Bestfriend ‘Til Jannah

Bestfriend ‘Til Jannah
Lamaran Tak Langsung



Zhara tak berhenti tersenyum bahagia karena bisa berdekatan dengan Zhorif. Ditambah lagi, Zhorif juga tampak begitu keren dengan hanya menggunakan salah satu tangannya untuk mengendalikan stir.


"Mas, ada urusan apa di sana?" tanya Zhara penasaran.


Zhorif menggerakkan bola matanya untuk melirik sebentar gadis yang duduk di sebelahnya saat ini. "Privasi," jawabnya singkat.


Zhara mengerucutkan bibirnya merasa kecewa akan balasan singkat yang diberikan pria itu. "Mas, udah lama kenal sama Mbak Sasha?" tanyanya kembali, untuk mencari topik.


Zhorif menganggukkan kepalanya. "Alesha itu teman dekat Saya waktu kuliah," jelasnya yang membuat Zhara kembali tersenyum senang karena balasan yang diberikan oleh pria itu kali ini cukup panjang.


"Mas nggak mau nanya, kenapa aku bisa kenal sama Mbak Sasha dan Keysha?" tanya Zhara lagi.


"Kalau Saya tidak bertanya pun, kamu pasti akan tetap memberikan jawabannya," balas Zhorif penuh percaya diri.


Kini senyuman di bibir Zhara semakin melebar. Ia merasa Zhorif mulai nyaman berbicara dengannya. Lihatlah, pria itu bahkan menjawab pertanyaan Zhara dengan panjang.


"Mbak Sasha itu kakak iparku!" jelas Zhara secara antusias.


Cittt!


Zhorif menginjak rem secara tiba-tiba dan membuat Zhara yang tak mengenakan safety belt hampir membenturkan jidatnya ke dashboard jika saja tangan Zhorif tidak bergegas memeluk bahu gadis itu.


Zhara mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menurunkan pandangannya pada tangan Zhorif yang masih memeluk bahunya. Tak jauh berbeda dari gadis itu, Zhorif pun juga ikut mengerjapkan matanya sebelum memilih untuk menjauhkan diri dari gadis itu. "Maaf," ujar Zhorif sebelum kembali menjalankan mobilnya.


"Mas...."


Zhorif melirik ke arah Zhara sejenak sebelum berdehem, menandakan bahwa ia akan menyimak ucapan yang akan dikeluarkan oleh gadis itu.


"Mas bakal tanggung jawab, kan? Mas abis megang aku lho, padahal Mas sendiri yang bilang kalau kita bukan muhrim. Kalau nanti aku hamil gimana coba?!" tanya Zhara dengan mata membulat ketakutan.


"Kamu nggak akan hamil."


Sesampainya mereka di gedung besar kepunyaan Heavenly Hotel, mereka langsung memasukinya dan bergegas menuju area tempat makan untuk mengejar waktu.


"Mas, tau darimana kalau aku ada janji temu di tempat makan ini?" tanya Zhara dengan kening berkerut.


Zhorif memutar bola matanya, jika ia terus-terusan berada di dekat gadis ini mungkin kesabarannya akan habis juga. "Memangnya dimana lagi orang biasanya membuat janji temu kalau bukan di sini," balas Zhorif. "Reservasi atas nama Ranti Maulana," ungkap Zhorif pada sang pelayan yang tampaknya telah menunggu pria itu untuk mengatakan hal itu.


"Mari saya antar," ujar pelayan hotel itu dengan senyuman sopan.


Zhorif mengangguk singkat dan mengikuti sang pelayan yang mengantarkannya ke sebuah meja, tapi sebelum itu ia sudah lebih dulu memutar tubuhnya demi menatap manik Zhara. "Saya rasa kita bisa berpisah di sini," ujar Zhorif seakan menjadikan kalimat itu sebagai salam perpisahan bagi keduanya.


