Bestfriend ‘Til Jannah

Bestfriend ‘Til Jannah
Masih Lugu



“Aduh ... haus, nih!”


Zhara mengusap-usap lehernya seraya melirik Asyrah dan Zhorif secara bergantian karena kini mereka bertiga telah memasuki rumah milik kedua orangtua Asyraf dan duduk di sofa yang terletak di ruang tengah.


Asyraf yang kala itu duduk tepat bersebelahan dengan Zhara pun mengalihkan pandangannya dari Zhorif, mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut gadis itu dengan gemas. “Bentar lagi ya, Bi Sumi lagi ke warung beli mie goreng,” ujarnya sembari tersenyum.


Zhara dapat mengerti arti dari tatapan maut Zhorif yang mengarah ke tangan Asyraf yang masih berada di atas kepalanya. Buru-buru ia menepis tangan pria itu dan berkata, “Apaan sih, Syraf?! Bukan muhrim tau!” Ia memasang tampang pura-pura kesal.


“Kenapa lo? Abis hijrah?” Asyraf menertawakannya.


Zhara terkekeh canggung menatap Zhorif sebelum melayangkan sebuah tendangan maut ke arah tulang kering sahabatnya. “Dibilangin gue haus juga! Cepetan ambilin minum!” kesalnya.


Kendati merasa malas, Asyraf tetap menurut dan segera pergi ke dapur untuk paling tidak mengambilkan segelas air putih.


Sepergian sahabatnya, Zhara langsung melempar bokongnya untuk duduk di sebelah Zhorif seraya memamerkan senyuman lebarnya. “Mas marah, ya?” cicitnya.


“Nggak.” Pria itu memalingkan wajahnya, merasa terintimidasi oleh tatapan gadis remaja itu.


Diam-diam Zhorif merasa kesal kepada dirinya sendiri karena berbohong. Tapi, di satu sisi juga merasa kesal dengan Zhara yang terlalu tidak peka. Lagipula, mana ada orang yang tidak marah ataupun kesal ketika calon istrinya memperkenalkan dirinya sebagai seorang sepupu jauh?


“Dia pacar kamu?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja tanpa sempat ia saring lebih dulu.


Mata Zhara terbelalak. “Ya ampun, Mas. Aku mah, mana pernah pacaran tau! Kan, haram.”


Oke. Dapat dipastikan setelah ini Zhara akan langsung muntah-muntah karena merasa jijik dengan ucapannya sendiri. Tapi, dia memang tidak berbohong perihal tidak pernah pacaran karena sebelum bertemu dengn Zhorif, dia selalu disibukki oleh hasrat hatinya kepada Arka.


“Aku nggak bisa bilang ke dia kalau Mas itu calon suami aku, karena aku takut dia bakal nyebarin berita ini ke sekolah. Bisa-bisa kena d.o aku,” jelasnya dengan penuh kebohongan di setiap kata.


Zhorif manggut-manggut karena merasa semua yang diucapkan oleh gadis itu masuk akal. “Kamu yakin mau nginep di sini?” Salahkan hatinya yang entah mengapa selalu merasa mudah khawatir dan iba kepada setiap orang yang ditemui.


Zhara menganggukkan kepalanya tanpa ragu. “Nggak usah khawatir, Mas. Aku sering kok, nginep di sini rame-rame sama Aufa dan Farel.”


“Memangnya mereka nginep di sini juga malem ini?” Tampaknya mulut Zhorif tidak cukup puas untuk bertanya.


“Nggak...” Suara yang berasal dari belakang membuat mata Zhorif berpaling ke arah Asyraf yang telah menyediakan dua gelas air putih di atas nampan yang ia bawa. “....tapi lo tenang aja, Bang. Gue bisa kok, jagain Zhara.” Pria itu berkata dengan penuh percaya diri, namun saking percaya dirinya malah terlihat angkuh di mata Zhorif.


Zhorif meminum air putih yang telah disediakan sebanyak dua teguk, lalu meletakkan gelasnya kembali ke atas meja dengan helaan napas. Ia terdiam cukup lama sebelum melempar pandangan menuju Asyraf. “Nggak bisa. Zhara adalah tanggung jawab saya dan saya melarang dia untuk menginap di rumah kamu,” ujarnya dengan penuh ketegasan.


“Hah!?”


Zhara membulatkan matanya syok. Habislah dia, jika Zhorif benar-benar akan mengirimnya ke rumah Zafran.


