
Asyraf, Aufa, dan Farel tampak gelisah di dalam mobil yang tiba-tiba saja menjadi hening karena hilangnya salah satu personil mereka. "Kok, gue khawatir si Zhara kepergok, ya?" Tampaknya Farel merupakan orang yang paling merasa gelisah di antara mereka bertiga karena merasa bersalah telah meninggalkan gadis itu tanpa sengaja. "Apa kita puter balik aja, ya?" Asyraf dan Aufa menganggukkan kepala mereka tanpa berpikir panjang.
Sejujurnya, mereka bertiga sama-sama khawatir dengan sahabat mereka yang berotak polos lebih ke bodoh itu. Walaupun terkadang Zhara sangat menyebalkan, gadis itu adalah satu-satunya orang yang rela berkorban demi persahabatannya.
Jika diingat-ingat, kebaikan Zhara di seminggu yang lalu memang tak bisa terlupakan. Saat itu Farel tampak kesulitan mengerjakan soal ujian mata pelajaran matematika dan meminta bantuan pada gadis itu. Zhara tanpa segan menarik buku cetaknya yang ia letakkan di loker meja dan membukanya demi membantu Farel mengisi soal-soal ujian tersebut. Walaupun Farel akhirnya tertangkap basah, Zhara pun tanpa ragu mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mengaku bahwa dialah yang bersalah karena memberikan buku itu kepada Farel dan hal itu tentu saja membuat keduanya harus dihukum membersihkan wc bersama.
Aufa mendengus, kini jemarinya sedang fokus bergerak untuk menekan nomor Zhara.
Tetapi, sebuah tepukkan di bahu yang berasal dari Asyraf, memecahkan fokusnya. "Itu Zhara, kan?! Kok, bisa sama Bu Mitha, sih?" Farel tampak terkejut ketika melihat Bu Mitha tampak berjalan mendekati mobilnya.
"Waduh! Situasi on red, nih! Maafkan Kakanda, Adinda Zhara...." Farel menginjak gas setelah mengucapkan permintaan maafnya. Sungguh, walaupun Farel sangat menyayangi sahabatnya itu, rasa sayangnya pada Zhara tetap tidak akan bisa melebihi rasa sayangnya terhadap Chilli-nama mobil kesayangannya itu. Pada akhirnya, mobil itu kembali melaju menjauhi halaman masjid.
Di sisi lain, Zhara tampak melambaikan tangannya dengan penuh semangat ketika Bu Mitha berpamitan untuk pergi ke sekolah lebih dahulu dan meninggalkannya berdua bersama seorang pria paling tampan yang pernah ia temui langsung di sepanjang hidupnya.
"Kamu suka makan es puter?" tanya Zhorif sekadar berbasa-basi demi menghapus rasa canggung yang menerpa keduanya. Ah, lebih tepatnya Zhorif saja.
"Suka. Apalagi kalau belinya ditemenin sama Mas!" jawab Zhara tanpa ada rasa canggung atau malu-malu di dalamnya.
Zhorif tampak terkejut dan hampir tersedak oleh ludahnya sendiri karena mendengar balasan yang diberikan oleh gadis itu. "Mas?" Pria itu menautkan alisnya yang hitam dan tebal, menunjukkan bahwa panggilan itu sedikit mengusik dirinya.
"Iyalah, Mas! Masa Om?" sahut Zhara dengan tampang kelewat polos.
"Panggil Saya, Kakak ... atau gunakan nama saja juga nggak masalah," balas Zhorif dengan kikuk.
Zhara pun ikut-ikut menautkan alisnya. Gadis itu menampilkan sebuah ekspresi yang menjelaskan bahwa sang pemilik wajah sedang berpikir keras. "Kakak? Nggak mau! Mas kan, bukan Kakak aku, kita nggak punya ikatan darah! Panggil nama juga nggak boleh, nggak sopan kalau di Indonesia. Jadi, aku panggil Mas aja, ya? Biar sama kayak Mami pas manggil Papi!" sahut Zhara yang lagi-lagi membuat Zhorif hendak tersedak dengan ludahnya sendiri. Terlihat jelas, pria itu sedikit syok akan tingkah Zhara yang sangat ... ah! Entahlah, ia sendiri bahkan tidak bisa mendeskripsikannya.
"Pesen berapa esnya, Bang?" tanya Mang Mamat, sang penjual es puter legendaris yang sangat dikenal oleh masyarakat Jakarta.
"Saya pesen es puternya dua. Kamu?" Zhorif menolehkan kepalanya ke arah Zhara, menanti jawaban.
"Satu aja," jawabnya seraya mendudukkan bokongnya di sebuah bangku kosong yang memang disediakan oleh Mang Mamat untuk para pembeli es puternya. Secara terang-terangan, Zhara menatap Zhorif yang sedang berdiri membelakanginya. Ia melakukannya cukup lama, sebelum menarik pelan kemeja putih yang digunakan pria itu agar Zhorif menoleh ke arahnya. "Duduk sini, Mas," pinta Zhara seraya menepuk-nepuk bangku kosong di sebelahnya.
Tak enak hati untuk menolak, Zhorif pun memutuskan untuk duduk di sebelah gadis itu setelah menarik bangkunya untuk memberikan jarak yang cukup di antara mereka.
