
Zhorif menghela napasnya gusar. Kepalanya tertoleh ke belakang karena merasa penasaran dengan Zhara yang tiba-tiba diam di atas punggungnya.
Ya, Zhorif tau dia telah melakukan dosa karena menyentuh seorang wanita yang bukan muhrim-nya, tetapi dia bisa apa lagi ketika melihat tunangannya itu tampak sangat kesakitan?
"Kenapa liat-liat, Mas? Rindu, ya?" tanya gadis itu sembari menaik-turunkan alisnya.
Zhorif menggelengkan kepalanya merasa ngeri dengan ekspresi wajah yang dikeluarkan oleh Zhara.
"Emangnya, kamu tidak malu digendong seperti ini? Dari tadi, semua orang pada merhatiin, lho," ujar pria itu, dengan maksud tersembunyi untuk membuat Zhara lekas turun dari punggungnya.
"Mas kan, suami aku. Kenapa aku harus malu? Kecuali kalau Mas itu suami orang!" ujarnya tampak santai.
"Nggak ada yang tahu masa depan," lirih Zhorif, berharap Zhara dapat memahami maksud dari ucapan tersiratnya itu.
Namun, bukannya paham, Zhara malah membuat kesimpulannya sendiri. "Ya, tapi aku sangat tau, kalau Mas adalah bagian dari masa depanku," sahutnya.
*
*
*
"Mas, aku nggak mau duduk di belakang."
"Kenapa?"
"Nanti jauh sama Mas."
"Duduk di belakang lebih aman, terhindar dari benturan kalau sampai terjadi kecelakaan."
"Ihh ... pokoknya, aku nggak akan turun dari gendongan Mas, kalau Mas nggak bolehin aku duduk di depan!"
Pada akhirnya, Zhorif memutuskan untuk mengalah dan memasukkan Zhara ke dalam mobilnya, membiarkan gadis itu untuk duduk di sebelah kursi kemudi setelah berdebat beberapa saat.
Setelah memastikan gadis itu duduk dengan nyaman, Zhorif pun pergi mengitari mobil, sebelum ikut masuk dan duduk di kursi kemudinya. Pria itu menatap Zhara yang entah kenapa tidak sama sekali terlihat seperti orang yang sedang kesakitan.
"Kamu punya riwayat penyakit maag?" tanyanya tiba-tiba.
Zhara terdiam sejenak, untuk beberapa detik ia memaki dirinya sendiri di dalam hati karena telah melupakan kewajibannya untuk terus berakting selama bersama Zhorif.
Zhorif mengulurkan tangannya untuk membuka laci dashboard, lalu mengeluarkan sekaplet obat maag dan menyodorkannya pada Zhara. "Tablet kunyah," jelasnya secara singkat karena tidak memiliki air putih di dalam mobil.
Zhara menatap obat itu ragu. Tentu saja, karena dia berpikir bahwa rasa obat itu akan sangat pahit karena ia belum pernah mencobanya sekalipun. Perihal tablet kunyah, apa Zhorif bermaksud menyuruhnya untuk mengunyah obat pahit itu tanpa air?
Tiba-tiba gadis itu meringis ngeri sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku nggak punya maag, Mas, makanku selalu teratur, kok!" tolaknya.
Alis tebal Zhorif bertaut, mulai berpikir keras untuk mendiagnosa penyakit apa yang kemungkinan tengah diderita oleh Zhara. "Saya minta izin untuk memeriksa perut kamu," ujar pria itu secara tiba-tiba.
Zhara tampak kaget di seperkian detik, namun segera menetralkan kembali ekspresinya karena berpikir bahwa permintaan itu adalah hal yang wajar bagi seorang dokter seperti Zhorif.
Zhara membuka kancing seragamnya dari atas dengan santai untuk memberikan akses bebas bagi Zhorif untuk memeriksa perutnya yang rencananya akan ia kembung-kembungkan agar terlihat seperti orang yang sedang masuk angin.
"Kamu sedang apa?!"
Zhorif refleks menahan tangan Zhara yang hampir saja mengekspos dadanya sendiri dan mengotori mata serta pikiran seorang pria normal seperti Zhorif.
"Katanya Mas mau periksa perut aku, kan? Ya, aku buka baju dulu lah, biar lebih mudah periksanya," balas gadis itu dengan mata yang bekerjap polos.
Zhorif menjauhkan tangannya dari Zhara serta memalingkan wajahnya ke jendela. "Kancingkan kembali seragam kamu," suruhnya yang membuat gadis itu sedikit bingung, tetapi tetap menurut dan mengancingkan kembali seragam putih abu-abunya.
