Bestfriend ‘Til Jannah

Bestfriend ‘Til Jannah
Rahasia



Akibat permintaan Zhorif yang tidak masuk akal, calon mempelai itu melakukan proses pemingitan, yang dimana, keduanya tak diperbolehkan bertemu sebelum hari H-nya. Oleh karena itu, di hari sabtu yang libur, Zhara hanya bisa uring-uringan di kasur sembari menatap foto Zhorif yang telah dicetak dan diletakkannya pula ke dalam sebuah frame berwarna putih.


Tok, tok, tok!


"Sayang, kamu nggak mau sarapan? Dari kemarin malam kamu belum makan apa-apa lho, Nak!"


Zhara memberengut setelah menghela napasnya gusar. Ini sudah yang ketiga kalinya, Erna, ibunya, bolak-balik mengetuk pintu kamarnya dan menyuruhnya untuk segera turun dan makan. Namun, apa daya, tubuh Zhara benar-benar lemas tak berjiwa karena sudah dua minggu lebih tidak bertemu dengan sang pujaan hati.


"Nggak mau, Ma. Aku lagi diet!" bohongnya dengan nada yang keras agar sang ibu dapat mendengar.


Erna pun diam di tempatnya sejenak, tampak menimbang-nimbang untuk membujuk putrinya kembali. Namun, menurutnya diet Zhara juga diperlukan, karena kurang dari seminggu dia akan segera menggelar pesta pernikahannya.


Tak lama setelah Erna pergi, pintu kamar Zhara dibuka paksa oleh Zafran dengan kunci cadangan yang entah darimana pria itu dapatkan.


"Kakak?!"


Zhara terkejut dan sontak bangkit dari posisi terlentang anehnya. Ia merapikan rambutnya yang acak-acakan, kemudian menyembunyikan foto Zhorif di balik selimut dengan hati-hati agar tak ketahuan.


"Ngapain ke sini?" tanya Zhara ketika Zafran hanya diam dan malah mendudukkan diri di bibir kasurnya.


"Adeknya Kakak mau menikah. Apa salahnya kalau Kakak mau menghabiskan waktu lebih banyak sama kamu?" sindir Zafran yang tidak pula dimengerti Zhara.


"Kak..."


"Hm?"


Zhara menggigit pipi bagian dalamnya. Ia sudah mempersiapkan mentalnya sejak lama untuk menanyakan hal ini dengan Zafran. Namun, entah mengapa, setiap melihat wajah kakaknya yang dingin, nyalinya selalu menciut.


"Boleh nggak, aku tanya, alasan Kakak benci sama Mas Zhorif?" cicitnya pelan yang berhasil membuat Zafran agak kaget untuk beberapa saat.


Zafran tiba-tiba mengendikkan bahunya. "Memangnya kapan Kakak pernah bilang, kalau Kakak benci sama dia?" Bukannya menjawab, Zafran malah balas bertanya.


"Emangnya Kakak suka sama dia?" tanya Zhara, mengganti pertanyaannya.


Zafran buru-buru menggelengkan kepalanya. "Biasa aja. Bukan suka ataupun nggak suka," jelasnya. Zhara diam. Hal itu mengundang perhatian Zafran hingga membuat pria itu memutuskan untuk menoleh, kemudian tersenyum sembari menyentuh pucuk kepala adiknya. "Kamu itu masih sangat muda. Kakak cuma nggak mau kamu nantinya menyesal karena memutuskan untuk cepat menikah. Oleh karena itu, awalnya, Kakak nggak ngerestuin hubungan kalian."


Zhara menatap kedua manik hitam sang kakak yang terlihat seolah sedang berusaha keras untuk terlihat jujur. Namun, sayangnya tidak berhasil mengelabui Zhara. Kini, Zhara semakin yakin bahwa pertengkaran yang terjadi di antara Zafran dan Zhorif benar-benar rumit.


"Gimana undangan pernikahannya? Sudah kamu sebar ke sekolah? Atau, kamu nikah secara diam-diam aja?" tanya sang kakak berusaha mengalihkan topik.


"Mungkin cuma dihadiri sama sahabat-sahabatku aja, Kak. Belum ditambah sama temen arisan Mami dan kolega Papi," jelasnya.


