Bestfriend ‘Til Jannah

Bestfriend ‘Til Jannah
Masalah Muncul



Tok, tok, tok!


Keduanya menoleh ke arah kaca mobil yang terletak di dekat Zhara dan langsung mendapati sosok pria tinggi yang sebenarnya tidak asing lagi untuk keduanya.


Zhara meringis dan mencoba menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya, berharap pria itu tidak bisa melihatnya. Tetapi, Zhorif malah membuka kunci mobilnya dan membiarkan pria itu membuka pintu Zhara.


"Turun," perintahnya dengan wajah datar dan nada tak terbantahkan.


Zhara melirik ke arah Zhorif untuk sejenak dan kembali menatap pria itu dengan takut-takut sebelum keluar dari mobil Zhorif.


"Lo nggak mau bicara sama gue?" tanya pria itu seraya menatap Zhorif yang masih tak berkutik juga.


Zhorif menghela napasnya gusar sebelum meraih sebuah ransel yang tak lain ialah milik Zhara yang diletakkannya di belakang dan setelahnya turun dari mobilnya untuk menghampiri pria itu.


Zhorif menyodorkan tas tersebut kepada Zhara. "Lho, kok, bisa ada di Mas?" tanya gadis itu keharanan, tetapi setelahnya ia langsung tersenyum dan memeluk tas itu erat-erat. "Makasih, ya, Mas!" ujarnya.


Pria tadi menyerahkan kunci mobilnya yang ia simpan di saku kemejanya dan memberikannya kepada Zhara. "Masuk ke mobil Kakak sekarang," perintahnya yang membuat senyuman Zhara langsung luntur.


"Aku nggak mau nginep di rumah Kakak," tolak Zhara setelah terdiam sejenak.


"Kakak nggak minta kamu nginep. Kakak cuma mau bicara sebentar sama dia," ujarnya seraya melirik Zhorif sinis.


Zhara menautkan alisnya bingung. "Terus kenapa Kakak suruh aku masuk mobil? Aku kan, bisa masuk ke rumah aja..." cicitnya takut-takut. "Hm ... ini udah malem, besok aku sekolah. Kakak ngomelin akunya besok aja, ya. Love you Kak Zafran!" Gadis itu meninggalkan keduanya setelah mengecup singkat pipi kakak laki-lakinya dan bergegas mengacir masuk ke dalam rumah.


Pada akhirnya, kedua pria itu saling berhadapan dan bertatapan. Zhorif menghela napasnya gusar. "Gue nggak perlu bilang kalau ini sebuah kesalah pahaman, kan? Lo udah tau..." Zhorif tertawa garing.


"Kenapa harus adek gue?" balas pria itu dengan tangan yang bersidekap.


Zhorif mengangkat kedua bahunya seraya menggeleng pelan. "Gue bahkan baru tau kalau dia adek lo," balasnya.


"Lo tau ini nggak masuk akal, kan? Gue bisa dengan mudahnya berpikir kalau lo sengaja ngedeketin adek gue demi ngedapetin Alesha kembali," ujar pria bernama Zafran itu.


"Terserah lo mau berpikiran apa, itu bukan masalah buat gue. Lagipula, kalau memang lo bisa ngehancurin perjodohan ini, gue nggak bakalan segan berterima kasih sama lo," ujar Zhorif sebelum masuk kembali ke dalam mobilnya dan melajukannya pergi, meninggalkan Zafran yang sedang bertengkar dengan emosinya yang mulai berapi-api.


Di keesokkan harinya. Zhara terbangun cukup pagi dan berniat untuk bergegas ke sekolah demi menemui sahabat-sahabat laknatnya yang selalu ia rindukan itu.


Seperti biasa, pagi ini Zhara diantar oleh supir pribadi Hasan-ayahnya-untuk mencapai ke gerbang sekolah. "Makasih, ya, Pak!" ujar Zhara dengan penuh semangat yang untuk sekian kalinya kembali mengejutkan pria yang berumur cukup tua itu.


Zhara berjalan dengan langkah kaki yang riang seraya bersenandung kecil. Sesampainya, ia di dalam kelas, Zhara langsung menghampiri Aufa yang sedang mendengarkan musik menggunakan airpod dan dengan posisi kaki terangkat ke atas meja.


