
Zeeana Shaquila Mahesa adalah seorang wanita cantik berusia 28 tahun yang berprofesi sebagai seorang dokter gigi spesialis anak di suatu klinik besar. Semestinya hari ini sama saja dengan hari biasanya, yaitu dipenuhi oleh kesibukan. Namun, karena kakak perempuannya menikah di Bali, ia mau tak mau harus mengambil cuti dan berganti kerja menjadi asisten bundanya yang terlihat paling sibuk di antara anggota keluarga yang lain.
Zeeana menengadah dan mengipas matanya menggunakan tangan. Padahal, ia tadi sudah sangat senang karena berhasil menahan air mata ketika pembacaan ijab kabul, tetapi sekarang, ketika resepsi sedang dilangsungkan, air matanya malah lolos begitu saja.
Mata indah Zeeana menyorot lurus ke depan menuju ke arah Freya yang terlihat begitu cantik menggunakan gaun pernikahannya. Zeeana merasa senang untuk Freya karena pada akhirnya, kakak kesayangannya itu berhasil menemui dan menikah dengan pujaan hatinya, Ricky.
Sebuah tangan dengan tisu tiba-tiba terulur ke arahnya. Lantas saja Zeeana langsung berhenti menangis dan menoleh ke samping. Rupanya, sosok itu ialah Muhammad Azriel Kareem. Pria yang usianya lebih muda empat bulan dari Zeeana dan merupakan sahabat wanita itu sejak pertama kali menduduki bangku sekolah dasar.
“Nangis aja, ntar gue tutupin kalau maskara lo luntur.”
Zeeana benci mendengar nada bicara yang digunakan oleh pria itu. Alasannya karena itu membuat Zeeana semakin melemah dan tidak kuasa menahan air matanya. Alhasil, wanita itu pun menangis di kursi hingga bahunya bergetar.
Azriel tersenyum tipis melihat Zeeana yang menangis seperti anak kecil. Tangannya mulai bergerak maju untuk mendekati bahu Zeeana dan berniat untuk memberinya tepukan pelan. Namun karena teringat sesuatu, Azriel pun lekas menarik tangannya menjauh dari wanita itu.
“Maskara gue gimana, El? Aman, nggak?”
Usai puas menghabiskan stok air matanya, Zeeana kembali menatap Azriel dengan mata yang berkaca-kaca dan bibir yang maju beberapa sentimeter.
“Cantik, kok.”
Pujian Azriel berhasil membuat Zeeana berdecih sekaligus terkekeh geli. Pria itu memang terkenal akan gombalan mautnya. Namun, akhir-akhir ini Zeeana merasa ada sesuatu yang asing dari dalam diri Azriel. Pria itu sedikit menjaga jarak darinya, tidak pernah tinggal salat, mengaji, dan kadang kala tidak mau bertatapan dengannya. Contohnya seperti saat ini, Azriel tiba-tiba saja beristigfar dan menurunkan pandangannya agar tidak bertatap mata dengan Zeeana.
“Lo kenapa, sih?”
Zeeana begitu penasaran hingga tidak sadar tangannya bergerak sendiri untuk menyentuh lengan Azriel.
“Zee, jangan sentuh gue.”
Zeeana membulatkan matanya kaget ketika Azriel menarik tangannya menjauh. Jika saja keduanya tidak telah saling mengenal lama, Zeeana mungkin akan merasa tersinggung dengan perilaku pria itu.
Parahnya lagi, usai membuat Zeeana merasa keheranan dengan tingkahnya, Azriel malah menarik kursi yang didudukinya agar sedikit menjauh dari wanita itu.
“El, sumpah lo ngeselin banget, ya! Kenapa, sih?”
Zeeana memasang posisi agar matanya bisa bertumburan langsung dengan milik Azriel, tetapi pria itu malah memejamkan matanya erat seperti habis melihat penampakan.
Zeeana mengerucutkan bibirnya sebal melihat kelakuan Azriel yang sangat menyebalkan. Merasa tidak tahan lagi, wanita itu pun berdiri dari duduknya dan melenggang pergi meninggalkan Azriel yang kian mulai membuka matanya dan bergegas mengekori Zeeana.
“Zee!”
Zeeana menulikan telinganya dan tetap melanjutkan langkahnya menjauh dari tempat resepsi. Sepatu berhak tingginya ia lepaskan dengan asal-asalan untuk mempermudah langkahnya menginjak pasir putih di pantai tersebut.
“Bang! Bang! Bang Syafid! Ikut gue bentaran!”
Muhammad Syafid Alfathir adalah kakak sulung Zeeana yang kala itu sedang bercengkrama dengan salah satu kenalannya. Namun, tiba-tiba saja Azriel datang dan menariknya untuk ikut mengejar kepergian Zeeana.
“Zee…”
Zeeana menoleh ke samping dan mendapati Azriel dan Syafid sedang terengah-engah karena mengejarnya.
“Kalau lo pikir gue ngambek berarti lo sama sekali nggak kenal gue, El.”
Tidak mengenal? Ck, jika suasananya sedang baik-baik saja, Azriel pasti akan menertawai kebohongan wanita itu. Mana bisa Zeeana mengatakan dirinya tidak merajuk ketika di saat yang bersamaan alisnya bertaut dan bibirnya mengerucut.
“Gue lagi berusaha menjadi muslim yang baik, Zee.”
“HAH?!” Zeeana dan Syafid kompak bersuara.
Azriel menganggukkan kepalanya pelan untuk membenarkan pendengaran kakak-adik itu.
“Nggak melembutkan suara, hanya mengucapkan kata-kata yang baik, menjaga pandangan, dan nggak berkhalwat.”
Ketika Azriel mengucapkan kata tidak berkhalwat, pria itu menyempatkan diri untuk mengangkat tangan Syafid yang masih digenggamnya erat. Tidak berkhalwat berarti menyendiri dengan seorang wanita, kecuali ada mahram yang menyertai wanita itu.
“Lo aneh! Sadar nggak, sih?!”
Teriakan kesal Zeeana dari kejauhan membuat Azriel tidak kuasa menahan senyumannya.
“Berubah menjadi sosok yang lebih baik bukan aneh namanya, Zee.”
Zeeana berdecak sebal lalu berkacak pinggang dengan posisi menghadap ke arah Azriel yang lekas menurunkan pandangannya kembali.
“Kalau gitu berarti lo udah siap kehilangan gue dong? Sahabat semasa kecil lo? Gue bukannya benci liat lo berubah jadi lebih baik, tapi perubahan lo ini, bisa aja ngerusak hubungan kita.”
“Nggak akan.”
“Nggak akan apanya?!” Zeeana semakin terbawa emosi.
“Nggak akan kalau lo bersedia menikah sama gue.”
Zeeana terbelalak kaget. Kali ini, Azriel membiarkan matanya bertubrukan dengan manik wanita itu.
“Jadi istri gue, Zee. Setelah itu gue pastiin persahabatan kita ini akan terjaga selamanya.”
Azriel menatap Zeeana yang tak berkutik di tempatnya, sedangkan kini, Syafid yang sejak tadi hanya diam dan menyimak, kian menarik kerah kemeja yang digunakan oleh Azriel.
“Seriously? Lo berani ngelamar adek gue di depan gue tanpa cincin dan bunga? Lo cari mati, ya?!”