
Zhorif tidak pernah menyangka bahwa hari ini akan menjadi hari tersialnya. Setelah tanpa aba-aba memukul wajah seorang pria asing, wajahnya juga ikut dipukul karena pria asing itu tidak menerima perlakuan Zhorif yang kasar itu.
"Maaf," ujar Zhorif seraya menatap pria bernama Arka itu.
Arka menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis. "Gue nggak maksud bikin lo salah paham," balasnya dengan santai. Pria itu mengulurkan tangannya untuk mengajak berkenalan. "Arka," jelasnya.
"Zhorif," balas Zhorif.
Keduanya kini duduk di satu mobil yang sama, yang tak lain ialah mobil milik Zhorif.
Zhorif tampak memutar kepalanya demi menemukan Zhara yang tampak berlari dari kejauhan mendekati mobilnya. Zhara masuk lewat pintu kedua mobil dan menatap kedua pria yang kini duduk berdampingan itu.
Arka memutar kepalanya untuk menatap Zhara yang baru saja menyelesaikan halangannya. "Udah?" tanyanya seraya menahan tawa geli.
Zhara mengangguk dengan santai seraya mengusap perutnya secara perlahan. "Puas banget, Mas! Tapi, pantat aku pedes," ungkapnya yang sontak membuat tawa Arka mencuat seketika.
Zhorif menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menatap Zhara tak percaya. Pasalnya, baru kali ini, ia menemukan seorang gadis yang berbicara seblak-blakkan itu terhadap lawan jenisnya.
Zhara menatap Zhorif dengan mata yang menyipit sebelum memajukan wajahnya mendekati Zhorif yang saat itu menoleh ke arahnya dari kursi kemudi. "Bibir Mas berdarah..." lirihnya dengan alis bertaut.
Zhorif menghentikan napasnya dan menatap Zhara yang kini berjarak begiti dekat dengannya. Pria itu menyentuh luka pada ujung bibirnya dan meringis kecil.
"Ini semua gara-gara Mas Arka!" Zhara memukul punggung Arka secara tiba-tiba yang membuat pria itu refleks mencoba menjauhkan dirinya.
"Kok, kamu malah nyalahin Mas? Kamu nggak liat siapa duluan yang nyerang?!" sahut Arka tak terima seraya meringis merasakan rasa pedas pada punggungnya.
"Mas Zhorif kan, udah minta maaf!" balas Zhara seraya melirik ke arah Zhorif sejenak.
Arka membulatkan matanya tampak terkejut. "Kamu tau darimana dia udah minta maaf?" tanyanya.
Zhara tertawa sinis. "Ya, taulah! Mas Zhorif itu jauh banget bedanya sama Mas! Dia baik banget sama aku," ujar Zhara, menyombongkan diri dengan dagu yang sedikit terangkat.
"Jadi, maksud kamu, Mas jahat?" balas Arka dengan tatapan tak percaya.
Zhara membalasnya dengan anggukkan tanpa berpikir panjang.
Arka bersidekap seraya mendecih tak terima. "Jahat, jahat gini, juga kamu pernah suka sama Mas," ujar Arka dengan memelankan suaranya secara sengaja.
Zhara membulatkan matanya, raut wajahnya berubah menjadi panik dan tanpa sadar kepalan pada tangannya bergerak sendiri untuk memukul kepala Arka. "Semua manusia pernah khilaf, ya, Mas!" kesalnya.
"Bodoh amat yang penting kamu pernah suka sama Mas!" sahut Arka seakan menegaskan ulang hal itu dengan sengaja untuk melihat ekspresi Zhorif.
Zhorif menghela napasnya gusar, tangannya bergerak untuk merogoh ponsel yang ia simpan di kantung celananya. Setelah mendapatkan benda itu, ia bergegas mengirimkan pesan kepada Alesha, meminta wanita itu untuk menggantikannya yang memiliki shift di malam ini dengan alasan mengantar Zhara pulang. Untungnya, Alesha tak banyak bertanya dan langsung menyetujuinya.
"Kamu mau pulang sama Mas?" tawar Zhorif yang membuat Zhara terpaksa menghentikan adu mulutnya dengan Arka yang masih berlanjut.