Aufa melirik singkat pada tangan gadis yang bergerak-gerak itu sebelum kembali menikmati musiknya. Setelah beberapa detik kemudian, Aufa langsung melepaskan airpod-nya dan menarik pergelangan tangan Zhara sehingga gadis itu terpaksa mendudukkan bokongnya di kursi sebelah Aufa. "Lo nggak dapet dari cowok-cowok di jalan yang tiba-tiba ngasih cincin ke elo, kan?" tanyanya khawatir. Tentu saja, gadis itu khawatir dengan sebab-akibat yang jelas. Pasalnya, Zhara itu terlalu polos dan terkadang kepolosannya itu bisa mencapai ke tingkat bodoh. Pernah suatu ketika, di sebuah supermarket ada seorang pria yang mendatanginya dan memintanya untuk pergi ke suatu tempat bersama dengan embel-embel pria itu akan membelikannya cake kesukaannya. Dan, kalian bisa berpikir sendiri yang selanjutnya terjadi, tanpa berpikir panjang Zhara langsung menyetujuinya dan hampir saja mereka pergi bersama jika saja waktu itu Aufa dan Asyraf tidak melihat mereka berada di basement.


Zhara tersenyum sendiri seraya memutar ulang rekaman otak sederhananya yang entah mengapa bisa berjalan lancar jika sudah berhubungan dengan Zhorif. "Fa, lo inget gue pernah ketemu sama cowok di masjid, kan?" tanyanya yang membuat Aufa terdiam dan mengingat-ingat.


"Cowok yang lo sebut-sebut jodoh lo itu?" tanya Aufa memastikan.


Zhara menganggukkan kepalanya dengan antusias. "Iya! Lo tau, nggak, ternyata cowok itu dijodohin Mami sama gue!" Zhara menjerit dengan suara yang tertahan seraya memukul ringan lengan atas sahabatnya yang terdiam tak berkutik.


"Bentar ... jadi kemaren lo cabut duluan gara-gara ketemuan sama dia?" tanya Aufa seraya menatap Zhara.


Zhara menganggukkan kepalanya. "Dan ... gue dilamar, Fa! Lo tau, nggak, dia itu romantis banget!" ungkapnya antusias.


"Hah? Seriusan lo?! Kok, cerita hidup lo mirip sama drakor-drakor yang gue tonton, sih?" Angin yang entah darimana datangnya membuat Aufa ikut masuk ke dalam ceritanya dan ikut histeris dan bergembira bersama.


"Gue nggak percaya kalau temen gue bakal nikah bentar lagi!" ujar Aufa seraya mencubit pipi Zhara gemas.


"Hah? Lo mau nikah?!" Farel yang entah darimana datangnya, langsung membulatkan matanya terkejut setengah mati. Kepalanya tergerak untuk mencari keberadaan Asyraf yang baru saja hendak memasuki kelas. "Syraf! Masa katanya, si Zhara-hmppphhh..." Aufa membekap mulut Farel seraya tertawa cengingisan ke arah Zhara dan Asyraf yang menatap mereka penuh keheranan.


"Kenapa lo?" tanya Asyraf heran, setelah selesai meletakkan ranselnya di atas meja.


Aufa melemparkan tatapan tajamnya ke arah Farel dan mulai melakukan aksi telepati yang selalu mereka lakukan bersama. Setelahnya, Farel menggeleng seraya terkekeh. "Nggak ada," ujarnya seraya merangkul bahu Asyraf yang malah semakin kebingungan dengan tingkah aneh Farel.


Asyraf melepas rangkulan Farel dan mendekati Zhara yang sejak tadi hanya diam memerhatikan mereka. "Lo kemaren kemana? Bukannya lo sendiri yang request mau nonton Frozen 2?" ujar Asyraf.


Zhara menatap Asyraf dengan mata yang berkejap, ketika mulutnya baru saja hendak bergerak untuk menjawab dengan jujur, kakinya tiba-tiba disenggol oleh Aufa. Zhara menatap Aufa yang menggeleng-geleng dengan kuat seraya melakukan pose mulut yang di risleting. Sayangnya, otak sederhana Zhara mulai tidak berfungsi dengan baik dan membuat gadis itu kebingungan dan meminta bantuan dari Farel yang ternyata telah membuat huruf X menggunakan kedua tangannya, lalu melakukan pose pisau yang akan menebas leher.


"Ra!" panggil Asyraf yang merasa geram karena gadis itu tak kunjung menjawabnya.


"Gue pergi makan malem!" jawab Zhara spontan yang langsung membuat bahu Aufa dan Farel sontak melemas seketika.


-bersambung-


Komennya mana, nih?


-Charlies_N-