Zafran manggut-manggut mengerti. Ia bangkit dari duduknya setelah itu dan berjalan menuju pintu keluar. Namun, ketika hendak menutup pintu, ia mengurungkannya sejenak untuk berkata, "Kamu dan Alesha itu sama-sama penting dalam hidup Kakak ... dan Kakak sama sekali nggak akan pernah bisa bayangin hidup Kakak tanpa adanya kalian." Setelah mengucapkan kalimat janggal itu, Zafran melenggang pergi sepenuhnya.


...***...


Zhorif yang kala itu tengah sibuk bermain dengan Keysha pun terpaksa menolehkan diri ke arah Alesha.


"Apanya yang gimana?" tanya Zhorif setengah hati, malas meladeni topik yang selalu diulang-ulang oleh orang yang bertemu dengannya akhir-akhir ini.


"Gila sih, Rif. Gue masih nggak nyangka lo bakal dapet yang semuda ini. Langsung berencana punya anak, nggak? Lo udah ketuaan, udah cocok, tuh!" oceh Alesha yang diselingi oleh tawa gelinya.


Zhorif menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gue masih waras, Sha. Nggak akan merebut kebahagiaan dia secepat itu, masa depannya masih panjang," balas pria itu apa adanya.


"Alah! Yakin banget nih, Mas? Lo tau sendiri 'kan, tingkah laku adek ipar gue kayak gimana? Polos tapi juga menggoda di waktu yang bersamaan." Alesha berkata sembari mengerlingkan matanya jahil.


"Sha, bisa nggak, nggak usah ungkit bagian itu? Biar gue urus istri gue sendiri nantinya," ujar Zhorif tampak sebal karena terus dijahili.


"Ohh ... jadi masalah ranjang sama istrinya, mau diurus sendiri nih, Mas?"


Zhorif memutar bola matanya malas.


"Gue nggak ada maksud apa-apa ya, Rif, tapi gue cuma mau ngasih lo saran aja ... Zhara itu bukan perempuan yang bisa lo taklukin semudah itu," ujar Alesha, "taklukin dalam artian masalah ranjang, ya ... bukan percintaan! Zhara itu tipe perempuan lugu yang mudah dihasut-hasut, apalagi dia punya temen yang otaknya pada ngeres semua, macam Aufa dan Farel. Ih, parah sih, kalau lo sampe tahan sama pesonanya! Gue jempolin iman lo!"


Alis Zhorif terangkat sebelah, mulai merasa tertarik dengan topik yang yang dibicarakan oleh Alesha. "Gue nggak berniat punya anak dalam waktu dekat. Bisa bantu?" Akhirnya kalimat itu lolos setelah sekian menit Zhorif telan-telan.


"Lo yakin? Masalah ini bukan butuh pendapat lo aja, Rif ... Zhara juga," nasehat Alesha agak kaget.


Zhorif mengusap tengkuknya kikuk, tampaknya Alesha belum mengerti juga dengan apa yang dimaksud olehnya. "Nggak, bukan gitu. Gue belum punya niat untuk ngelakuin hubungan suami-istri," jelasnya lagi setelah menutup kedua telinga Keysha yang sedang duduk di pangkuannya.


"Hah?" Alesha ternganga dengan mata yang membulat sempurna. "Bukannya alasan lo nikah itu karena untuk ngasih BoNyok lo cucu?"


"Masalah BoNyok, itu bisa gue urus nanti, Sha..."


Alesha bangkit dari duduknya dengan punggung yang tegang. "Lo tau 'kan, kalau sampai Zafran denger lo ngomong kayak gini, dia nggak bakal diem aja?"


Zafran menganggukkan kepalanya yang tertunduk. Ia mengacak rambutnya frustrasi setelah itu. "Terus lo mau gue gimana, Sha?"


"Apanya yang gimana?!" Alesha meninggikan nada bicaranya karena mulai mengerti arah pembicaraan mereka.


"Gue nggak cinta sama Zhara!"


Zhorif tidak mau kalah, meski ia berusaha untuk menahan dirinya agar tidak meneriaki wanita itu.


"Rif..."


"Kenapa? Lo mau melarikan diri lagi? Mau bilang, kalau selama ini perasaan gue ke elo itu salah?"