Birmingham, 1919

Birmingham, 1919
Pertemuan



Anne masuk ke dalam rumah dan Bibi Julie menyambutnya. “Makan malam sudah siap, Nona.”


“Baik,” Anne langsung berjalan ke ruang makan, dan pemandangan seperti tadi pagi terlihat. Hanya saja dengan menu yang berbeda dan pakaian yang dikenakan William dan Charlotte yang sudah berganti.


Raut muka William sudah lebih santai dibandingkan pagi tadi. Rupanya Charlotte sudah melalukan tugasnya sebagai kekasih dengan baik. Anne mengacungkan gelas winenya pada Charlotte, tanda terima kasih. Charlotte yang paham tersenyum simpul.


“Ahm…” William berdeham.


Anne dan Charlotte lanjut memakan makan malamnya. Makan malam selesai dan Anne bersiap untuk kembali ke kamarnya.


“Tunggu, Anne. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”


Anne kembali duduk kemudian menunggu apa yang akan William ucapkan.


"Kini sudah saatnya kau bergabung ke dalam bisnis keluarga," ucap William.


Anne bingung meresponnya, selama ini William melarangnya terlibat ke dalam bisnis keluarga, lalu tiba-tiba dia berubah pikiran seperti itu. "Well, what a surprise."


"Tapi dengan cara yang berbeda," tambah William, dan ekspresi seriusnya kembali muncul.


"Maksudmu?"


"Kemarin, kau tahu aku dan The Blinders bernegosiasi dan pada akhirnya aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti tawaran dari The Blinders."


Perasaan Anne berubah menjadi perasaan yang tidak enak. "Tawaran apa?"


"Pernikahan politik."


Anne masih belum paham.


"Dengan pernikahan ini, dua kubu akan berdamai dan tak akan ada lagi pertumpahan darah. The Blinders tidak akan mengacaukan pasar kita lagi. Dan semua akan kembali damai seperti sedia kala. Tentu itu lebih baik bukan?" ucap William.


"Tentu. Tapi dengan siapa kau akan menikah? Bagaimana dengan Charlotte?" tanya Anne, sambil melirik Charlotte yang ikut tegang mendengar perkataan William.


"Bukan aku yang menikah."


Charlotte bernafas lega, namun tidak dengan Anne. Nyawanya seakan dicabut dari jasadnya.


"Kau akan menikah dengan Thomas Scott, pimpinan The Blinders," ucap Wiliam dengan ketir.


Anne bangkit sembari menggebrak meja. 'BRAK!'


"Kau mau menjualku pada mafia itu? Kau tega sekali!" teriak Anne.


Anne menatap kesungguhan dari kedua bola mata William yang hitam legam.


"Kau harus menerima perjodohan ini, Annie! Ini demi perdamaian, tidak akan ada pertempuran darah lagi setelah ini. Aku janji," ucapnya, tegas.


Semua emosi Anne bercampur aduk sehingga dia tak tahu harus menjawab apa. Marah, sedih, sakit hati, tak terima bercampur menjadi satu. Tapi dia tahu, dia tidak akan bisa membantah apa yang kakaknya perintahkan. Setelah kedua orangtua mereka meninggal, dialah satu-satunya orang yang harus Anne patuhi di dunia ini. Anne jelas menolak perjodohan ini.


"Bagaimana dengan George?" teriaknya dalam hati.


Meski kakaknya bilang George adalah lelaki lemah untuk Anne. Tapi Anne menyukai kelembutan hatinya. Kini, kakaknya akan menjodohkan dia dengan seorang ketua mafia dari Birmingham yang sudah jelas dari statusnya sebagai pimpinan mafia, dia tidak akan memiliki kelembutan hati.


"Sebelum aku mengatakan bersedia, aku ingin bertemu lebih dulu dengan lelaki itu," ucapnya pada akhirnya. William pun mengangguk.


Anne pergi dari ruang makan dengan kesal kemudian masuk ke dalam kamar. "Aaarrkk!" teriaknya.


"Thomas Scott, akan aku ingat nama itu sebagai perenggut kebahagiaanku!" gumam Anne.


Saat dia teringat pada George, barulah dia meneteskan air matanya.