Zhara mengerucutkan bibirnya memerhatikan punggung Zhorif yang semakin lama semakin menjauh. Gadis itu pun menghela napasnya gusar sebelum berjalan menuju sebuah toilet.


"Ingat, ya ... pakai gaun yang Mami simpen di ranselmu!"


Gadis itu tersenyum puas dengan dandanannya yang cukup sederhana, namun dapat mempercantik dirinya beberapa kali lipat dari sebelumnya. Zhara pun memutuskan untuk keluar dan berjalan menuju area makan itu kembali. Tetapi, baru beberapa langkah, tangannya sudah ditahan oleh seorang pria asing dari belakang.


Zhara sontak menolehkan kepalanya dan mencoba melepaskan tangan pria itu. "Maaf," cicitnya sebelum berjalan dengan cepat untuk meminta pertolongan dari Zhorif yang pastinya tengah duduk tenang dan berbincang dengan tamunya.


Tetapi, lagi-lagi pria itu berhasil menangkap lengannya dan membuat Zhara terpaksa menghentikan langkahnya. "Gue nggak berniat ganggu, gue cuma mau minta nomor lo," ujar pria itu seraya tersenyum tipis.


Zhara kembali menyingkirkan tangan pria itu dari lengannya. "Gue nggak punya hp," balas gadis itu asal.


"Kalau gitu pake hp ini...." Pria itu menyodorkan sebuah ponsel keluaran terbaru yang sebenarnya begitu didambakan oleh Zhara selama sebulan ini.


"Nggak mau!" tolaknya dengan susah payah, sebelum mengambil langkah untuk melarikan diri.


Tetapi, pria itu tampaknya tidak mudah menyerah dan kembali menghalangi jalan Zhara menggunakan tubuh tegap dan tingginya. "Gue cuma bisa berhenti deketin cewek yang bersuami..." ujarnya yang tiba-tiba membuat Zhara mengerutkan keningnya kebingungan, "....dan gue yakin lo belum menikah," lanjutnya yang sontak membuat gadis itu membulatkan matanya kaget.


"Jadi lo mau ngedeketin gue?!" tanya Zhara dengan nada tinggi.


Pria itu mengangguk dengan santai. "Emang lo pikir daritadi gue mau ngapain?" balasnya dengan bola mata yang terputar.


"Ih! Nggak mau!" tolak Zhara secara terang-terangan, sebelum mendorong tubuh pria itu menjauh darinya dan mengambil langkah untuk melarikan diri.


"Bugh!"


"Duh!" Zhara meringis kesakitan ketika kepalanya membentur sesuatu yang cukup keras.


"Kamu baik-baik aja?" Suara yang sangat dikenali Zhara membuat gadis itu mengangkat kepalanya perlahan dan menangkap wajah Zhorif yang benar-benar dekat dengannya karena pria itu sedang menunduk.


Zhorif menghela napasnya dan menarik Zhara untuk berdiri tepat di sebelahnya. Pria itu menatap tajam pria asing yang sejak tadi menganggu gadis yang dikenalnya itu. "Lo bilang lo nggak akan ganggu cewek yang bersuami, kan?" Pria asing itu menganggukkan kepalanya dengan kikuk dan membuat Zhorif mengeluarkan senyuman miringnya. "Kalau gue bilang, dia calon istri gue, lo bakal pergi?" Zhorif mengeluarkan kalimat tak terduganya seraya melingkarkan tangannya pada bahu Zhara yang kian menegang.


Zhorif menatap Zhara yang juga kini menatapnya seakan meminta penjelasan dari ucapan yang baru saja dikatakannya. "Kamu baru aja meminta Saya bertanggung jawab, kan?" tanya Zhorif yang membuat Zhara menganggukkan kepalanya dengan polos.


"Baik. Kalau begitu Saya akan bertanggung jawab..."


"....saya akan menikahi kamu...."


-bersambung-


Ada yang kepo sama lanjutannya?


Ayo, kasih voments sebanyak mungkin, biar updatenya dipercepat....


-Charlies_N-