Birmingham, 1919

Birmingham, 1919
Make It Real



Anne membuka matanya perlahan. Dia menatap Thomas yang terbaring di sampingnya.


"Kapan dia pulang?" tanya Anne dalam hati.


Kepala Thomas bergerak-gerak, lalu menghadap ke arahnya. Hembusan nafas dari hungnya menerpa wajah Anne. Anne seketika menutup matanya karena tak lama lagi Thomas pasti bangun. Benar saja, tak lama Thomas membuka matanya dan menatap wajah Anne yang diterba sinar matahari dari sela-sela tirai.


Rambut merah, wajah putih dengan merah di pipinya dan bintik-bintik kecokelatan di area pipi dan hidungnya membuat Anne bagaikan putri tidur yang menunggu pangeran menciumnya dan membuatnya terbangun. Jika dipikir-pikir, usia Thomas dan Anne mungkin terpaut lima tahun lebih karena dia seusia dengan kakak Anne, William.


Tapi Thomas tidak melihat perbedaan usia di antara mereka. Tingkah laku dan bahasa tubuh Anne begitu dewasa. Auranya yang anggun terpancar dari cara dia menatap, berbicara dan melangkah. Thomas begitu memperhatikan Anne sedetail itu, membuatnya terangsang. Tapi dia hanya akan menyentuh Anne, apabila Anne mencintainya. Dia ingat pada saat mereka menikah, Anne pernah bilang bahwa Anne  tidak mencintainya, dan Thomas tidak akan memaksa.


"I'll keep you in this house," gumam Thomas, kemudian bangkit dari tempat tidurnya.


Anne membuka matanya setelah Thomas masuk ke dalam kamar mandi. Kalimat yang diucapkan Thomas barusan terdengar  dengan jelas. Tapi dia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Thomas.


***


Anne membuat kopi di pantry markas. Semua orang tengah sibuk bekerja, tak lama Grace datang dan membuat secangkir teh.


"Kau sudah sembuh Anne?" tanya Grace.


Anne mengangguk. "Ehem," lalu meneguk kopinya dan merasakan pakah gulanya sudah pas atau belum.


Anne menambahkan satu sendok teh gula pada kopinya.


"Aku tahu Anne," ucap Grace.


Anne menghentikan jarinya memutar sendok, lalu mendengar kalimat lanjutan yang akan Grace ucapkan.


"Aku tahu kau tidak sungguh-sungguh melaksanakan pernikahan dengan Thomas. Pernikahan itu, hanya di atas kertas, bukan?" tambah Grace.


Kelopak mata Anne terbelalak. "Darimana dia tahu? Bahkan keluarganya pun tidak pernah tahu hal itu. Apakah Thomas membocorkannya pada Grace?" ucap Anne dalam hati.


Grace tersenyum. "Jika kau sudah tidak sanggup melakukannya, kau bisa lepaskan Thomas."


Anne marah mendengarnya. "Apa maksudmu?"


"Tidak usah mengelak, kau pikir kenapa dia pulang terlambat tadi malam?" tambah Grace dengan tatapan seolah-olah dia lemah.


Anne terdiam. "Mungkinkah semalam Thomas terlambat karena bersama perempuan ini?! Apa Thomas masih mencintainya?! Hah, tentu saja!" seru Anne, dalam hati.


Anne keluar dari pantry tanpa membawa kopinya. Lalu membawa tasnya. Bibi Poly dan Adda yang melihat Anne tergesa-gesa seperti itu mulai bertanya-tanya.


"Kau mau kemana?" tanya Adda.


"Ah, ada sesuatu yang harus kubeli. Aku akan kembali," kata Anne lalu keluar dari tempat itu.


Bibi Poly menangkap ekspresi Anne yang marah seperti itu. Lalu dia pergi ke pantry dan melihat Grace yang menatap kepergian Anne dengan tatapan kemenangan. Bibi Poly dengan ekspresi marahnya masuk ke dalam pantry.


"Apa yang kau katakan pada Anne?" tanya Bibi Poly.