***


"Sayang, kau sungguh akan menyerahkan adikmu pada The Blinders?" ucap Charlotte dari balik punggung William, sambil mengelus punggung kekasihnya yang bidang.


"Apa kau yakin Anne akan bahagia bersama Thomas?"


William termenung. Adiknya adalah satu-satunya tanggung jawab berharga yang diberikan kedua orangtuanya padanya. Jika tidak mengikuti penawaran itu pun, dia khawatir selamanya nyawa Anne akan terancam. Meskipun dia tidak yakin Anne akan bahagia bersama Thomas, tapi dia yakin Anne akan aman berada dalam pengawasan Thomas.


***


Charlotte berada di kamar Anne malam ini. Mereka berdua memakai dress malam dengan riasan terbaiknya. William mengundang Thomas makan malam di rumah ini. Ini adalah pertemuan pertama mereka berdua.


"Anne kau baik-baik saja?" tanya Charlotte memegang pundak Anne dan menatapnya melalui kaca meja rias.


Anne yang duduk di meja rias termenung.


"Bagaimana aku baik-baik saja, aku akan dijual oleh kakakku sendiri kepada musuh."


"Aku mengerti, tapi mungkin kakakmu bermaksud baik."


"Hem.. bermaksud baik? Oh ya, untuk menyelamatkan bisnis tentunya," sinis Anne.


"Bukan itu. William berpikir, jika kau berada di bawah pengawasan Thomas, kau akan aman," Charlotte berusaha mengubah situasi.


"Mungkin tidak seharusnya aku terlahir dari keluarga ini. Jika kakakku bukan seorang mafia, aku tidak akan pernah terancam."


"Bisa jadi kau akan bahagia bersama Thomas."


"Bagaimana bisa aku bahagia dengan seseorang yang tak kucintai? Aku lebih baik kawin lari dengan George..."


"Akh!" Charlotte terkejut. "Apa kau masih berhubungan dengan George?"


Anne menatap Charlotte dan mengangguk.


"Anne, jika kakakmu tahu hal itu, George bisa terancam! Buang jauh-jauh pikiran burukmu untuk kawin lari bersama George! Kalian akan tertangkap sejauh manapun kalian pergi. Dan kau tau endingnya, nyawa siapa yang akan melayang. Tentunya bukan nyawamu."


Anne menghela nafas berat.


'TUK TUK TUK!'


Bibi Julie muncul dari balik pintu.


"Nona-nona, makan malam sudah siap dan tamu sudah datang," ucap Bibi Julie.


"Baik," kata Charlotte. "Ayo Anne."


Anne menatap dari balik gorden jendela, terlihat ramai sekali di luar. Dua kubu mafia dengan senjata yang sudah siap, berjaga dengan siaga di halaman rumahnya.


Charlotte turun lebih dulu, kemudian disusul Anne. Terlihat William dan seorang lelaki dengan potongan rambut khas The Blinders dengan jas berwarna biru gelap. Ekspresinya begitu tenang, malah William yang terlihat tegang. Namun dari ketenangan itu, terasa aura hitam pekat dari tatapannya. Pernahkah kalian naik ke atas kapal laut? di saat lautan begitu tenang, maka bersiaplah badai akan datang. Itulah yang Anne rasakan saat ini.


"Ini Charlotte, kekasihku," ucap William kemudian disambut anggukan kepala Thomas.


"Dan ini adikku, Maria Anne," ucap William.


Anne menatap Thomas dengan berani. "Aku tidak akan terlihat lemah di matamu," ucap Anne dalam hati.


Thomas tersenyum singkat kemudian mengulurkan tangannya pada Anne. Anne perlahan membalas uluran tangan itu, Thomas mencium punggung tangan Anne yang memakai sarung tangan berbahan brukat.


"Thomas Scott," ucapnya dengan suara yang dalam, bagaikan gemuruh guntur dari balik bukit.


Anne menelan ludahnya.  Kharisma Thomas begitu kuat, namun tetap Anne belum tertarik pada lelaki di hadapannya itu.


"Mari kita ke ruang makan!" William dan Charlotte berjalan lebih dulu ke ruang makan.


Anne dan Thomas masih saling menatap, kemudian Thomas mempersilahkan Anne berjalan lebih dulu di hadapannya.