“Ayo, pulang.”


*


*


*


“Zhara.”


Panggilan yang berasal dari Zhorif membuat gadis itu harus memberhentikan percakapannya dengan para suster. Ia tersenyum lebar ke arah tunanganya sembari melambai-lambaikan tangan.


Ya, sesuai dengan dugaan kalian, Zhorif membawa Zhara untuk ikut ke rumah sakit karena jam makan siangnya sudah habis dan ia mana mungkin terlambat datang atau membolos kerja.


“Mas udah selesai kerjanya?” Gadis itu memeriksa jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 20.30 malam.


“Hm...” sahutnya singkat, “....sudah malam. Sebaiknya, kita makan malam dulu.”


Zhara meneguk ludahnya susah payah, merasa keberatan dan berpikir bahwa Zhorif akan segera memulangkannya ke rumah Zafran sehabis makan malam.


“Mas bisa masak?” tanyanya tiba-tiba.


Zhorif menganggukkan kepalanya. “Memangnya, kenapa?”


“Keberatan nggak, kalau masakkin aku makan malam? Tenang aja, aku pasti bantuin, kok!”


Zhorif diam, tampak berpikir sejenak. “Tapi, saya mana mungkin mengajak kamu ke rumah saya.” Tentu saja, mana mungkin! Bisa-bisa ibunya menggila saking kesenangannya dan mulai berpikiran yang aneh-aneh atau bahkan bisa menyuruhnya untuk segera menikah.


Mendengar ucapan Zhorif membuat Zhara langsung menundukkan kepalanya seraya menghela napas kecewa.


“Bagaimana kalau ke apartemen saya? Itu sih, kalau kamu tidak keberat-“


“Nggak, Mas!” Zhara sontak mengangkat kepalanya dengan mata yang berbinar-binar, “Nggak akan mungkin ngerasa keberatan, kok!” lanjutnya lagi.


“Hm ... yaudah, kalau gitu.” Zhorif kembali manggut-manggut.


Sesampainya mereka di sebuah apartemen mewah milik Zhorif, Zhara langsung menghampur untuk membaringkan tubuhnya ke atas sofa yang terasa begitu empuk, mengabaikan tatapan protes Zhorif akibat rok sekolahnya yang sedikit terangkat karena posisinya saat ini.


“Kamu mau makan apa?” tanya pria itu seraya menggulung lengan kemejanya, lalu mencuci tangan di wastafel dapur.


“Makan Mas bisa, nggak?” sahut gadis itu dengan wajah yang kelewat polos.


“Siapa yang ngajarin kamu bicara begitu?” tanya Zhorif yang sudah tidak kaget lagi dengan kata-kata aneh gadis itu.


“Temenku, namanya Farel...” jawab Zhara jujur, “Mas, kalau kita udah nikah, baju-baju aku harus diganti semua, ya.” tanyanya yang tiba-tiba teringat akan ucapan Aufa dan Farel.


“Maksud kamu?” Zhorif membalikkan tubuhnya dan menatap Zhara dengan alis yang bertaut.


“Katanya aku udah nggak boleh pake piyama gambar Pokemon, Hello Kitty, sama Doraemon...” Gadis itu menundukkan wajahnya sedih, “....harus diganti sama yang seksi-seksi biar Mas Zhorif nggak selingkuh,” lanjutnya lagi yang berhasil membuat Zhorif tersedak oleh ludahnya sendiri.


“Kayaknya, kamu harus berhenti deh, temenan sama temenmu yang namanya Farel-Farel itu,” sahutnya setelah berhasil menghentikan batuk.


“Emangnya bener ya, Mas?” Zhara tidak lagi berada di sofa, karena gadis itu kini menghampiri Zhorif untuk mempersiapkan diri membantu memasak.


Zhorif menggelengkan kepalanya. “Punya satu perempuan saja sudah bikin saya pusing,” gumamnya tanpa sadar yang sebenarnya bermaksud untuk menyindir ibu kandungnya sendiri.


Zhara tersenyum mendengar ucapan Zhorif. “Berarti kalau kita nikah nanti, aku masih boleh kan, pake piyama yang ada gambar kartunnya?!” tanyanya kegirangan.


“Hm.” Terserah sajalah.


“Asikkkkkk!!!”


💎


Mohon maaf, Mbah... karena suka lama update 👏🙏🏻😫