Birmingham, 1919

Birmingham, 1919
Happy



"Anne..."


"Tommy..."


Mereka saling membisikkan nama pasangannya masing-masing dengan nafas yang memburu. Their body attached skin to skin covered with sweat. Thomas terduduk di atas ranjang dengan Anne berada di pangkuannya. Mereka menikmatinya sesuai tempo yang mereka mainkan. Anne memenuhi semua fantasinya dalam otak Thomas. Membuatnya selalu menginginkannya lagi dan lagi.


"Hhhh...."


Mereka berdua saling berpelukan dengan erat saat mencapai puncak bersama-sama. Mereka berdua mengatur nafasnya masih dengan posisi yang sama, tak beranjak sedikit pun.


"Kau akan menjadi seorang ayah," bisik Anne.


Thomas memegang kedua lengan Anne dan berusaha menatap mata istrinya. "Are you serious?"


Anne mengangguk dan tersipu. Semburat kebahagiaan muncul dari raut wajah Thomas. Dia pun mengecup kening istrinya dan kembali memeluknya dengan erat. Anne pun merasakan hal yang sama. Bahagia tiada tara karena tak lama lagi mereka akan menjadi keluarga yang sempurna.


"Kita harus merayakan kebahagiaan ini," ucap Thomas.


***


Sore itu semua pelayan lalu lalang di kediaman Thomas dan Anne Scott untuk mempersiapkan pesta nanti malam. Anne mengarahkan  pelayan yang lainnya untuk mendekorasi ruang tamu, ruang tengah dan ruang makan. seorang pelayan membawakan seikat bunga lavender. Anne mencium aromanya kemudian mengangguk.


"Simpan ini di ujung ruangan!" perintah Anne.


"Baik Nyonya."


Tak lama seorang pelayan lainnya datang. "Nyonya, Tuan Alexander sudah datang."


Anne yang mendengar itu segera berlari kecil menuju pintu utama menyambut kedatangan kakaknya, William dan Charlotte. William memeluk adiknya dengan perasaan bahagia dan tenang. Tenang karena keputusannya untuk menikahkan adiknya dengan Thomas merupakan keputusan yang tepat. Setelah memeluk Wiiliam, Anne pun memeluk Charlotte, kekasih kakaknya yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri.


"Kami sangat bahagia mendengar kabar kehamilanmu," ucap Charlotte, lalu mengusap perut Anne yang masih rata.


Anne tersenyum. "Terima kasih."


"Kami membawakan hadiah untukmu," kata William, kemudian menyuruh sopirnya mengeluarkan barang yang sangat besar dari dalam mobil.


Anna menganga melihat sebuah ranjang bayi dari kayu yang cantik. "Akkh!"


"Kau suka?"


Anne mengangguk. "Sangat! Kalian pasti lelah, aku akan mengantarkan kalian ke kamar untuk beristirahat."


Anne pun mengantar keduanya menuju kamar tamu untuk beristirahat sementara pelayan yang lainnya membantu membawakan barang dan hadiah yang dibawa William dan Charlotte. Sementara William beristirahat, Charlotte dan Anne menikmati teh sore di balkon.


"Sluuurrp ah..." Charlotte meminum teh dan menghirup aromanya yang menenangkan.


"Charlotte, aku tahu kau menukar surat yang kutitipkan padamu untuk George," kata Anne.


"Uhuk! Uhuk!" Charlotte tersedak. "Dari mana kau tahu soal itu?!"


"George datang. Dia datang sebagai seorang pengusaha kaya dari Skotlandia dan berbisnis dengan Tommy. Tapi maksud lain kedatangannya adalah untuk membawaku pergi. Pada saat kami bertemu itulah aku tahu kau telah menukar suratku," jelas Anne.


Charlotte mulai merasa tidak enak hati. Dia menggenggap tangan Anne dan menatap dengan tatapan menyesal. "Maafkan aku!"


Anne terkekeh lalu menggeleng. "Kau tidak perlu meminta maaf. Jika bukan karena itu, aku tidak akan sebahagia ini  menjadi istri dari Thomas Scott."


Charlotte bernafas lega mendengar itu. "Kau bahagia?"


Anne mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. Charlotte pun akhirnya merasakan tindakannya menukar surat itu adalah tindakan yang benar.  Tak lama seseorang datang dan mengecup pucuk kepala Anne. Anne mendongak dan melihat Thomas yang sudah pulang dari markas.


"Hem.." Thomas melirik Charlotte. "Kau sudah tiba, dimana William?"


"Dia sedang beristirahat, dia akan bergabung nanti malam," jawab Charlotte.


