Birmingham, 1919

Birmingham, 1919
Devil Eyes



"Hmmhh..." Adda mencoba menutup mulutnya agar tidak terdengar keluar kamarnya. Sulit sekali menahannya untuk tidak bersuara di saat seseorang yang dicintainya melakukannya dengan sangat lihai.


"Eddy..."


Lelaki yang berada di atas tubuh Adda segera menyumpal mulutnya dengan bibirnya agar tidak lagi mengoceh. Tak lama mereka pun mencapai puncak kenikmatan bersama-sama. Mereka pun berbaring berdampingan di atas ranjangnya, berusaha mengatur nafas.


Lelaki berkulit cokelat campuran afro-amerika itu menatap jam di dinding kamar Adda, lalu bangkit dan mulai memakai pakaiannya, termasuk memakaikan sabuk senjata api dan lencana yang selalu dibawa di dalam saku para polisi di Inggris.


"Thomas akan membunuhku jika dia tahu aku menjalin hubungan dengan seorang polisi," ucap Adda dalam hati.


Adda pernah mabuk di pub dan membuat onar saat putus cinta dengan kekasih lamanya. Pemilik bar yang memang pendatang, tidak tahu bahwa Adda adalah bagian dari keluarga Scott melaporkannya ke polisi dan Adda amankan di kantor kepolisian.


"Lepaskan!" teriak Adda yang tidak terima tangannya diborgol.


Eddy adalah kepala polisi yang baru saja dipindahkan dari Manchaster ke Birmingham. Masih muda, berkulit cokelat dan tampan. Pada saat itulah mereka bertemu. Adda hanya beberapa jam di kantor polisi sampai Bibi Poly datang untuk menebusnya dengan uang jaminan. Entah bagaimana hingga Eddy berakhir di ranjangnya saat ini. Sangat singkat dan padat juga mencurigakan.


Sebelum pergi, Eddy mengecup kening Adda dan berbisik. "Sampai jumpa nanti malam."


Adda tersenyum sambil menatap kepergian kekasihnya yang gagah dengan penampilannya sebagai seorang abdi negara. Setelah Eddy pergi, Adda menatap jam dinding di kamarnya dan terperanjat.


"S***t! Aku telat!" Adda segera masuk ke dalam kamar mandi dan mulai bersiap untuk beraktivitas.


***


Pagi ini sarapan sudah terhidang di atas meja makan. Entah kenapa Anne merasa tidak bernafsu untuk makan, padahal itu adalah makanan yang selalu ada dan Anne sukai. Tapi kali ini Anne tidak berhasrat sama sekali.


"Kau harus makan," ucap Thomas saat menyadari Anne tidak mengunyah makanan di mulutnya.


Mau tak mau Anne pun memetik anggur dan mencoba memakannya. Hanya buah-buahan yang bisa dia masukkan ke mulutnya. Sementara yang lain membuat Anne ingin muntah, terlebih telur rebus. Telur rebus setengah matang buatan pelayannya di rumah itu adalah telur rebus yang sempurna.


Anne menatap pelayannya. "Singkirkan itu dariku!" perintah Anne.


Pelayannya pun menuruti, Thomas hanya menatap heran, melihat Anne yang seperti tidak biasanya.


"Kau sakit?" tanya Thomas sambil menempelkan punggung tangannya pada dahi Anne.


Anne menggeleng. "Tidak, aku baik-baik saja."


Kemudian Anne teringat sesuatu. Sudah sebulan dia tidak mendapatkan tanggal merah dan hampir setiap malam  Anne bersenang-senang dengan Thomas di atas ranjang. Dari buku yang dibacanya, memilih makanan adalah perilaku wanita hamil. "Mungkinkah?" tanya Anne dalam hati.


Thomas pun melanjutkan kegiatan sarapan paginya. Anne menatap Thomas yang sedang menikmati sarapannya. Sepertinya Anne lebih berselera menyantap suaminya daripada makanan pagi ini. Thomas hanya melakukan gerakan menyuap dan mengunyah, terlihat begitu sexy di mata Anne saat ini. Thomas yang memahami tatapan Anne pun menyelesaikan kegiatan makannya, lalu menatap Anne dengan tatapan yang sama.


Anne bangkit dari kursinya. Thomas menggeserkan kursinya menjauhi meja makan agar Anne bisa duduk di pangkuannya dengan leluasa. Pelayan yang hendak membawakan makanan lain untuk Anne seketika kembali ke dapur karena kedua majikannya sedang bersenang-senang di pagi hari, di meja makan. Anne mengecup bibir Thomas yang duduk di kursinya dan Anne duduk di pangkuannya, menghadap Thomas.


