
"Makan malem?" Asyraf menautkan kedua alisnya yang hitam dan lebat.
"Abang lo pasti kangen banget sampe bikin acara makan malem kayak gitu. Selain cakep, Kak Zafran juga sweet, ya?!" lanjut Aufa seraya melempar tatap ke arah Farel seakan meminta bantuan.
Farel menganggukkan kepalanya dan merangkul bahu Asyraf seraya tersenyum lebar. "Lo niat bolos, nggak, hari ini?" tanyanya seraya menaik-turunkan kedua alisnya.
Asyraf tampak baru saja hendak mengiyakan, tetapi tatapannya terlempar ke arah Zhara. "Lo ikut?" tanyanya memastikan.
Zhara tampak berpikir, ingin rasanya ikut bergabung dengan ketiga sahabatnya itu, namun sayangnya, ia tidak bisa ... mengingat, kemungkinan besar ibunya mengetahui hal ini. Tetapi, sesungguhnya yang ia takuti bukanlah kemarahan ibunya, melainkan pandangan Zhorif terhadap dirinya karena mungkin saja ibunya akan membocorkan perilaku-perilaku buruknya kepada pria itu.
"Nggak, deh ... gue mau belajar," ujar Zhara seraya meringis jijik dengan ucapannya sendiri. Belajar? Sejak kapan itu ada di kamusnya?
"Kalau gitu, gue juga mau belajar," ujar Asyraf, lalu mendudukkan dirinya di bangku yang terletak di depan meja Zhara.
"Yaudah, terserah lo berdua, deh! Fa, ikut gue cabut, kuy!" Farel bergegas meraih ranselnya, begitu juga dengan pergelangan tangan Aufa yang ditariknya tanpa aba-aba.
Aufa pun hanya bisa menatap Farel kebingungan, keduanya pergi tanpa berniat pamitan lagi dengan Zhara dan Asyraf yang juga menatap keduanya keheranan. "Duduk sini, Ra," perintah Asyraf seraya menepuk bangku kosong di sebelahnya.
Zhara mengangguk menurut dan pindah satu bangku ke depan. Asyraf menatap Zhara dengan tangan yang mencangkup salah satu pipinya sendiri untuk dijadikan topangan. "Kenapa tiba-tiba mau belajar? Hari ini, kan, ada pelajaran Sejarah," ujar Asyraf, penasaran.
Zhara mengendikkan bahunya seraya tersenyum lebar. "Terus apa masalahnya sama Sejarah?" tanyanya heran.
"Bukannya lo sendiri yang bilang kalau Sejarah itu nggak guna. Lo lupa sama prinsip hidup lo sendiri? Yang lalu, biarlah berlalu..." Asyraf tersenyum melihat wajah kebingungan Zhara.
"Gue pernah ngomong gitu, ya?" tanya Zhara kebingungan, yang langsung dibalas anggukkan dari Asyraf.
Mereka mulai menghentikan pembicaraan ketika melihat Pak Warto, sang guru sejarah mulai memasuki kelas. Tetapi, mereka dibuat terkejut ketika melihat Aufa dan juga Farel yang kini berada di dalam jeweran guru killer itu.
"Teman kalian yang ada di depan ini adalah cerminan kehancuran bangsa ini!" Suara lantang Pak Warto membuat bulu kuduk Zhara mulai meremang. Pak Warto memukul pelan kepala Farel menggunakan gulungan buku yang ia selipkan di ketiaknya. "Mau bolos, malah ketahuan. Gendeng!" ujarnya yang sontak mengundang tawa murid sekelas.
Pak Warto memutar kepalanya, begitu juga dengan matanya demi menemukan sosok yang ia cari. Ketika matanya menangkap Zhara dan juga Asyraf yang duduk di pojokkan, gulungan bukunya terangkat dan menunjuk ke arak mereka. "Tumben, toh, ndak ikut gabung?" sindir pria paruh baya itu.
Zhara menatap Asyraf yang hanya termenung diam seolah bingung hendak menjawab apa. "Emangnya boleh, Pak?" tanya gadis itu, mewakili suara keduanya.
Mata Asyraf membulat dan menatap Zhara tidak percaya. Sungguh, ia merasa menyesal karena membiarkan gadis itu mewakili suaranya.
"Boleh, toh!" balas Pak Warto tampak antusias dan kesenangan.
