Birmingham, 1919

Birmingham, 1919
Gencatan Senjata



Tanah basah dan lengket menempel di alas sepatu boots Thomas saat dia melangkahkan kakinya menuju suatu tempat. Tempat yang jauh dari perkotaan. Melewati lebatnya pepohonan dan semak belukar hutan menuju sebuah lapang di tepi bukit. Tempat dimana para gipsy berkumpul dan membuat kehidupan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.


Udara dingin yang menandakan akhir dari musim semi mulai terasa menyelusup ke balik mantel yang dikenakan Thomas. Mulut Thomas mengeluarkan uap saat bernafas. Dari kejauhan mulai terlihat orang-orang gipsy yang berkerumun melingkar di samping perapian yang diatasnya bertengger panci berisikan air yang mendidih.


Salah satu dari kerumunan orang gipsy yang hampir semuanya laki-laki, menyadari kedatangan seseorang dari kejauhan. Saat orang itu berjalan semakin dekat, tangan kanannya merogoh saku dalam mantelnya. Dan orang yang menyadari kedatangan Thomas pun segera merogoh pistol untuk bersiam.


"Scott!" teriak orang itu, sambil mengeluarkan revolver dari saku belakang celananya. Orang-orang di sekitarnya pun dengan sigap melakukan hal yang sama.


Thomas berhenti melangkah. Dia mengangkat tangan kirinya ke udara dan perlahan mengeluarkan tangan kanannya dari dalam saku, yang ternyata mengeluarkan sapu tangan berwarna putih, tanda perdamaian. Semua orang yang masih menodongkan pistol ke arah Thomas sambil menatap salah seorang yang terlihat seperti pemimpin komplotan, menunggu komando.


Lelaki itu menurunkan senjatanya, kemudian menglangkah mendekati Thomas. Thomas menatap mata lelaki itu tanpa rasa takut.


"Aku tahu, setiap kumpulan gipsy pasti dipimpin oleh wanita. Aku ingin bertemu dengannya, aku mengajukan perdamaian," ucap Thomas.


Lelaki itu sebenarnya ingin meledakkan kepala Thomas saat itu juga, namun dia masih menjunjung tinggi martabat dan menghormati arti dari kain putih yang dilambaikan. Lelaki lain datang mendekat untuk menggeledah pakaian Thomas dan Thomas dinyatakan tak bersenjata.


'Cuih!' Lelaki itu meludah ke samping Thomas. "Ikuti aku!"


Lelaki itu pun melangkah, dan Thomas mengikutinya. Thomas diarahkan menuju sebuah karavan dengan desain yang lebih indah dihiasi ukiran dibandingkan dengan karavan lain yang terlihat sederhana.  Lelaki itu kemudian mengetuk pintu karavan.


'TUK TUK!'


"Musuh datang dan mengajukan perdamaian!" ucap lelaki itu dalam bahasa gipsy.


Thomas tersenyum kilat, memahami apa yang diucapkan lelaki itu. Thomas terlahir dari seorang ibu yang juga seorang gipsy. Thomas dibesarkan dengan cara gipsy, sampai remaja dan ibunya meninggal. Kemudian dia dan saudaranya mulai hidup lebih modern seperti orang Inggris lainnya bersama ayahnya di Birmingham.


'Brak!'


Pintu itu pun terbuka dan terlihat wanita tua dengan rambut ikal dan hiasan khas wanita gipsy. Dengan tatapan tajam, dia memberi isyarat agar Thomas masuk ke dalam karavan. Thomas pun melakukan apa yang diisyaratkan kemudian wanita itu menutup pintu.


"Kau sudah banyak membunuh orang-orangku!" ucap wanita itu dalam bahasa gipsy kepada Thomas.


"Begitu pun dengan orang-orangmu. Aku ingin mengakhiri peperangan ini," balas Thomas dalam bahasa gipsy.


"Hem.. kau setengah gipsy," ucap wanita itu dalam bahasa Inggris.


"Ibuku adalah seorang gipsy."


Wanita itu terdiam lalu menatap Thomas dari atas sampai bawah. "Selalu ada harga dalam setiap negosiasi."


"Berapapun harganya, aku akan membayarnya."


***


Arthur dan Jhonny menunggu Thomas dengan cemas di ruangan Arthur. Tak lama Thomas pun datang dengan ekspresi wajah yang tidak dapat ditebak. Setelah Thomas berjarak cukup dekat dengan kedua saudaranya, dia menepuk pundak Jhonny dan menatap adiknya.


"Saatnya kau beraksi untuk keluarga ini. Kuserahkan tugas untuk mengakhiri perang bersama Lee Bersaudara ini kepadamu," ucap Thomas.