Thomas memeluk Anne dan memasukkan tangannya ke balik pakaian Anne yang terdiri dari 2 bagian, kemeja berkancing dan rok panjang selutut. Thomas membenamkan wajahnya ke dada Anne dan menghirup aroma tubuhnya yang harum bunga mawar. Tubuh Anne memanas, dia tak bisa menahannya lagi. Anne membuka ikat pinggang suaminya dan tubuh mereka pun menyatu dengan masih berpakaian lengkap.


***


"Grace, kau tunggu dulu di luar!" perinta Bibi Poly.


Grace menatap Thomas dan Thomas mengiyakan perintah Bibi Poly. Terpaksa Grace pun keluar dari ruang kerja dan menunggu di ruang tamu. Semua anggota keluarga Scott sudah berkumpul kecuali Adda. Thomas masih terdiam menunggu kedatangan Adda. Pagi ini tiba-tiba Thomas mengumpulkan seluruh anggota keluarga untuk rapat internal. Arthur dan Jhonny pun sudah berada di sana.


Tak lama Adda pun datang dengan terengah-engah karena berlari. "Maaf."


Kemudian Adda duduk di samping Anne.


Thomas menatap seluruh anggota keluarganya yang sudah lengkap kemudian mulai bersuara. "Kita harus perketat penjagaan."


Thomas menatap  Anne. "Ya."


Anne terkejut. "Apa ini karena mimpinya semalam? Kenapa dia mendramatisir keadaan?"  bingung Anne dalam hati.


"Siapa yang mengancam?" tanya Jhonny yang siap dalam mode perang.


Thomas menggeleng. "Aku belum tahu. Aku hanya mendapatkan firasat buruk, semoga tidak terjadi."


Arthur dan Jhonny saling menatap, merasa aneh dengan kelakuan Thomas yang biasanya super tenang tiba-tiba panik hanya karena sebuah firasat.


"Penjagaan kita harus ketat. Jangan sampai lengah. Saat ini kita baik-baik saja, bisnis sedang berjalan lancar. Tapi ingat, badai selalu datang di saat lautan tenang," kata Thomas.


"Nasihat yang bagus," ucap Arthur setengah meledek.


"Hey! Aku serius!" hentak Thomas.


"Easy! Easy!" ucap Jhonny melerai.


"Baiklah. Rapat selesai," ucap Thomas, lalu menunjuk Adda. "Jangan pernah telat lagi!"


Adda menelan air liurnya lalu mengangguk. "Baik."


Semua lelaki kembali ke ruangannya masing-masing karena rapat internal sudah selesai. Bibi Poly mendekati Anne dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Anne menceritakan perihal mimpi buruk Thomas semalam. Bibi Poly mulai khawatir Thomas mendapatkan serangan panik seperti dulu saat dia pulang dari perang. Setiap malam mimpinya selalu buruk.


"Bagaimana kalau kita adakan pesta?" kata Bibi Poly mendepatkan ide.


"Pesta?" Adda bingung.


Anne mengangguk setuju. "Aku setuju, kita harus membuat Tommy merasa relax dan tenang. Pesta akan baik untuk itu."


Bibi Poly kemudian termenung. "Tapi pesta apa?"


Anne menatap Bibi Poly dan Adda bergantian, kemudian tersenyum memberikan isyarat. Adda dan Bibi Poly saling bertatapan kemudian tatapan mereka mengarah pada perut Anne.


"Serius?" tanya Adda, bahagia karena mengerti tak lama lagi dia akan mempunyai seorang keponakan.


"Aku tidak yakin, tapi aku merasakan gejala-gejalanya," kata Anne.


Bibi Poly kemudian meletakkan kedua tangannya pada perut Anne. Anne dan Adda menatap Bibi Poly dengan serius. Bibi Poly yang wajahnya serius tiba-tiba tersenyum, kemudian mengangguk. Ketiga wanita itu pun tertawa bahagia.


"Apa Tommy tahu soal ini?" tanya Bibi Poly.


Anne menggeleng. "Aku akan memberitahunya nanti malam."


Grace yang setelah rapat selesai sudah kembali ke ruangan itu merasa gagal untuk mendapatkan Thomas kembali kepadanya.


***


"Selamat pagi komandan!" seru para anggota polisi saat Eddy datang ke kantornya.


"Selamat pagi!" balas Eddy sambil mengambil cup kopi miliknya yang telah disiapkan oleh anak buahnya, kemudian masuk ke ruangannya.


Eddy  menutup pintu kemudian menatap papan putih di hadapan meja kerjanya. Papan itu berisikan foto-foto anggota keluarga Scott dan coretan-coretan tentang kasus penyeludupan senjata api di Birmingham yang sangat terorganisir dengan baik. Tangan kanannya kemudian meraba salah satu foto, foto berwajah Adda Scott.


Eddy tersenyum miring dengan tatapan gelap, devil eyes.