Bestfriend ‘Til Jannah

Bestfriend ‘Til Jannah
Dilamar Beneran



"Mas mau kemana?" tanya Zhara ketika melihat Zhorif tengah bersiap-siap memakai sepatunya untuk pergi keluar.


Zhorif menoleh singkat ke arah Zhara sebelum kembali fokus mengikat tali sepatunya. "Ke rumah saya," jawabnya.


Zhara yang saat itu tengah duduk di atas sofa langsung bergerak turun dan menghampiri Zhorif. "Kok, pulang sih, Mas? Mas nggak temenin aku nginep di sini?" Gadis itu mengerjapkan matanya dengan polos beberapa kali.


Zhorif menatap Zhara dengan sebuah senyuman simpul yang selalu mampu membuat gadis itu meleleh. "Kamu tau kan, saya ini laki-laki?" Zhara menjawabnya dengan anggukan kecil. "Kalau begitu, apa menurut kamu, saya tinggal di sini sama kamu, akan enak dipandang sama tetangga?"


Zhara menundukkan wajahnya kecewa dengan bibir yang mengerucut. "Tapi kan, pas kita dateng, nggak ada satupun tetangga yang ngeliat."


"Tetap saja tidak enak dipandang. Kalaupun para tetangga tidak merasa terganggu, saya yang merasa terganggu karena harus tinggal di satu atap yang sama dengan perempuan yang bukan muhrim saya."


Zhorif meraih knop pintunya dan berancang untuk keluar dari apartemen itu. Namun, pergerakkannya terhenti akibat lengan bajunya yang ditahan dan ditarik pelan oleh Zhara.


"Aku takut tidur sendirian. Bisa nggak untuk kali ini aja, Mas nggak usah pikirin masalah agama?"


Zhorif menegak ludahnya gugup. Matanya seakan telah dihipnotis oleh manik hitam lugu Zhara yang berkaca-kaca. Untungnya, dia kuat iman. Zhorif berdehem, lalu menjauhkan tangan Zhara dari baju lengannya.


"Saya harus pulang. Ibu saya pasti sudah menunggu di rumah," balas Zhorif yang berarti sebuah penolakkan.


Zhara menghela napasnya kecewa, lalu menganggukkan kepalanya lesu. "Yaudah deh, Mas. Hati-hati ya, di jalan." Zhara melambai-lambaikan tangannya sebelum mendorong punggung Zhorif keluar dan menutup kembali pintu apartemen milik pria itu.


Zhorif mengangkat salah satu alisnya keheranan, sebelum memutuskan untuk benar-benar melenggang pergi ke basement untuk mengambil mobilnya.


...***...


Zhara menghela napasnya untuk yang sekian kali. Kepalanya bergerak memutar untuk melihat lingkungan sekitar. Pikirannya mulai melayang kemana-mana ketika melihat balkon yang terlihat akibat pintu kaca yang tak ditutupi oleh gorden. Karena merasa tidak nyaman, Zhara memutuskan untuk segera menarik tirai dan menutupi pintu kaca tersebut. Namun, hal itu tidak berhasil membuat keadaannya membaik, yang ada malah bulu kuduknya semakin meremang.


Zhara pun menyerah akan rasa takutnya. Ia memasang sandal rumah milik Zhorif dengan tergesah-gesah, lalu bergegas pergi turun ke lantai basement, berharap Zhorif masih di sana dan belum pergi.


Tinggal selangkah lagi menginjak lantai aspal parkiran, jalannya sudah lebih dulu dihadang oleh tiga orang pemuda mabuk yang tengah memegang masing-masing satu kaleng bir.


"Hei, Cantik! Kok, sendirian, sih?!" tanya salah satunya sembari menatap Zhara dengan mata yang sayu.


Zhara meringis seraya membekap hidungnya, merasa mual dengan bau rokok dan alkohol yang sangat menyengat, keluar dari mulut pria itu.


"Bau banget, sih! Kalian nggak pernah sikat gigi, ya?!" tanya Zhara secara terang-terangan tanpa berniat untuk menghindar ataupun takut.


Ketiga pemuda itu saling melempar tatap satu sama lain sebelum terbahak kencang. "Sayang ... cantik-cantik, tapi blo'on, ya? Enak buat dijadiin mainan," kekeh salah satunya yang disetujui oleh dua orang lainnya.


"Ih! Jangan pegang-pegang!" Zhara menepis tangan salah satu laki-laki yang berniat mencekal pergelangan tangannya.


Ketiga laki-laki itu kembali tertawa melihat raut wajah ketakutan yang kian tercetak jelas di wajah Zhara.


"Apaan, sih?! Nggak usah ketawa-tawa! Hawa kalian bau bangkai tau!" omel Zhara dengan alis yang mengerut tak suka. "Udah, ah! Gue nggak ada waktu ngeladenin kalian bertiga!" Zhara mendorong tubuh ketiga pemuda itu sekaligus karena menghalangi jalannya.


"Tinggalin nomor lo, dong!" Pemuda yang terlihat paling tampan di antara yang lain, menahan lengan Zhara hingga membuat gadis itu terpaksa menghentikan langkah kakinya. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu menyodorkan ke Zhara.


"Nggak mau! Aku udah nikah tau!" tolaknya seraya mendorong kembali ponsel itu ke pemiliknya.


