Bestfriend ‘Til Jannah

Bestfriend ‘Til Jannah
OTW Nikah



"Apa-apaan?! Nggak! Pokoknya, sampai mati pun Kakak nggak akan setuju kamu nikah sama dia!"


Zhara memutar bola matanya malas, lalu berjalan melewati Zafran seakan pria itu adalah angin lewat.


"Zhara, kamu nggak mau nurut sama Kakak lagi?" Pertanyaan Zafran membuat langkah kaki Zhara terhenti. Gadis itu menoleh dengan ekspresi wajah yang bimbang. "Zhorif itu teman dekat Kakak pas kuliah. Kakak kenal dia jauh lebih lama dari kamu dan Kakak juga tau kalau Zhorif nggak mungkin jatuh cinta sama kamu secepat ini!"


"Kakak apaan, sih?!" Zhara mengerutkan dahinya tak suka. Matanya melirik ke arah Mami, Papi, dan kakak iparnya singkat. "Aku nggak tau ya, Kakak punya masalah apa sama Mas Zhorif, aku juga nggak peduli, tapi Kakak nggak seharusnya nyangkut-pautin masalah pernikahan aku sama konflik yang terjadi di antara kalian!"


Zafran syok. Tentu saja karena perubahan sikap adik perempuannya yang drastis. Sejak kecil, Zhara sama sekali tidak berani untuk membantahnya, tapi sekarang? Kalian bisa melihatnya sendiri.


"Ini bukan masalah konflik atau apalah itu namanya! Ini masalah kamu, yang akan menikah dengan laki-laki berumur 10 tahun lebih tua dari kamu!" Zafran membentak sang adik untuk yang pertama kalinya.


Hal itu sontak membuat hati Zhara mencelos. Ia tidak biasa diperlakukan sekeras ini oleh orang lain, termasuk keluarganya sendiri. "Kakak nggak usah ikut campur urusanku. Mami sama Papi aja nggak ribet!" Zhara memberengut sebelum berlari masuk ke kamarnya dengan pintu yang dibanting.


Zafran menghela napasnya gusar. Ia memberikan tatapan penuh arti ke kedua orangtuanya sebelum berkata, "Mi, Pi ... aku nggak masalah siapapun itu, asal bukan Zhorif."


Erna menggelengkan kepala, menolak. "Apa yang dikatakan Zhara ada benarnya, Zafran," ujarnya, "kamu nggak bisa menyangkutpautkan masalah masa lalumu dengan urusan percintaan adikmu. Sudah saatnya kamu membuka lembaran baru, lagipula Nak Zhorif nggak seburuk itu."


Suami Erna—alias papi Zafran—menganggukkan kepalanya setuju. "Kamu sudah memenangkan pertandingan itu, Nak. Ralat! Zhorif bahkan sudah rela mengalah untuk kamu."


...***...


"Mas Zhorif..."


^^^"Wa'alaikumsalam. Kenapa?"^^^


"Kak Zafran marah-marah."


^^^"Sudah saya tebak."^^^


"Aku takut nggak jadi nikah sama Mas."


^^^"Ini hari minggu. Kamu ada jadwal?"^^^


"Nggak ada, Mas. Memangnya kenapa?"


^^^"Mau ke rumah sakit?"^^^


"Aku otw sekarang! See you soon, Mas!"


tit!


Rasa sedih yang sebelumnya menimpa hati Zhara tiba-tiba terangkat begitu saja. Ia segera bangkit dari posisi tidurnya, kemudian mulai memilah pakaian-pakaian terbaiknya untuk ia pakai ke rumah sakit, menemui calon suaminya yang baru beberapa jam tak ditemuinya.


Zhara tersenyum puas dengan dress merah muda pastel polos selutut yang dipakainya. Ia mengepang samping rambutnya, kemudian memasang anting berbentuk garis di tindikkan telinganya. Zhara tak lupa pula untuk menyemprotkan parfum beraroma stroberi kesukaannya sebagai langkah terakhir, sebelum meraih tas selempangnya dan keluar dari kamar.


"Mami, Papi, aku keluar sebentar, ya," pamitnya mengecup pipi kedua orangtuanya singkat, mengabaikan kehadiran Zafran yang hanya bisa menatap kepergiannya dalam diam.


Zhara memesan taksi B**luebird melalui aplikasi Grab, yang kemudian mengantarnya pergi menuju ke rumah sakit, tempat dimana Zhorif bekerja. Sesampainya ia di depan pintu kaca sensor buka-tutup otomatis, Zhara bergegas membayar ongkos bepergiannya, sebelum melangkah tergesah-gesah menuju ke ruangan Zhorif.


Cklek!


"Mas..." cicitnya sembari mengintip dari cela pintu.