"Ke rumah kamu," jelas Zhorif yang membuat Zhara harus menelan rasa kecewanya. "Kalau kamu tidak mau-"
"Mau, kok!" potong Zhara cepat.
Gadis itu keluar dari mobil dan mengacir ke kursi depan setelah menarik paksa Arka untuk keluar dari mobil Zhorif. "Dah, Mas! Semoga kita nggak ketemu lagi!" Zhara melambai-lambaikan tangannya ke arah Arka dari kaca yang sengaja ia buka.
Mobil milik Zhorif pun akhirnya bisa kembali berjalan menyusuri keramaian jalan raya Kota Jakarta. Setelah cukup lama berjalan, mobil itu pun terpaksa berhenti di sebuah apotek yang terletak di seberang jalan karena paksaan dari Zhara. "Mas tunggu di sini aja, ya," perintahnya sebelum mengacir pergi untuk masuk ke dalam apotek tersebut.
Zhorif hanya bisa menatap punggung Zhara yang mulai menjauh. Pria itu mengusap dadanya, merasa lega karena telah meminta bantuan Alesha untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Tak lama dari itu, Zhara kembali dengan sebuah kantong plastik di tangannya. Gadis itu kembali masuk ke mobil dan langsung menyalakan lampu bagian dalam mobil. Ia merobek sebuah bungkusan yang ternyata di dalamnya berisi sebuah tisu alkohol. Zhara mendekatkan tubuhnya pada Zhorif yang tengah bersandar di kursi. Ketika tisu itu hampir menempel pada luka pria itu, Zhorif menahan pergelangan tangan Zhara tanpa sadar. "Saya bisa sendiri," tolaknya.
Zhara menggelengkan kepalanya seraya melepaskan tangan Zhorif yang mencoba menghalangi pergerakkannya. Pada akhirnya, Zhorif hanya bisa diam dan membiarkan gadis itu membersihkan lukanya dan mengolesnya dengan sebuah salep. Tubuh pria itu menegang ketika Zhara melakukan suatu hal yang tak terduga yaitu, meniup luka tersebut dengan hati-hati dan telaten.
Entah apa yang merasuki Zhorif saat ini. Matanya tak berhenti menatap bibir Zhara yang sedikit berkedut karena meniup lukanya. Pikirannya mulai mengarah dan terfokus pada benda yang terlihat lembab dan kenyal itu.
"Udah, Mas!"
Zhorif memutuskan pandangannya karena terkejut. Pria itu menganggukkan kepalanya sebagai balasan dan bergegas kembali menjalankan mobil itu untuk menyibukkan dirinya sendiri.
Ketika mereka berhasil sampai di depan pagar rumah Zhara. Zhorif kembali dilanda masalah karena gadis itu tampaknya tidak ingin pulang dan malah memeluki safety belt-nya sendiri. "Aku mau ikut Mas pulang," rengeknya.
Zhorif menghela napasnya, mencoba bersikap sabar menyikapi remaja labil yang duduk di sebelahnya itu. "Ini sudah malam, sebaiknya kamu cepat masuk ke dalam," ujarnya dengan nada lembut. Ah ... bisa dikatakan Zhorif tengah mengusir Zhara dengan cara halus.
Zhara mengerucutkan bibirnya tampak kesal. "Mas nggak bisa nikahin aku sekarang aja, ya? Aku nggak mau pisah dari Mas...." Sayangnya cara halus Zhorif tampaknya tak berhasil menghadapi rengekkan gadis itu.
"Jangan bicara seperti orang bodoh," balas Zhorif mulai kehabisan kesabaran.
"Aku yakin bisa, kok, kalau Mas mau berusaha!" sahut Zhara.
"Berusaha apa?" balas Zhorif dengan bola mata yang terputar malas.
"Hamilin aku malam ini!"
-bersambung-
Maaf ya, updatenya kelamaan. Akhir-akhir aku suka lupa save dan beberapa bagian di partnya jadi kehapus dan harus tulis ulang
Jangan lupa tinggalin voments kalian ya....
-Charlies_N-