"Mas, nanti nggak perlu anterin aku ke sekolah, soalnya aku udah ada janji sama kenalanku di luar," ujar Zhara secara tiba-tiba seraya memainkan batu kerikil yang tergeletak di tanah menggunakan sepatunya.
Zhorif sontak menolehkan kepalanya untuk menatap gadis itu. "Bukannya ini masih jam sekolah?" tanyanya seraya mengecek arloji cokelat gelapnya untuk memastikan bahwa ia tidak salah. Zhara pun hanya diam tak berkutik, bingung untuk menjawab. "Bolos?" tanya Zhorif dengan nada halus, membuat Zhara sontak menoleh ke pria itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya panik.
"Ehm ... bukan bolos, lebih tepatnya-Aduh! Dingin!" Zhara menjerit cukup kuat ketika seorang pria asing yang duduk di sebelahnya, menjatuhkan es puternya tepat di paha gadis itu.
Pria berwajah di bawah standar itu diam-diam tersenyum tipis, dan hal itu tanpa sengaja ditangkap oleh mata tajam Zhorif. "Eh? Maaf, Mbak! Saya nggak sengaja." Pria itu tampak bergegas mengulurkan tangannya untuk menyapu tumpahan es puternya yang mengenai rok sekaligus paha gadis itu. Sayangnya, rencana itu digagalkan oleh Zhorif yang sudah lebih dulu menahan tangan pria itu dan menghempaskannya menjauh dari Zhara.
Pria asing yang hendak berlaku mesum itu bergegas meninggalkan kediaman Mang Mamat dengan perasaan marah bercampur malu.
Zhorif menghela napasnya, mengusap dada sambil menggerakkan bibirnya untuk beristighfar, mengusir kemarahan yang masih tertanam di dalam hatinya. Setelah selesai, Zhorif pun kembali memberikan perhatiannya kepada Zhara yang ternyata sejak tadi sedang memerhatikannya. Pria itu mengambil beberapa lembar tisu kering yang berada di atas meja dan menyodorkannya pada Zhara. "Kamu lap sendiri," suruhnya.
"Kenapa nggak Mas aja?" tanya Zhara dengan kejapan polos pada mata bulatnya.
"Bukan muhrim," balas Zhorif yang membuat Zhara manggut-manggut seakan mengerti.
Setelah mendapatkan pesanan yang mereka inginkan, Zhorif mengajak Zhara untuk masuk ke dalam mobil SUV putih miliknya dan menjalankan mobil itu dengan keheningan. Keheningan yang mendominasi ruangan itu, tentu saja membuat seorang Zhara yang petakilan, mulai sibuk mencari kegiatan agar tidak bosan, dan pilihannya jatuh kepada es puter yang masih dibungkus oleh plastik bening. Gadis itu memakan es puternya dengan tenang seraya mencuri-curi pandang ke arah Zhorif.
"Mas, aku nggak mau balik ke sekolah," ujar Zhara ketika mobil Zhorif telah berhenti tepat di halaman SMA Tanjung Pelita.
"Kenapa?" tanya Zhorif.
Zhara menggelengkan kepalanya perlahan dengan pandangan menatap ke bawah. "Nggak mau aja," jawabnya.
"Saya bertanggung jawab akan kehadiran kamu di sekolah. Saya sudah diberi amanat sama guru kamu," ujar Zhorif dengan menyiratkan nada membujuk di setiap katanya.
Pada akhirnya, Zhara hanya bisa menghela napasnya gusar dan merogoh kantung roknya untuk mengeluarkan ponselnya yang sempat jatuh ke tanah beberapa waktu yang lalu. Gadis itu menyodorkan ponselnya ke arah Zhorif dengan ekspresi wajah yang tak terbaca.
Zhorif kembali menautkan alisnya, tampak bingung dengan tingkah aneh gadis di sebelahnya itu. "Kenapa?" tanyanya.
"Aku mau keluar kalau Mas kasih aku nomor telepon Mas," jelas Zhara dengan nada yang tegas dan tak terbantahkan.
Zhorif hanya bisa menghela napasnya gusar karena tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tidak bisa menyia-nyiakan waktunya yang berharga hanya untuk mengurusi gadis naif yang baru dikenalnya itu, ditambah lagi es puter milik ibunya sudah mulai mencair. Zhorif pun menerima ponsel tersebut dan bergegas memasukkan nomor ponselnya. "Puas?" Pria itu mengembalikan ponsel tersebut kembali pada pemiliknya.
Zhara menggelengkan kepalanya dengan wajah lugunya. Jemarinya berkutat untuk menyimpan dan menghubungi nomor yang diterimanya, takut-takut Zhorif diam-diam menipunya.
Drrtt ... drrttt ... drrtttt....
Zhorif mengangkat ponselnya untuk meyakinkan Zhara dan menunjukkan layarnya yang memperlihatkan nomor asing yang tertulis di sana.
Zhara tersenyum puas dan keluar dari mobil dengan hati yang berbunga-bunga. "Hati-hati, Calon Suami!" Zhara melambai-lambaikan tangannya ke arah mobil Zhorif yang kian menjauh.
-bersambung-
Gila! Author update langsung dua kali. Keureeeen abizz, kan?😌😎
Jangan lupa vote sama komennya ae, deh!😏