
Anne terkejut saat Thomas memutar tubuhnya dan memeluknya dengan mendadak seiring dengan bunyi nyaring dari senjata api.
"Tidaaaakkk!!!" teriak Bibi Poly.
Suasana pesta yang tadinya hangat berubah menjadi ricuh. Arthur berhasil menangkap pelayan misterius yang menembak. Eddy yang berada di TKP pun segera ikut meringkus pelaku dan membawanya ke kantor polisi. Peluru itu berhasil menembus lengan kiri Thomas. Thomas masih bisa bertahan, dia memastikan istrinya tidak terluka sedikit pun.
Kedua bola mata Anne membulat, rasa khawatir menyerang perasaannya saat ini. Pesta pun bubar, tamu-tamu pulang sementara para anggota The Blinders menyisir seluruh ruangan untuk mencari sesuatu yang mencurigakan.
"Kita harus membawanya ke dokter!" teriak Anne sambil memeluk Thomas.
Thomas menggeleng. "Tidak," lalu menatap Arthur dan berpindah ke meja makan.
Arthur dan Jhonny pun mulai menyiapkan peralatan untuk mengambil peluru yang bersarang di lengan kiri Thomas. Jhonny memberikan Thomas sebotol wiski. Wiliam ikut membantu dengan memegangi Thomas.
"Apa yang akan kalian lakukan?!" seru Anne saat melihat suaminya dikerubungi para laki-laki.
Adda mendekati Anne. "Ini prosedur yang sudah biasa. Kau harus tetap tenang!"
Thomas meneguk wiski kemudian sisa wiski dari dalam botol dia siramkan ke bagian luka dan Arthur segera mengambil peluru yang tak begitu dalam dengan peralatan sederhan. "Aaaakkk!" teriak Thomas.
Anne tak tega melihatnya. Prosedur itu bagaikan anak-anak yang bermain dokter-dokteran, hanya minuman alkohol sebagai sterilisasi. Namun itulah yang selalu mereka lakukan jika ada anggota The Blinders yang terluka, tapi tidak terlalu parah. Setelah selesai, Jhonny pun membalut luka Thomas. Anne segera membawa Thomas ke kamar mereka.
"Aku ingin tahu situasinya," ucap William pada Arthur dan Jhonny. Para lelaki pun berkumpul di ruang kerja Thomas.
Anne menggantikan pakaian Thomas. Wajahnya masih khawatir. Baru kali ini dia merasa muak dengan situasi yang menegangkan seperti ini. Dari dulu jika William pulang dengan luka dia memang khawatir, tapi dia tidak terlalu ketakutan. Tapi saat pertama kali melihat Thomas ditembak di hadapannya, dia benar-benar tidak kuat menghadapi ini. Anne pun meneteskan air mata sambil membantu Thomas berganti baju.
"Hey, hey," Thomas menghentikan Anne, lalu memeluknya. "Aku baik-baik saja."
Thomas merasa menyesal telah membuat Anne terlibat dengan kehidupan menegangkan yang selama ini dia jalani. "Aku janji itu tidak akan terjadi lagi."
Anne melepaskan pelukan suaminya, lalu menatap mata suaminya dalam. "Berjanjilah dengan benar. Kau akan berhenti menjalani hidup seperti ini. Berjanjilah kau akan meninggalkan kehidupan gelapmu. Demi aku, demi anak kita," tegas Anne sambil meletakkan telapak tangan kanan Thomas pada perutnya.
Thomas mengangguk. "Aku berjanji."
Mungkin inilah saatnya dia mulai meninggalkan segala kehidupan gelapnya. Menyadari bahwa dia sudah tidak sendiri, membuatnya tidak ingin merasakan ketegangan yang mengancam nyawa. Dia masih ingin menjalani hari-hari bahagiannya bersama Anne dan anak-anaknya kelak.
***
Eddy melihat lelaki yang mukanya babak belur di hadapannya. Lelaki itu sudah sempat dihajar habis-habisan oleh Arthur dan Jhonny sebelum Eddy berhasil melerainya.
"Siapa yang menyuruhmu menembak Thomas Scott?" tanya Eddy mulai menginterogasi.
Lelaki itu malah membuang muka, tak ingin menjawab.
"Apa kau dari gangster Lee Bersaudara?" tanya Eddy lagi masih dengan intonasi tegas.
"Kau masih baru di Birmingham?" ucap lelaki babak belur itu, yang akhirnya berbicara setelah sekian pertanyaan yang ditanyakan bungkam.
Eddy terdiam masih memperhatikan lelaki di hadapannya. Lelaki itu kemudian mendekat. "Kau tidak tahu seberapa banyaknya Thomas Scott memiliki musuh. Seluruh Birmingham tahu itu. Kau berniat untuk melindunginya? Kau sama saja dengan polisi lain yang disuapnya."
Eddy menyenderkan punggungnya ke kursi. "Kau salah menilaiku."
***