Zhorif yang kala itu sedang beristirahat tidur di kursi putar pun langsung membuka kedua matanya. "Kamu naik apa ke sini?" Zhorif memeriksa arloji di tangannya, merasa kaget dengan waktu amat sebentar yang Zhara gunakan untuk sampai ke lokasi.


"Udah makan siang?" Zhorif mengeluarkan pertanyaan baru setelah pertanyaan yang sebelumnya telah terjawab.


Zhara menggeleng pelan dengan kepala yang tertunduk sedih. Ia jadi ingat kejadian beberapa waktu lalu. Seharusnya, perdebatan yang terjadi di antaranya dan Zafran menjadi acara makan siang yang tentram bersama keluarga. Namun, sayang, mereka malah menghabiskan waktu untuk bertengkar dan mengurungkan niat untuk makan bersama.


"Suka bento?" tanya Zhorif.


Zhara mengangguk dengan cepat. Ia tidak bohong, ia memang sangat menyukai makanan-makanan yang berasal dari negara Jepang. Menurutnya, bumbu mereka sangat pas dengan cita rasa yang ia miliki.


"Baguslah..." Zhorif bangkit dari kursinya, melepas jas putih yang dipakainya, kemudian menggantungnya di punggung kursi. "Di sebelah ada resto bento, kita bisa makan siang di sana," jelasnya.


Zhara manggut-manggut setuju dan mengekori Zhorif yang telah berjalan lebih dulu darinya. Zhara mendelik kesal setiap kali pasien-pasien perempuan menatap calon suaminya dengan penuh kekaguman, meskipun Zhara akui bahwa Zhorif memang pantas mendapatkannya.


Bugh!


Zhara meringis ketika jidatnya bertabrakkan dengan punggung Zhorif yang tiba-tiba berhenti berjalan.


"Kenapa jalan di belakang?" tanya pria itu keheranan. Pasalnya, Zhara sebelumnya sangat jarang melakukan tindakan yang seperti ini, bahkan biasanya Zhara tak segan berjalan tepat di sampingnya, sambil memeluk lengannya pula. Meskipun melanggr peraturannya, Zhorif akui bahwa ia mulai terbiasa dengan tingkah Zhara.


Pada akhirnya, Zhara memajukan langkahnya, berjalan berdampingan dengan Zhorif hingga mereka sampai ke tujuan.


"Jadi, kamu udah cerita sama keluarga kamu?"


Zhorif membuka pembicaraan setelah mereka selesai memesan makanan yang hendak mereka santap.


Zhara menganggukkan kepalanya. "Aku terlalu antusias sampai lupa kalau Kak Zafran kurang suka sama Mas Zhorif..."


Zhorif terkekeh geli ketika melihat gadis remaja yang duduk di hadapannya itu mengembungkan pipi kesal.


"Terus kamu mau saya bagaimana?"


Zhara mengernyitkan dahinya bingung, merasa tidak benar-benar mengerti dengan pertanyaan yang diberikan Zhorif untuknya.


"Apa saya harus memohon sama kakak kamu untuk menikahi kamu?" Kini Zhorif memperjelasnya. Namun, entah mengapa, Zhara merasa bahwa nada bicara Zhorif agak berbeda. Apa itu perasaannya saja atau Zhorif memang enggan berusaha untuk mendapat persetujuan dari Zafran untuk menikahinya?


"Emangnya Mas nggak bakal ngelakuin itu?" tanya Zhara dengan ragu, balik.


Zhorif diam sejenak, tampak menimbang-nimbang. Namun, reaksinya itu malah membuat Zhara sakit hati, merasa seakan bahwa Zhorif tidak benar-benar memiliki keingingan yang kuat untuk menikah dengannya.


"Nggak," jawabnya yang disertai oleh sebuah gelengan kepala.


Zhara menatap Zhorif syok. Ia mencelos mendengar jawaban yang diberikan pria itu hingga rasanya ia sangat ingin menangis di detik itu juga.


Zhorif tersenyum tipis, merogoh ponselnya, kemudian menyodorkannya ke Zhara, bermaksud untuk menyuruh gadis itu membacanya.


^^^Zafran:^^^


^^^Kalau lo sampai bikin adek gue sedih setelah nikah nanti, lo mati di tangan gue, Rif.^^^


Zhara mengangkat pandangannya untuk menatap Zhorif, bibirnya agak sedikit terbuka karena kaget. Ia tidak menyangka bahwa kakaknya akan menyetujui masalah ini dengan begitu mudah.


"Besok, sepulang sekolah, Mama yang akan jemput kamu untuk fitting baju. Kalau saya ada waktu senggang, saya akan menyempatkan diri untuk hadir," jelas Zhorif, "saya benar-benar berniat untuk menikahi kamu. Jadi, tolong jangan berpikir yang aneh-aneh."