Birmingham, 1919

Birmingham, 1919
Cinta Lama



Selepas makan siang Anne tidak dapat fokus dengan pekerjaannya. Dia masih memikirkan kedatangan George yang tiba-tiba. Ingin sekali dia meluangkan waktu untuk bertemu dengannya dan mencurahkan segala isi hatinya, tapi entah kapan dan bagaimana caranya dia bisa mencuri waktu dari Thomas dan keluarganya. Jantungnya berdebar, adrenalinnya meningkat. Rasanya seperti sedang berselingkuh.


Tapi entahlah apakah perasaannya terhadap George masih sama atau tidak. Yang jelas dia masih takut jika George akan dibunuh, pada saat ini bukan takut dibunuh oleh kakaknya, William, melainkan suaminya, Thomas. Meskipun dirinya dan Thomas tidak menjalani kehidupan pernikahan yang sebenarnya.


***


Hari ini adalah hari libur. Pada saat libur, anggota keluarga Scott tidak berkumpul. Mereka menjalani aktivitas personalnya masing-masing. Thomas terkadang berburu atau berkuda, sedangkan Anne melukis di balkon.


"Kau tidak pergi?" tanya Anne pada Thomas yang duduk di ruang baca.


Thomas menggeleng. "Tidak. Hari ini aku ada janji bertemu dengan seseorang."


Anne mengernyitkan dahinya. "Siapa?"


"George Lincoln."


Deg!


"Ada urusan apa?"


Thomas menatap Anne lekat. "Bisnis."


Meskipun dia tahu George adalah cinta lama Anne, tapi dia tidak akan mengungkitnya. Biarkan Anne sendiri yang langsung bercerita padanya. Tapi semenjak pertemuan dua hari lalu, Anne tidak bercerita apa-apa.


"Bisnis "bisnis" atau bisnis wiski?" Anne memberi tanda kutip untuk bisnis gelapnya.


"Wiski."


Anne mengangguk.


"Kau? Apa yang akan kau lakukan? Menemaniku menyambut tamu?"


Anne tidak mungkin duduk di antara Thomas dan George. Dia takut tidak bisa menyembunyikan emosinya.


"Aku akan melukis di balkon."


"Baiklah."


Anne pun pergi menuju studionya di lantai dua. Di sana dia menatap cermin besar yang menempel di dinding studio. Perlahan dia mengatur nafasnya. Tak lama dia mendenger suara mobil yang datang. Segera Anne membuka jendela dan berjalan menuju arah balkon untuk melihat siapa yang datang.


Sebuah mobil bentley berwarna abu terpakir di halamannya. Setelah bunyi mesin berakhir, seorang lelaki berkemeja dan celana panjang dengan tampilan casual dan berambut pirang muncul. Lelaki itu menatap ke arah balkon yang di sana terdapat Anne yang berdiri menatap ke arahnya.


George tersenyum. Namun senyuman itu tak dapat Anne definisikan. Tak lama saling bertatapan, George pun masuk ke dalam rumah dan langsung dipersilahkan pelayan menuju ruang kerja Thomas.


"Selamat datang, Tuan Lincoln!" sapa Thomas kemudian saling berjabat tangan.


"Ah, panggil saya George. Mungkin saya lebih muda dari Anda Tuan Scott," kata George sambil membalas jabatan tangan.


"Panggil saya Thomas kalau begitu," Thomas mempersilahkan George duduk di sebrangnya.


Anne keluar dari studionya dan mendekat ke ruang kerja Thomas untuk menguping. Tak terdengar apa-apa dari luar. Nampaknya pintu kayu besar itu terlalu tebal untuk bisa mencuri dengar.


Beberapa lama kemudian seorang pelayan datang menghampiri dengan troli minuman alkohol.


"Permisi Nyonya."


"Biar aku saja."


"Ah, tidak Nyonya. Nanti Tuan menegur saya," tolak pelayan itu dengan halus.


"Ah, rupanya tamu kita sudah datang," ucap Anne sambil tersenyum.


"Bukankah tadi aku menolak untuk duduk di antara kedua lelaki ini? Lalu kenapa tiba-tiba kau datang seperti ini! Stupid!" umpat Anne dalam hati.


"Kau datang untuk wiski yang kami buat bukan?" Anne menuangkan wiski ke dalam gelas kemudian memberikannya pada George terlebih dahulu.


Thomas mulai tidak nyaman melihat pemandangan itu. Tak lupa Anne pun menuangkan segelas untuk Thomas dan segelas lagi untuk dirinya.


George meneguk wiskinya dan mencecap rasanya. "Ya, wiski yang seperti ini."


"Baiklah, berapa barel yang kau perlukan?" tanya Anne, kemudian duduk di seberang Thomas dan George.


'TOK TOK'


Pelayan masuk menginterupsi.


"Maaf Tuan Scott, ada telepon untuk Tuan," katanya.


Thomas meneguk wiski sampai habis, lalu menatap Anne. Sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan Anne dengan George di sana tapi apa boleh buat.


"Excuse me," ucap Thomas kemudian keluar dari ruangan itu.


Tinggalah Anne dan George di ruangan itu. Anne menyimpan gelasnya dengan keras di atas meja, lalu menatap George dengan tatapan kesal.


"Katakan apa maksudmu tiba-tiba muncul di hadapanku seperti ini!" ucap Anne dengan volume suara yang tertahan.


"Aku? Bisnis," ucap George menanggapi Anne dengan menahan segala emosinya.


Anne berdiri. "Bohong!"


George menyimpan gelasnya, kemudian berdiri di hadapan Anne. "Lantas?"


"Aku tidak tahu."


George memegang kedua tangan Anne dan menatap wanita di hadapannya dengan tatapan dalam. "Kau tahu apa maksudku, Anne. Aku datang untuk membawamu."


Anne menghentakkan tangannya. "Terlambat! Aku sudah menjadi istri Thomas Scott! Kini kau bukan hanya akan mati oleh kakakku, tapi oleh Thomas!"


"Aku tidak takut! Aku kini sudah berbeda. Aku memiliki kekuatan sekarang."


'Tap Tap'


Suara langkah kaki terdengar mendekat. Anne segera menjauh dari George. Sebelum menjauh, George sempat membisikkan sesuatu. "Besok jam sembilan pagi di tepi danau dekat sini, aku akan menemuimu."


"Ah, maaf menunggu!" Thomas datang.


George sudah berada di kursinya semula, begitu pun dengan Anne. Thomas memerhatikan perubahan ekspresi Anne yang berubah.


George berdiri. "Baiklah, nanti sekertarisku akan membuatkan surat perjanjiannya untuk kerja sama kita. Saya usahakan dalam minggu ini akan selesai."


George pun berpamitan dan pergi. Thomas menatap Anne yang masih terdiam.


"Ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Thomas.


Anne menggeleng, lalu beranjak dari ruangan itu.


***