
"Saudara Zhorif Putra Maulana bin Hasan Abiroma. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Zharania Kesuma dengan maskawin berupa 400 gram logam mulia, dibayar tunai."
Zhorif menatap Burhan dengan penuh keyakinan, sebelum menerima jabatan tangan calon ayah mertuanya itu dengan tegas.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya, Zharania Kesuma binti Burhan Kesuma dengan maskawin tersebut, tunai."
"Sah?!"
"Sah!"
Para saksi, pengantin, dan penghulu kompak mengucapkan kata alhamdulillah sebagai bentuk dari syukuran. Zhorif menyerahkan tangannya untuk dikecup oleh Zhara yang sejak tadi duduk gelisah di bangkunya. Zhara menatap tangan pria yang kini telah sah menjadi suaminya dengan penuh tanda tanya.
"Dicium, Nak," perintah Burhan yang tahu bahwa putrinya itu sedang kebingungan.
Zhara mengangkat salah satu alisnya tak yakin, ia menengadah untuk menatap Zhorif yang mengangguk mengiyakan ucapan sang ayah mertua. Namun, yang dilakukan oleh Zhara selanjutnya malah membuat orang-orang di sana hampir terkena serangan jantung. Bukannya mencium punggung tangan Zhorif, gadis itu malah mencium pipi lelaku itu.
"Anakmu benar-benar luar biasa, Na!"
Ranti menepuk-nepuk tangannya kegirangan melihat aksi yang patut ditertawakan itu, sedangkan Erna malah meringis malu akan kelakuan putrinya.
"Mas, lipstick-nya jadi nempel. Emangnya, kenapa sih, harus cium-cium di depan orang? Kenapa nggak pas sepi aja?" Bisik Zhara lugu pada Zhorif yang masih agak syok akan perlakuan istrinya kecilnya itu. Zhorif diam saja ketika jemari Zhara berusaha menghapus bekas kemerahan yang menempel di pipinya.
*
*
*
"Wah! Selamat, Rif! Hebat juga lo, bisa dapet yang semuda ini. Salut gue!"
Acara salam-menyalam pun telah tiba. Ada begitu banyak tamu-tamu yang tak Zhara kenal berdatangan, memberinya selamatan sembari memerkenalkan diri. Zhara pun meringis melihat masih ada sekitar 50 orang lagi yang naik ke panggung untuk bersalaman dengannya dan Zhorif, padahal saat ini kakinya sudah terasa ingin patah saking pegalnya.
"Capek?"
Zhara menoleh ke arah Zhorif yang telah menatapnya. Gadis itu kemudian menganggukkan kepalanya jujur. Tak disangka-sangka, Zhorif melepaskan jas yang dikenakannya lalu menyampirkannya ke bahu Zhara.
"Saya 'kan, udah bilang untuk cari gaun yang sopan. Kamu lagi dapat karma gara-gara ngebantah." Untuk yang pertama kalinya Zhara dinasehati oleh Zhorif. Namun, entah mengapa, ia tidak merasa biasa, ia merasa sangat senang mendapat teguran dari sosok itu, berbeda jauh rasanya ketika ia ditegur oleh Pak Warto atau orangtuanya.
"ZHARAAAA!!!"
Zhorif meringis sembari menutup kedua telinganya menggunakan telapak tangan ketika Aufa menjerit keras sembari memeluk istrinya erat-erat hingga hampir membuat Zhara jatuh terduduk di kursi.
"Gue nggak percaya! Lo beneran nikah! Nikah! Nikah, Ra!" Aufa mengguncang bahu Zhara dengan begitu antusias, mengabaikan sosok Farel yang hanya bisa geleng-geleng kepala, merasa tak enak hati dengan Zhorif.
Setelah puas menghancurkan riasan Zhara, Aufa pun beralih untuk menyelamati Zhorif, mengumbar segala aib-aib Zhara tanpa ragu hingga membuat Zhara ingin sekali memukul kepalanya jika saja Farel tidak mengalihkan perhatiannya kala itu.
"Ra, lo udah siapin semuanya, 'kan?" Zhara manggut-manggut dengan jempol terangkat menanggapi bisikan misterius Farel. Farel kemudian manggut-manggut dan menepuk bahu Zhara. "Good luck, kalau gitu."
"Kak, cepet kasih kami ponakkan yang lucu-lucu, ya! Kalau bisa gue mau request, otaknya jangan sampe kayak dia!" Oceh Aufa tanpa segan sembari menunjuk Zhara yang mengerjapkan matanya bingung.
Zhorif terpaksa menganggukkan kepalanya karena tidak mau omong kosong itu menjadi urusan panjang.
"Ehh ... Mas?"