***


Anne sudah siap dengan riasan dan gaun malamnya yang begitu cantik dan anggun. Thomas pun sudah siap dengan stelan jas pestanya. Satu sentuhan terakhir, Anne memasangkan anting-anting cantik untuk mengakhiri riasannya. Thomas melihat istrinya dengan tatapan layaknya seorang predator menatap mangsanya. Anne yang melihat tatapan itu tertawa renyah, kemudian beranjak dari meja rias menuju suaminya dan merapikan dasi suaminya.


"Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu," kata Anne terkekeh.


"So?" tantang Thomas.


Anne terbelalak. "Para tamu sudah datang, mereka akan menunggu lama."


Thomas mendekap tubuh Anne. "Aku tidak peduli. My house, my wife."


Thomas mengecup bibir istrinya lalu mengangkat tubuh Anne dan membawanya ke atas ranjang.


Bibi Poly dan anggota keluarga Scott sudah datang dan menyambut para tamu undangan di pintu masuk. Bibi Poly menatap ke arah tangga, menunggu tuan rumah yang tak kunjung muncul. Arthur dan Jhonny sudah mengatur anggota The Blinders untuk berjaga di halaman. Tiba-tiba mata Adda terbelalak saat dia melihat Eddy datang dengan memakai stelan jas pesta. Bibi Poly mengernyitkan dahinya melihat Eddy, kepala kelopisian Birmingham datang, karena seingatnya dia tidak diundang.


Eddy tersenyum lalu mencium pipi kiri dan kanan Adda, Bibi Poly terbelalak dan siap meledak tapi terhenti saat Thomas dan Anne muncul dari arah tangga.


"Mari kita sambut tuan rumah yang sedang berbahagia, Thomas dan Anne Scott!!" seru Arthur.


Para tamu undangan pun bertepuk tangan menyambut kedatangan tuan rumah.


Thomas melirik Eddy yang berdiri berdampingan dengan Adda. Adda pun tak bisa menutupinya lagi. Thomas tahu maksud Eddy mendekati adiknya. Sayangnya, adiknya mudah dirayu. Dia tetap bersikap tenang, dia tidak ingin merusak kebahagiaan Anne malam ini.


Bibi Poly berbisik pada Adda. "Kau akan mendapatkan masalah."


Adda pun tersadar kenapa Eddy mendekatinya. Malam itu semua anggota keluarga dan para kerabat menikmati sajian hidangan makan malam, wine dan musik. Semua orang terlihat bahagia, termasuk Anne dan Thomas. Di saat para tamu sedang saling berbincang-bincang, Thomas mengumpulkan anggota kepercayaan The Blinders di dapurnya.


Mereka semua berkumpul di dapur, pelayan dapur berlalu-lalang tak menghiraukan anggota The Blinders yang melingkar dengan Thomas berada di tengah-tengahnya.


"Malam ini, kita kedatangan tamu tak diundang. Eddy, kepala polisi baru di Birmingham. Kita tidak tahu motifnya.  Dilihat dari penampilannya, dia tidak bisa kita suap. Malam ini, jangan ada perkelahian!" tegas Thomas sambil menatap mata para anggota dengan serius.


Thomas menunjuk Arthur dan Jhonny. "No fighting!"


Arthur dan Jhonny mengangguk sambil mengangkat tangan. Merekalah yang paling mudah tersulut perkelahian. Thomas kembali ke tempat pesta. Saat pelayan dengan baki minuman melintas, dia mengambil segelas wiski lalu menghampiri istri dan kakak iparnya yang sedang mengobrol. Musik pun mengalun, orang-orang yang datang bersama pasangannya pun berdansa.


Anne menatap Thomas sambil berdansa. "Kau tidak membawa anak buahmu yang bersenjata?"


Thomas membawa anak buahnya yang bersenjata dan mereka berjaga di luar rumah, tapi dia tidak ingin Anne khawatir. "Tidak."


Anne mengernyitkan alisnya tak percaya.


"Kau tidak percaya padaku?" Thomas tersenyum saat Anne memasang wajah skeptis seperti itu.


Anne terkekeh dalam pelukan Thomas. Arthur menatap adiknya yang terlihat begitu bahagia Dari kejauhan dia melihat seorang pelayan yang mencurigakan dengan tangannya kanannya terbalut kain. Arthur memperhatikan pelayan yang semakin mendekati Thomas dan Anne yang tengah berdansa. Arthur segera berlari saat menyadari pelayan itu membawa pistol dari balik kain itu.


"Tommy!" teriak Arthur sambil berlari mencoba menangkap pelayan itu.


Pelayan itu dengan cepat mengangkat tangannya yang memegang senjata api dan membidik Thomas beserta istrinya. Thomas memeluk istrinya berusaha melindungi.


'DORR!!!'


"Tidaaaakkk!!!!" teriak Bibi Poly. Suasana yang tadinya hangat kini berubah menjadi ricuh.