Grace menggeleng. "Aku tidak mengatakan apa-apa."


Bibi Poly benci melihat ekspresi wajah Grace yang terlihat lemah. Dari dulu Grace memang terampil bermain peran dan berekspresi. Poker face, adalah ekspresi andalannya.


"Dengar, meskipun Thomas bisa saja tergoda oleh wajahmu yang memelas, tapi aku tidak! Kau tidak akan pernah diterima di keluarga ini! Camkan itu!" ucap Bibi Poly, setengah mengancam.


***


Anne masuk ke dalam perpustakaan umum di kota Birmingham untuk melampiaskan kekesalannya. Dia pun tidak tahu kenapa dia marah dan kesal mengetahui Thomas menghabiskan malam bersama dengan Grace. Dia ingin menangis, tapi tidak ingin terlihat oleh siapapun. Setelah masuk, dia mencari lorong paling ujung dan sepi untuk menangis.


Dia terkejut saat melihat George ada di sana. Sebuah kebetulan.


"Anne, kenapa kau ada di sini?"


Anne yang tadinya ingin menangis, tiba-tiba melampiaskan kekesalannya pada George. Dia berjalan mendekati George, lalu mencium bibirnya dengan brutal. Dia marah, dia ingin melampiaskan itu semua pada Thomas, tapi Thomas tidak menginginkannya. George yang awalnya kaget, malah menikmatinya.


Dia membalas ciuman Anne tak kalah ganas. George menguasai tubuh Anne dan mendesaknya ke dinding. George melepaskan tautan bibirnya, lalu mengecup leher Anne dan mulai menjelajahi setiap jengkal tubuhnya dengan kedua telapak tangannya. Anne menikmatinya, tapi bayangan wajah Thomas terus menghampiri.


"Stop!" henti Anne.


George menahan hasratnya, lalu menuruti Anne. Anne kemudian menangis. George memeluk Anne dan membiarkannya menangis, meski dia tidak tahu apa yang terjadi.


"Anne, ikutlah aku ke Skotlandia. Tinggalkan Thomas," bisik George.


Anne tidak ingin meninggalkan Thomas, tapi apa yang George katakan bisa menjadi pilihan untuknya saat ini.


***


Thomas duduk di depan perapian yang menyala di ruang tengah rumahnya dengan segelas wiski di tangannya. Dia menatap jam dinding di rumahnya dan menunjukkan waktu lewat dari tengah malam. Sampai saat ini Anne belum pulang, sejak siang tadi dia menghilang.


'Krek!'


Bibi Poly masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk, kemudian menutupnya kembali. Ekspresinya seperti bom yang hendak meledak. Thomas paham itu.


"Ada apa lagi?" tanya Thomas malas.


"Semalam kau menghabiskan malam dengan Grace?" tanya Bibi Poly.


Thomas mengernyitkan dahinya. "Apa yang kau maksud?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan! Cukup sekali kau dibodohi wanita tidak tahu malu itu! Kini, Anne tahu kau menghabiskan malam bersama Grace dan dia pergi entah kemana! Aku tidak tahu apakah kalian menjalankan pernikahan dengan baik, tapi ingat jika Anne pergi maka itu adalah kesalahanmu!" ucap Bibi Poly, kemudian keluar dari ruangan Thomas.


Kini dia khawatir Anne benar-benar pergi darinya.


'Krek!'


Pintu terbuka, lalu Thomas bangkit. Terlihat Anne pulang dengan wajah yang marah campur sedih. Kedua mata mereka bertemu.


"Dari mana saja kau?" tanya Thomas.


Anne menatap jam dinding dan sudah pukul satu dini hari. "Memangnya aku tidak boleh pulang jam segini?"


Anne sudah siap dengan mode perang.


"Tidak pantas wanita sepertimu pulang dini hari tanpa suami," tegas Thomas.


Anne memincingkan matanya. "Lalu bagaimana dengan lelaki yang sudah beristri pulang dini hari, setelah menghabiskan malamnya dengan wanita lain?"