Zhara pun menganggukkan kepalanya dan bangkit dari duduk, memaksa Asyraf untuk memajukan bangkunya agar gadis itu bisa lewat. Tinggal beberapa langkah lagi menyusul keberadaan Aufa dan Farel, Zhara tiba-tiba memutuskan untuk memundurkan langkahnya.
"Lho?! Kenapa mundur?" tanya Pak Warto dengan wajah pias.
"Nggak jadi, deh, Pak!" ujar Zhara dengan santai. Alasan yang membuatnya kembali adalah karena ia baru mengingat bahwa hari ini niatnya datang ke sekolah memang benar-benar untuk belajar.
"Kamu ndak bisa mengubah keputusanmu begitu saja," ujar Pak Warto.
"Bisa, kok, Pak...." balasnya, "...nih, lagi diubah!" lanjutnya dengan polos.
"Ndak bisa!"
"Iya," sahut Pak Warto tanpa memandang ketiganya dan hanya fokus pada buku yang kini tengah dibacanya.
Zhara dan kedua sahabatnya itu pun pergi keluar dari kelas. Zhara bersenandung kecil seraya melompat-lompat riang, menjadikan tubuh Aufa dan Farel sebagai topangannya.
"Kayaknya mau hujan, gue mau balik, deh!" ujar Zhara memutar balik arah jalannya. Baru selangkah berjalan, tubuhnya langsung ditarik paksa oleh Aufa dan Farel. "Eh? Kenapa, nih?!" tanya Zhara kebingungan.
"Gue butuh penjelasan!" tuntut Aufa dengan tegas yang langsung dibalas dengan anggukkan setuju dari Farel.
"Penjelasan apa?" tanya Zhara.
"Tentang cowok yang mau dijodohin ke elo!" jelas Aufa dengan nada geram.
Zhara pun membuka mulutnya, membentuk huruf 'o' sebelum tersenyum malu-malu sendiri.
"Namanya siapa, sih?" tanya Aufa.
"Mas Zhorif," jawab Zhara dengan malu-malu.
"Mas?!" Aufa dan Farel meninggikan suara mereka secara bersamaan.
Farel pun mendekatkan diri ke arah Aufa untuk berbisik. "Fa, si Zhara manggil cowok itu pake sebutan 'Mas'," bisik Farel yang membuat Aufa mengangguk setuju. "Gue punya firasat buruk, deh," ujar Farel yang lagi-lagi disetujui oleh Aufa.
Aufa dan Farel pun mengikuti Zhara yang kini sudah berjalan lebih dulu menuju halaman belakang demi menemui Pak Ali, pria paruh baya yang ditugaskan sekolah untuk bersih-bersih. "Pak Ali!" panggil Zhara seraya mengangkat tangannya ke atas.
Pak Ali yang kala itu sedang menyapu taman belakang menggunakan lidi pun langsung menoleh dan melemparkan senyum hangatnya. "Kenapa, Neng? Ada tugas lagi? Bapak, mah, siap!" ujar Pak Ali dengan semangat.
Zhara memundurkan langkahnya, tangannya meraih dompet kulit milik Farel yang ia masukkan ke dalam kantung celananya. Gadis itu mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu dan memberikannya kepada Pak Ali. "Saya titip WC-nya, ya, Pak!" ujar Zhara sebelum melenggang pergi, meninggalkan kedua sahabatnya yang ternganga di tempat.
"Ra! Sisa duit gue nggak banyak, lho!" protes Farel.
Zhara pun menghentikan langkahnya dan mengecek isi dompet Farel kembali. "Ntar gue ganti," ujarnya santai sebelum mengembalikan dompet tersebut ke pemilik aslinya.
"Lo mau kemana?" tanya Aufa ketika melihat Zhara hendak meninggalkan mereka berdua.
Zhara tampak mengernyit kebingungan. "Entah! Gue cuma ngebiarin kaki gue berjalan," jawabnya.
"Gimana kalau ke mall aja. Kita shopping bareng!" ajal Aufa antusias.
"Ngapain? Males gue," balas Zhara.
"Dih! Lo, kan, udah mau nikah, seharusnya lo siapin barang-barang rumah tangga, dong!" paksa Aufa.
"Emang harus, ya?" tanya Zhara merasa ragu.
-bersambung-