"Kita mau kemana, Mas?" tanyanya merasa panik ketika mobil Zhorif perlahan mulai mengarah ke alamat rumahnya.
"Mengantar kamu pulang. Memangnya, kemana lagi?" balas Zhorif.
"Nggak mau, Mas!"
Zhara sontak menolak dengan suara yang mengeras, membuat Zhorif refleks mengerem mendadak karena terkejut. Untungnya, mereka berdua mengenakan sabuk pengaman.
"Mas, aku nggak mau pulang...." rengeknya yang tiba-tiba menangis karena merasa panik dan khawatir. Pasalnya, ia kan, membolos sekolah dan jika ibunya sampai melihatnya pulang di waktu yang tak sesuai, reputasi baiknya di mata Zhorif akan rusak dan pria itu mungkin akan mengecapnya sebagai anak nakal dan pembohong, tidak pantas untuk dijadikan seorang istri.
"Kenapa lagi?" Zhorif menatap Zhara lelah, tetapi juga merasa tidak tega ketika melihat mata gadis itu perlahan mulai berkaca-kaca.
Zhara menundukkan kepalanya sembari memainkan jemarinya gugup, sibuk mencari alasan yang tepat untuk membuat Zhorif membawanya jauh-jauh dari rumah.
"Mami sama Papi lagi berangkat, Mas ... aku takut tinggal sendirian di rumah," bohongnya.
Zhorif terdiam sejenak, sebelum menganggukkan kepalanya karena mendapatkan ide. "Baik, kalau begitu, Saya akan mengantar kamu ke rumah Alesha," ujarnya sebelum memutar balik arah mobilnya.
"Nggak mau, Mas! Aku lagi berantem sama Kak Zafran!" tolaknya mentah-mentah. Lolos dari kandang singa, malah masuk kandang buaya. Itulah yang masuk ke dalam pikiran Zhara ketika Zhorif hendak mengantarnya ke rumah kakaknya. Dia bisa-bisa mati disembelih oleh Zafran jika sampai ketahuan bolos sekolah.
"Terus, kamu mau tidur dimana? Di rumah temenmu? Dimana alamatnya?" tanya pria itu mulai frustrasi.
Zhara menghela napasnya gusar. Ya, paling tidak menginap di rumah Asyraf adalah satu-satunya pilihan terbaik untuknya. Kenapa bukan rumah Aufa ataupun Farel? Jawabannya karena orangtua mereka mengenal Mami dan Papi Zhara, berbeda dengan orangtua Asyraf yang selalu kular-kilir ke berbagai negara.
"Komplek Angsa Putih, Mas...."
Setelah menyebutkan alamat tersebut, mobil Zhorif langsung melaju begitu saja hingga akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah megah dan mewah berwarna putih, hampir mirip dengan rumah milik orangtuanya.
Zhara melepas sabuk pengamannya dengan gerakkan yang amat lambat, merasa enggan untuk berjauhan dari sosok pria yang amat disukainya itu.
"Kalau gitu, aku masuk dulu ya, Mas. Hati-hati di jalan," pamitnya sebelum keluar dari mobil tersebut.
Zhorif mengangguk singkat sebagai balasan dan hendak menginjak gasnya untuk melenggang pergi, tetapi niatnya terhenti ketika melihat seorang pria berseragam persis seperti Zhara keluar dari rumah itu.
"Ra, lo kenapa ke sini?" tanya Asyraf agak kaget dengan kedatangan Zhara.
"Nginep," jawab Zhara dengan langkah gontai, hendak memasuki rumah tersebut tanpa izin dari Asyraf lebih dulu.
Tin!
Zhara menghentikan langkahnya dan sontak memutar arah tubuhnya untuk melihat mobil Zhorif yang ternyata masih belum bergerak sama sekali. Pria itu keluar dari mobilnya dan melangkah menghampiri Zhara dan Asyraf dengan langkah yang tegas dan penuh percaya diri.
Asyraf mengernyit bingung, melirik Zhara yang ternyata hanya fokus memandang pria yang tak dikenal olehnya itu. "Ini ... siapa, Ra?" tanyanya pelan.
Zhara menatap Zhorif sejenak, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Asyraf. Ia bingung, ia ingat bahwa Aufa dan Farel sangat melarang dirinya untuk membiarkan Asyraf tahu bahwa dirinya sudah bertunangan dan hendak menikah.
Zhara mencengkram ujung seragamnya gugup. "Dia ... dia-" Seharusnya, gadis itu memperkenalkan Zhorif sebagai teman dari kakaknya, Zafran, tapi rencananya sudah lebih dulu digagalkan oleh pria itu.
Zhorif tersenyum sopan, lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Asyraf.
"Saya Zhorif, tunangan Zhara...."
💠
-bersambung-