Thomas geram. Geram karena itu hanyalah akal-akalan Grace. Yang benar adalah semalam memang Thomas mengantarkan Grace pulang tapi Thomas langsung pergi setelah menurunkan Grace. Dia pergi ke pub dan menghabiskan malam bersama Arthur dan Jhonny sambil minum-minum. Thomas tahu jika dia menjelaskannya sekarang, Anne tidak akan percaya dengan alibinya. Terlebih dengan emosi yang tidak terkendali seperti itu.


"Oh ya, aku lupa. Pernikahan ini hanya pernikahan di atas kertas. Tentu saja kau berhak bermalam dengan wanita mana pun sesukamu dan aku pun sama! Aku berhak bermalam dengan lelaki mana pun sesukaku!" teriak Anne, sudah jelas dia habis minum banyak hingga dia berani mengucapkannya.


"Cukup! Kau minum terlalu banyak!" Thomas menyimpan gelasnya, lalu mendekati Anne untuk membawanya ke kamar.


Anne menghempaskan tangan Thomas. "Lepaskan!"


"Apa maumu?!" Thomas mulai emosi.


Anne mengeluarkan air matanya. "Aku muak dengan kepura-puraan ini!"


Thomas menatap Anne dengan tatapan dalam.


"Aku muak pura-pura menjadi istrimu! Aku muak pura-pura menjalankan kehidupan pernikahan yang bahagia terlebih di hadapan keluargamu!" teriak Anne.


Thomas menatap Anne lama, hingga dia mengangguk. "Baiklah."


Anne terdiam. "Apa?"


"Aku akan menghentikan kepura-puraan ini."


Anne terhentak. "Apakah Thomas akan menceraikanku? Apa maksudnya?" bingung Anne dalam hati.


"I will make it real," ucap Thomas, kemudian mencium bibir Anne dengan penuh hasrat.


Anne yang masih berlinangan air mata seketika terkejut dengan serangan dadakan dari Thomas. Anne bahkan tak sempat menarik nafas. Sampai akhirnya Thomas melepaskan tautan bibirnya. Nafas mereka memburu.


"I will make this marriage to be real," ucap Thomas, lalu kembali meraup bibir Anne dengan bibirnya, mengangkat tubuh Anne lalu membawanya ke kamarnya.


Jantung Anne berdebar-debar. Baru kali ini dia merasakan hasrat yang membuncah saat disentuh laki-laki. Thomas adalah lelaki yang diakehendaki untuk menyentuh tubuhnya. Inikah yang diinginkan Anne? Ya, dia menginginkan itu sejak awal. Tak ada bayangan George sedikit pun di pikirannya.


Thomas mulai menjelajahi tubuh Anne dengan bibirnya. Wangi tubuh Anne yang selalu tercium di spreinya kini dia rasakan secara langsung. Kedua tubuh mereka yang polos hanya terhalang oleh selimut tipis. Thomas menahan tubuhnya dengan kedua tangannya, sementara Anne berada di bawah tubuhnya.


Thomas melepaskan tautan bibirnya, lalu menatap Anne dengan tatapan penuh makna. Anne pun mengangguk memahami apa yang Thomas kirimkan melalui sinyal di pikirannya. Perlahan tapi pasti, Thomas merasuki tubuh Anne dengan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyakiti Anne.


Anne menyumpal mulutnya dengan bahu Thomas yang tepat berada di hadapannya, merasakan sesuatu merasuki tubuhnya. Ini adalah yang pertama kali baginya. Thomas adalah pemenangnya. Rasanya menyakitkan, tapi Anne membiarkan Thomas melakukan pekerjaannya. Thomas terpejam merasakan kenikmatan itu. Tak ada bayangan Grace sedikitpun di benaknya. Jantungnya pun berdebar-debar merasakan perasaan yang begitu istimewa.


 "Hufft..." Thomas mengepulkan asap rokoknya ke udara.


Anne terlihat pulas di sampingnya dengan tubuh terbalut selimut. Thomas tersenyum lalu berkata. "My wife."


Thomas Scott



***