Jhonny adalah anak ke empat, lelaki paling muda di keluarga Scott. Dia sudah pernah menikah dan sudah memiliki tiga orang anak. Di antara kakak-kakaknya yang telah berkeluarga, dialah yang paling banyak dikaruniai anak. Akan tetapi pernikahannya tidak selalu bahagia, istrinya meninggal saat melahirkan anak ketiga. Selama dia tak di rumah, anak-anaknya diurus oleh pengasuh. Setelah istrinya meninggal, dia mulai sering melampiaskan kesepiannya pada alkohol dan kekerasan.


Dalam keluarga Scott, mereka semua sudah memiliki tugas masing-masing. Thomas, putra kedua, sang leader yang cerdas dan negosiator yang berdarah dingin. Arthur, putra pertama, simbol kehormatan keluarga, kekerasan adalah caranya untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Adda, putri ketiga yang tidak suka dengan cara kerja keluarganya sebagai mafia tapi dia akan selalu siap jika Thomas membutuhkannya. Jhonny, putra keempat yang  paling jarang diberikan tugas penting oleh Thomas, mengingat dia adalah yang termuda tapi juga yang termudah rapuh hatinya.


Kini, Thomas memberikan tugas penting pada Jhonny untuk pertama kalinya, maka dia akan melakukannya dengan sempurna.


***


Pagi itu, The Blinders sudah berkumpul dengan stelan jas dan topi baret yang menjadi ciri khas mereka. The Blinders turun dari mobil yang terdiri dari 4 mobil. Semua anggota dikumpulkan, rencana hari ini sudah Thomas sebarkan pada semua, kecuali Jhonny. Mobil itu terparkir hanya beberapa meter dari kumpulan Lee Bersaudara.


Arthur memberikan botol scotch dari balik jasnya, kemudian meneguknya. Lalu dia berikan pada Jhonny di sampingnya. Jhonny meneguk scotch dari botol alumunium ramping itu. Scotch memberinya keberanian untuk menghadapi perang melawan Lee Bersaudara hari ini.


Thomas menepuk kedua pundak Jhonny.


"Kau siap Jhonny?" tanya Thomas.


"Ayo kita habisi Lee Bersaudara!" seru Jhonny dengan tatapan tajam.


Thomas mengangguk, kemudian mengeluarkan pin berupa bunga kecil berwarna putih dari dalam sakunya kemudian menempelkannya ke atas saku dada kanan Jhonny dan semua anggota The Blinders tersenyum cerah seakan bersiap untuk pesta. Semua anggota The Blinders mengeluarkan bunganya masing-masing dan menempelkannya di dada mereka, layaknya rombongan mempelai pria.


Jhonny mengernyitkan dahinya dan menatap Thomas dengan panik. "Apa yang kau rencanakan?"


"Jhonny, di dalam sana ada seorang wanita yang membutuhkan suami. Kau, seorang suami yang membutuhkan istri. Kita akhiri perang ini dengan cara yang tidak menumpahkan darah. Setelah aku yang menikahi The Alexanders, kini tugas ini kuserahkan padamu!" jelas Thomas.


Jhonny kaget mendengar itu. Terus terang, dia tidak pernah siap untuk menikah lagi. Tapi dia ingin berarti bagi keluarga ini.


Jhonny mendengus kesal. "F***k!"


Dia merebut botol minuman dari Arthur lalu meneguknya seperti kehausan. "Let's save this fooking family!" teriaknya.


Pada akhirnya Jhonny pun melakukan apa yang disebut pengorbanan demi keluarga. Bersama kakak-kakak lelakinya dia melangkah menuju area Lee Bersaudara. Kerumunan penuh dengan orang-orang gipsy  dan bunga-bunga. Jhonny terhenyak saat melihat Anne, Adda dan Bibi Poly pun ada di antara kerumunan dengan pakaian pesta.


"****! Mereka merahasiakan ini dariku!" umpat Jhonny dalam hati, yang menyadari bahwa keluarganya sendiri telah menjebaknya.


Jhonny pun berdiri di hadapan kepala suku yang bertugas untuk menikahkan pasangan. Dia menunggu dengan harap-harap cemas wanita yang akan dianikahi. Wanita gipsy di kelompok Lee Bersaudara didominasi dengan wanita dengan perawakan gemuk dan usia tua. Jhonny tidak bisa mengharapkan lebih, terlebih lagi ini adalah sebuah pengorbanan sekaligus gencatan senjata.


Tak lama seseorang bergaun putih dan bertudung putih berdiri di sampingnya. Jhonny berdiri di hadapan wanita itu kemudian membuka tudung putih yang menutupi wajah calon pengantinnya. Terlihat wanita muda bermata hitam kecokelatan dengan bercak kecokelatan di sekitar hidung dan pipi yang merona membuatnya terlihat begitu manis, sebagai seorang wanita gipsy yang membutuhkan seorang suami.


Senyuman merekah di bibir Jhonny saat melihat pengantinnya, dia pun melirik Thomas dengan isyarat yang berbunyi, " Well, not bad."


Thomas dan Arthur pun saling bertatapan dengan senyuman mengembang melihat adiknya akhirnya senang atas rencana itu.


***