"Nikah? Lo pikir gue ****? Diliat dari seragam sekolah lo kayak gini...." Pria itu menatap tubuh Zhara dengan saksama secara tidak sopan.


Zhara mendengus sebal sebelum menjinjit untuk memukul kepala pria itu dengan tenaga yang cukup kuat. "Jangan kurang ajar!"


"Kurang ajar?" Pemuda itu berdecih dan mengeluarkan senyuman miring. "Kayaknya, gue harus ngajarin lo deh, apa arti dari kata kurang ajar yang sesungguhnya." Setelah berkata seperti itu, tubuh Zhara diangkat paksa menuju bahu pria itu.


"Ih! Lepasin gue!"


Zhara memberontak sekuat tenaga, tapi tetap tidak berhasil juga untuk membuat ketiga pemuda itu menyerah. Yang ada malah, mereka bergegas memencet tombol lift untuk membawa Zhara ikut masuk ke dalam apartemen mereka.


"Lepasin istri saya!" perintah Zhorif datar, tapi suaranya malah terdengar menakutkan, apalagi dengan raut wajah yang tidak pernah dikeluarkan olehnya sebelumnya.


Ketiga pemuda itu tampak syok dan sedikit tersadar dari mabuknya, lalu buru-buru melepaskan Zhara dari gendongan mereka.


Tatapan Zhara langsung beralih menuju Zhorif yang berdiri di hadapannya, matanya berkaca-kaca menahan tangis seakan menunjukkan bahwa dirinya benar-benar ketakutan saat ini.


Tanpa disangka-sangka, Zhorif melangkah masuk ke dalam lift, lalu membawa Zhara untuk masuk ke dalam dekapannya tanpa rasa ragu seperti biasanya.


Zhara tampak kaget sesaat. Namun, di detik selanjutnya, ia mulai merasa nyaman dan bisa menangis dengan kencang, memuaskan diri.


"S-sorry, Bang. Kami nggak tau kalau lo adalah suaminya. Gue kira, lo belum nikah," ujar salah satu dari ketiga pemuda itu.


Ya, memang benar bahwa ketiganya mengenal Zhorif karena pria itu memang cukup dikenal oleh para penghuni apartemen di sana. Tentu saja, hal itu terjadi karena profesinya sebagai dokter, wajahnya yang terlalu tampan, serta sikap alimnya yang membuat siapa saja yang melihatnya merasa rendah diri.


"Udah berapa kali gue bilang untuk berhenti minum minuman keras?"


Ketiga pemuda itu kompak langsung menyembunyikan kaleng bir mereka ke punggung. "Stress, Bang. PR di rumah banyak banget!" ujar salah satunya ngeles.


"Kalau stress itu shalat! Bukan ngebir!" omel Zhorif seraya berdecak geram. "Kalau gue sampai ngeliat kalian mabuk-mabukkan sekali lagi, gue aduin lo bertiga ke orangtua kalian!" ancamnya sebelum menyuruh ketiga orang itu keluar dari lift.


*


*


*


"Udah lega nangisnya?"


Zhorif baru berani membuka pertanyaan ketika mereka sampai kembali di apartemennya dan duduk di sofa dengan posisi Zhara yang masih setia memeluk pinggangnya erat.


Zhara mengangkat kepalanya yang awalnya bersandar di dada Zhorif, lalu mengangguk pelan.


"Kalau udah puas, saya mau ganti baju dulu, kebasahan gara-gara air mata kamu."


Zhorif menggerakkan tangannya untuk menjauhkan tangan Zhara dari tubuhnya. Namun, Zhara menolak dan malah mempererat pelukkannya.


"Kenapa coba Mas pake sok-sokan mau ninggalin aku sendirian?! Aku kan, takut!" Setelahnya tangisan Zhara yang mereda kembali memecah.


"Iya-iya, saya minta maaf. Tolong jangan nangis lagi, ya?" Zhorif meringis karena sakit kuping, tapi di satu sisi juga merasa bersalah karena sempat berniat untuk meninggalkan gadis selugu Zhara sendirian.


Zhara mengangguk menurut dan menghentikan tangisannya yang memekakkan telinga.


Keduanya saling berdiam diri dengan posisi yang saling melekat satu sama lain. Zhara sibuk menetralkan debaran jantungnya yang terlalu keras, sedangkan Zhorif juga melakukan hal yang tidak jauh berbeda. Zhorif takut, Zhara bisa mendengar suara jantungnya karena posisi gadis itu yang bersandar ke dadanya.


"Kamu nggak mandi?" tanya Zhorif dengan suara yang diatur agar tidak terlihat gugup sama sekali. Ia sengaja menyuruh Zhara mandi agar dirinya bisa cepat-cepat terlepas dari gadis itu.


Zhara tampak menimbang sejenak sebelum mengangkat wajahnya untuk menatap Zhorif. "Mas mau nemenin aku mandi, nggak? Aku takut."


Zhorif tidak lagi kaget seperti waktu dulu. Ia sudah mulai beradaptasi dengan kata-kata Zhara yang terdengar vulgar, tapi sebenarnya juga menunjukkan seberapa polosnya isi otak gadis itu. Kini, hal itu membuat Zhorif semakin ingin menjaga dan melindunginya agar tidak terpapar dengan pergaulan buruk.


"Zhara...."


"Hm?"


"Kita menikah saja, ya?"