Sepergian kedua sahabat Zhara dari sana, Zhorif tersentak kaget ketika tangannya disentuh oleh Zhara. Namun, setelah sadar bahwa mereka telah sah, Zhorif pun menetralkan ekspresinya.
"Kenapa?"
Zhorif membeku, berusaha mencerna ucapan istrinya yang terlalu polos itu.
"Mas?" Zhara menggoyang-goyangkan lengan Zhorif agar pria itu berhenti melamun.
"Kita bicarakan itu nanti, ya. Jangan di sini." Kini giliran Zhara yang membeku karena Zhorif menggunakan nada yang begitu lembut padanya, ditambah lagi tangan pria itu kini berada di pucuk kepalanya, bergerak untuk mengelus rambutnya yang keras akibat hairspray.
*
*
*
"Nggak perlu nginep, Ma. Aku dan Zhara langsung balik ke apartemen aja."
Ranti menghela napasnya gusar. "Ya ampun, Rif. Barang-barang kamu itu udah Mama bawa susah-susah ke sini. Emangnya, kenapa sih, nggak mau nginep di hotel? Kan, sama aja..."
Zhorif ikut menghela napasnya. Kini, ballroom yang sempat ramai itu hanya terisikan oleh enam orang saja, yaitu Zhorif, Zhara, dan kedua orangtua mereka masing-masing. Zhorif melirik Zhara yang tampak sudah kelelahan sembari meringis menyentuh tungkai kakinya yang terasa nyeri akibat berdiri menggunakan higheels terlalu lama.
"Yaudah," putus Zhorif yang merasa tak tega dengan Zhara. Zhorif meminta kartu akses dari sang ayah, kemudian berpamitan pada kedua mertuanya sejenak sebelum membantu Zhara berdiri, mengantarkannya ke kamar mereka bersama.
Setelah sampai dan masuk ke kamar mereka. Zhorif melepaskan jasnya secara hati-hati sebelum membantu Zhara untuk melepaskan higheels-nya. "Kaki kamu lecet," katanya sembari menengadah, menatap Zhara yang diam saja karena terpesona akan ketampanan suaminya. "Saya obatin setelah kamu mandi saja, ya?" Zhara manggut-manggut sebelum matanya merasa tertarik akan sebuah kotak berpita yang diletakkan di atas meja.
"Ini dari siapa, Mas?" tanya Zhara penasaran. Namun, Zhorif malah mengangkat bahu, tak tahu. Pada akhirnya, Zhara putuskan untuk membuka kecil kotak tersebut dan setelah melihat isinya, ia buru-buru menutupnya kembali.
Hal itu tentu menarik perhatian Zhorif. "Apa isinya?" Namun, bukannya menjawab, Zhara malah memeluk kotak tersebut erat-erat sembari menggelengkan kepala. "Sini, saya mau liat," pintanya mengulurkan tangan.
Tidak seperti biasanya, Zhara menolak permintaan Zhorif dan malah menyembunyikan benda tersebut di balik punggungnya. "Mas nggak mau mandi?" tanyanya berusaha mengalihkan perhatian.
"Mau, tapi setelah liat isi kotak itu," ujar Zhorif bersikeras.
Merasa sangat penasaran membuat Zhorif berusaha meraih kotak tersebut dari Zhara secara paksa. Namun, Zhara malah memerkuat pegangannya hingga membuat tubuh Zhorif hilang keseimbangan dan jatuh tepat di atas tubuh Zhara yang sudah terbaring akibat terdorong.
"Mas..."
Zhara mengerjap-ngerjapkan kedua matanya ketika hidungnya dan Zhorif saling bersentuhan. Zhorif buru-buru menjauhkan diri dan mengambil kotak tersebut sebelum membukanya dalam sekali gerakan.
Rupanya, kotak tersebut berisi sebuah lingerie dan pakaian dalam wanita bercorak macan tutul. Hal itu sontak membuat Zhorif menolehkan kepalanya menuju Zhara yang menggeleng panik, menjelaskan bahwa itu bukanlah idenya. Zhorif pun kemudian meraih sebuah amplop surat yang diletakkan di dalamnya.
*Dear My Bestfriend,
Kupersembahkan benda sakral ini hanya untuk dikau seorang. Semoga malam pertama lo berjalan dengan tokcerrr...
Kami titip ponakan yang banyak, ya, biar ntar bisa viral macem Keluarga Halilintar*.
*Jangan lupa sama rumus menggoda yang kami ajarin ke elo.
Rawrrrr!!!
Hehehehe...
^^^-Aufa Solimi dan Farel Berdosah*-^^^
"Kamu bisa jelasin apa maksudnya ini?"
Zhara bangkit dari duduknya dan melarikan diri dengan cara masuk ke kamar mandi, benar-benar merasa malu karena ulah sahabat-sahabatnya itu.