup Thomas berdiri bersama.


Tak lama Bibi Poly dan Thomas datang.


"Grace, malam ini kau akan tinggal bersama Adda sementara aku mencarikanmu tempat lain," ucap Thomas.


"Apa?!" Adda tidak terima, namun tatapan Thomas membuatnya mau tidak mau menerima Grace sebagai tamunya.


"Kenapa tidak di sini saja? Di sini banyak kamar," ucap Anne, polos.


"Tidak!" sahut Adda seketika setuju menjamu Grace di rumahnya. "Ayo Grace!"


Mereka semua akhirnya pulang. Satu persatu berpamitan pada Anne. Sampai pada Bibi Poly, saat pipinya bersentuhan dengan pipi Anne, Bibi Poly berbisik.


"Grace adalah mantan kekasih Tomy. Ingat, berikan dia kepuasan, jangan sampai dia terpikat oleh wanita lain! Kau adalah Nyonya Scott," bisik Bibi Poly.


Saat mengetahui Grace adalah mantan kekasih Tomy, barulah Anne mengerti kenapa anggota keluarga yang lain tidak menerima kedatangan Grace. Anne menatap Thomas dalam.


"Apa dia masih mencintai Grace? Dia masih begitu perhatian padanya," ucap Anne dalam hati.


Thomas yang menangkap tatapan itu, berbalik. "Akan aku jelaskan besok pagi. Malam ini aku lelah."