Birmingham, 1919

Birmingham, 1919
Time



Anne menggoreskan kuasnya ke atas kanvas sambil matanya sesekali menatap pemandangan di balik kanvas, mencoba untuk menduplikasi pemandangan di hadapannya ke dalam sebuah karya lukis. Dia bisa menghabiskan waktu sepanjang hari untuk melakukan itu. Tapi hanya beberapa jam dia menghirup aroma cat sudah membuatnya pusing.


"Uughh..." Anne segera mencari ember dan memuntahkan makan siangnya.


"Ah... aku sudah tidak tahan!" gerutu Anne, kemudian dia pun beranjak dari studio menuju perpustakaan.


Perpustakaan pribadi yang sengaja dibangun di samping ruang kerja Thomas, agar Thomas bisa tetap merasa bersama Anne ketika Anne asik membaca buku. Anne melihat-lihat koleksi bukunya dan menemukan buku yang belum sempat dia baca berjudul 'How To Understand Your Dog'.


"Aku tidak punya anjing, tapi baiklah..." dengan malas Anne mengambil buku itu kemudian duduk di sofa one seater dengan kaki terlenjang ke kursi stool di hadapannya.


Sampai di halaman ke sepuluh, mata Anne sudah tidak dapat berkompromi lagi. Anne tertidur dengan buku yang masih terbuka di dadanya. Sinar matahari siang menuju sore menerpa wajah Anne melalui sela-sela jendela, membuat wajahnya terasa hangat.


Thomas masuk ke dalam rumah dengan buket bunga yang dibelinya saat perjalanan pulang. Thomas mencari Anne ke studio lukis dan kamarnya, Anne tak dapat dia temukan. Saat pelayan melewatinya, Thomas menghentikan pelayan itu.


"Di mana istriku?" tanya Thomas.


"Tadi siang Nyonya masuk ke ruang perpustakaan dan belum keluar, Tuan," jawab pelayan itu.


Thomas mengangguk kemudian pergi menuju perpustakaan, tempat Anne berada. Dia masuk ke ruang kerjanya kemudian berjalan menyusuri koridor yang dihiasi rak-rak buku tinggi kemudian berbelok di akhir koridor dan melihat sebuah pemandangan yang indah. Seorang wanita dengan rambut merah bergelombang tengah tertidur di sofa dengan sebuah buku di dadanya.


Thomas tersenyum kemudian tanpa mengeluarkan suara menghampiri Anne, lalu duduk di pinggiran sofa. Thomas menyimpan buket bunga yang dia bawa ke meja di sampingnya, kemudian perlahan mengambil buku yang dipeluk Anne. Anne yang merasakan itu perlahan membuka matanya.


"Kau sudah pulang?" tanya Anne tanpa mengubah posisi.


Thomas menatap Anne sambil tersenyum, lalu menyibakan sehelai rambut yang menutupi alis istrinya. "Apa aku membangunkanmu?"


Anne menggeleng. "Hm... aku sudah mulai lemah. Aku tidak kuat berlama-lama melukis, aku tidak menyukai bau cat saat mengandung. Membaca buku pun aku mudah mengantuk. Apa lagi yang harus kulakukan? Aku bosan."


"I'm sorry.."


Anne meraih tubuh Thomas lalu membawanya ke pelukan. Thomas menyenderkan kepalanya ke dada Anne hingga dapat mendengar detak jantung istrinya. Pelukan itu adalah tempat ternyaman yang pernah Thomas rasakan seumur hidupnya.


"Aku ingin kembali bekerja di markas, apa tidak boleh?" tanya Anne masih memeluk Thomas.


"Aku tidak mau mengambil resiko," jawab Thomas.


Anne mengerti kalimat itu adalah sebuah penolakan. ThomasĀ  mengangkat kepalanya lalu menatap Anne. Kedua mata itu bertemu, Thomas menempelkan bibirnya ke atas bibir istrinya dengan lembut. Ciuman pada sore hari di antara rak buku-buku membuat Anne teringat pada masa lalunya dengan George. Namun melakukannya dengan Thomas membuatnya lebih bergairah.


'Kruukkk' suara itu terdengar di antara ke duanya, membuatnya terkekeh.


"Aku lapar," bisik Anne.


Anne menerima bunga itu dengan senang hati, kemudian mencium baunya. Entah kenapa bau lavender dan mawar kali ini membuat Anne pusing. Melihat ekspresi Anne seperti itu membuat thomas dengan refleks menyingkirkan buket bunga itu dari tangan Anne.


Anne menatap Thomas dengan ekspresi meminta maaf. "I'm sorry, I think he doesn't like it," ucap Anne sambil memegang perutnya.


Thomas mengangguk paham. "Haha, ya sepertinya begitu."


Mereka berdua pun keluar dari perpustakaan menuju ruang makan untuk bersiap makan malam dengan bergandengan tangan. Thomas benar-benar memperlakukan Anne dengan hati-hati di masa kehamilannya. Bahkan pada saat melakukan aktivitas malam pun, Thomas terlihat takut membahayakan bayinya.


Anne memegang kedua pipi Thomas dan membuatnya mendongak.


"Lakukanlah seperti biasa, kau tidak akan menyakiti siapapun," tegas Anne meyakinkan Thomas.


Thomas mengangguk kemudian meraup bibir Anne dan bergerak lebih bergairah hingga ranjang yang mereka tumpangi berderit.


***


Lee Bersaudara kembali bergerak dengan bantuan dana dan perlengkapan senjata yang disuplai oleh George. George hanya duduk manis sambil menunggu kehancuran The Blinders. Setelah itu, dia akan kembali ke hadapan Anne dan mengambilnya kembali ke pelukannya.


Pagi yang sibuk di ruang makan keluarga Arthur. Arthur beserta anak dan istrinya.


'TOK! TOK!'


Arthur beranjak dari kursinya kemudian beranjak menuju pintu utama. Dia melihat Thomas berdiri di hadapannya setelah membuka pintu. Arthur mengernyitkan dahinya.


"Tomy? Apa ini tidak terlalu pagi?" tanya Arthur heran.


Thomas masuk ke dalam rumah kakaknya. "Ada yang ingin aku bicarakan."


Arthur kembali menutup pintu. Kemudian membawa Thomas menuju ruang makan. "Ayo kita sarapan!"


Thomas duduk kemudian menuangkan kopi ke dalam cangkir, di samping kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Arthur.


"Aku akan pergi ke markas Lee Bersaudara," kata Thomas setelah meneguk minumannya.


"Uhuk! Uhuk!" Arthur tersedak makanannya. "Kau mau bunuh diri?"


Thomas menggeleng. "Aku akan gencatan senjata dengan Lee Bersaudara."


***