Birmingham, 1919

Birmingham, 1919
United




Anne menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun pernikahan berwarna putih dengan tudung berbahan brukat yang transparan. Rambut berwarna merahnya disanggul dengan elegan. Wajahnya yang begitu cantik, namun auranya tidak memancar sempurna. Hatinya gundah menunggu kedatangan kekasihnya, George.


'TUK TUK TUK'


Charlotte yang sudah cantik dengan gaun pesta berwarna merah marun masuk ke dalam kamar Anne.


"Kau sudah selesai Anne?" tanya Charlotte.


Anne memberikan isyarat kepada para pelayannya untuk keluar dari kamar.


"Charlotte, apa kemarin kau sudah bertemu dengan George dan memberikan suratku?" tanya Anne dengan tatapan penuh harap.


Charlotte berjalan ke belakang Anne dan membenarkan ekor gaun.


"Ya, aku sudah bertemu dengan George dan melaksanakan semua perintahmu. Memangnya apa isi surat itu?" ucap Charlotte, pura-pura tidak mengetahui rencana pelarian Anne.


Anne terdiam. Hatinya terasa sesak. Jika George sudah menerima surat itu dan dia tidak datang untuk membawa Anne lari dari situasi ini, maka kesimpulannya adalah George lelaki pengecut. Cintanya tak sebesar rasa takutnya akan kemarahan William.


"Akkhh...." Anne mengusap dadanya yang sesak, serangan panik mulai terasa.


"Kau kenapa?" tanya Charlotte.


"Aku.. aku tidak mau menikah!" seru Anne sambil mengeluarkan air mata dengan dada yang sesak.


"Anne, atur pernapasanmu! Ayo ikuti aku!" Charlotte memandu Anne untuk menghirup nafas panjang, kemudian mengeluarkannya. Exhale... inhale...


Anne mengikutinya, pernapasannya mulai teratur tapi matanya tak berhenti mengeluarkan air. Air mata kesedihan karena George yang tidak mencintainya.


"Bisakah kau memikirkan keluargamu saat ini? Pikirkan keselamatan kakakmu, dan keluarga ini Anne. Pernikahanmu ini adalah tugasmu sebagai anggota keluarga. Be brave!" nasihat Charlotte.


Anne menghentikan air matanya. "Be brave, Annie!" ucapnya dalam hati.


Charlotte pun memperbaiki riasan Anne yang rusak oleh air mata.


'TUK TUK TUK'


"Masuk!" seru Charlotte saat riasan Anne sudah kembali sempurna.


William dengan tuxedo hitamnya masuk dan menatap takjub pada adik semata wayangnya yang begitu cantik di hari pernikahan.


"Annie, kau sudah dewasa sekarang," ucap William.


Anne bediri, lalu memeluk kakaknya. William mengusap punggung adiknya dengan lembut dan penuh rasa bersalah karena telah memaksa adiknya untuk menikah.


Anne tak membalas perkataan William.


"Semua sudah menunggu di gereja, ayo kita berangkat!" ujar Charlotte.


***


Arthur memberikan botol minuman alkoholnya pada Thomas. Thomas yang sudah siap dengan tuxedo berwarna hitam dengan bros bunga di kerah tuxedonya, meraih botol itu lalu meneguk minuman alkohol itu untuk memberikannya keberanian hari ini.


Dia yang mengusulkan pernikahan politik ini, tapi dia pula yang merasa gugup. Dia mungkin sudah biasa menikmati tubuh wanita manapun yang dia ingikan, tapi dia sulit untuk jatuh cinta. Satu kali dia jatuh cinta, dan itu pun berakhir dengan pengkhianatan. Grace. Wanita itulah yang berhasil membuat Thomas jatuh cinta, tapi Grace mengkhianatinya dengan berbohong. Kebohongan yang membuat The Blinders bangkrut dan sempat hancur sekitar dua tahun yang lalu.


Keputusan Maria Anne adalah upaya Thomas untuk kembali menguatkan The Blinders. Apabila The Blinders bersanding dengan The Alexanders, maka dia akan mendapatkan keuntungan yang lebih. Keuntungan dalam posisi bisnis, politik dan kekuatan. Meskipun dia tidak memiliki perasaan terhadap Maria Anne. Namun saat ini, tak ada yang lebih penting baginya selain The Blinders, bahkan hatinya dan hati orang lain tidak penting.


***


Thomas sudah berdiri di altar, di hadapan Pastur. Keluarganya dan The Alexanders sudah duduk di kursi bersiap menjadi saksi dua keluarga kuat yang bersatu. Dari pintu masuk, muncul William menggandeng adiknya, Anne. Semua saksi dan Thomas berbalik melihat pengantin dan pendampingnya maju menuju altar.


William menatap Thomas saat mereka saling berhadapan.


"Ingat pesanku," gumam William pada Thomas.


Thomas mengingat apa yang dikatakan William pada saat mereka bertemu membahas kesepakatan sehari setelah Anne bersedia menikah dengan Thomas.


"Jika kau menyakiti Anne bahkan sehelai rambut pun, aku tidak akan segan-segan menghancurkan The Blinders," ucap William kala itu.


Thomas mengangguk. William secara simbolis menyerahkan lengan adiknya, kemudian Thomas meraih lengan Anne. Thomas menatap calon pengantinnya. Anne tak membalas tatapannya, tidak seperti saat mereka pertama kali bertemu. Anne terlihat menyesali keputusannya. Thomas tahu itu, tapi dia tetap tidak peduli. Thomas membuka tudung yang menutupi wajah cantik Anne.


William duduk di samping Charlotte dan menyaksikan kedua mempelai mengikat janji.


"Dengan ini ku umumkan kalian berdua, Tuan dan Nyonya Scott," ucap Pastur setelah selesai pemberkatan pernikahan.


Anne berbalik, begitu pun Thomas. Tatapan mereka bertemu. Perlahan, Thomas mendekatkan wajahnya pada wajah wanita yang kini telah sah menjadi istrinya. Kedua bibir mereka bertemu untuk yang pertama kalinya. Anne pun merelakan bagian dari tubuhnya disentuh oleh lelaki lain selain orang yang dicintainya.


"Apakah aku harus mulai belajar mencintai Thomas?" pikir Anne dalam hati saat dia merasakan ciuman lembut dari suaminya.


Baru kali ini dia melihat wanita yang diciumnya sebagai dirinya sendiri. Selama dua tahun terakhir ini, apabila dia tidur dengan wanita lain, yang dilihatnya adalah bayangan Grace. Tapi saat ini, yang dia lihat di hadapannya adalah Maria Anne, bukan Grace.


"Apakah kau akan membuatku melupakan Grace?" tanya Thomas dalam hati saat dia menikmati ciuman pertamanya dengan istrinya.


'PROK PROK PROK!'


Semua saksi memberikan tepuk tangan kepada kedua mempelai yang telah sah menjadi suami dan istri. The Blinders dan The Alexanders pun bersatu.