Bestfriend ‘Til Jannah

Bestfriend ‘Til Jannah
Jodoh Tak Akan Kemana



"Lo boleh minta apa aja, harga diri gue juga boleh, bahkan nyawa gue, tapi maafin gue, ya, Ra...."


Zhara menatap ketiga sahabatnya yang telah berlutut tepat di depan kakinya. Apa yang mereka lakukan, tentu saja membuat gadis itu cukup terkejut dan merasa malu karena posisi mereka saat ini sedang berada tepat di tengah-tengah pintu masuk kelas.


"Kalian kenapa?" Zhara memutar kepalanya untuk menengok ke belakang. "Ngomong sama siapa, sih?" tanya Zhara seraya menekuk kakinya untuk ikut berlutut bersama dengan teman-temannya.


Hal itu pun membuat Farel langsung menarik Zhara ke pelukkannya. "Terkadang otak bolot lo, bisa berguna juga," ujarnya seraya mengelus lembut bahu gadis itu.


Karena terlalu lama berpelukan, Asyraf memutuskan untuk melepas paksa dan menjauhkan Farel dari Zhara. "Kemarin lo kepergok sama Bu Mitha, ya?" tanya Asyraf, membuat topik baru yang jelas jauh lebih penting.


Mengulang kembali ingatannya mengenai Zhorif, membuatnya tiba-tiba mengembangkan senyuman lebarnya dan berjalan riang menuju kursinya. Tingkah anehnya itu membuat Aufa, Asyraf, dan Farel turut kebingungan dan menghampiri gadis itu. Aufa mengulurkan punggung tangannya ke dahi Zhara untuk mengecek suhu tubuh gadis itu. "Sakit lo? Senyum-senyum sendiri," ujarnya.


Zhara menatap ketiga sahabatnya dengan mata berbinar-binar. "Kemarin gue ketemu jodoh gue di masjid...." Zhara tampak begitu antusias mengulang cerita yang dialami olehnya kemarin, ia bahkan sempat-sempatnya menunjukkan nomor ponsel Zhorif yang ia dapatkan dengan cara memaksa dan mengancam.


Mendengar cerita itu, Aufa pun hanya bisa berdecak dan menepuk-nepuk tangannya kagum. "Lo yang ngomong, kok, gue yang malu, ya, Ra?" ujar Aufa tampak kebingungan dengan dirinya sendiri.


Di sisi lain.


"Hachim!"


Suara bersin Zhorif yang cukup kuat, sontak mengundang sang ibu untuk menatapnya khawatir. "Kamu sakit, Rif? Mama, kan, udah bilang ... selain jaga kesehatan pasien, kamu juga harus jaga kesehatanmu sendiri, dong!" kesal Ranti pada putra semata wayangnya itu, "ini alasan Mama maksa kamu untuk cepat menikah, supaya ada yang ngurusin kamu, Nak...." Ranti menghela napasnya seraya berkacak pinggang.


Zhorif hanya bisa membalas omelan ibunya dengan senyuman. "Aku cuma bersin doang, Ma. Coba Mama perhatiin Papa tuh, yang pucat nggak sembuh-sembuh," sindir Zhorif pada ayahnya yang tadi pagi secara diam-diam memoleskan bedak wajah dengan tebal agar terlihat pucat di mata istrinya. Hal itu sengaja dilakukannya, agar Ranti memberinya lebih banyak perhatian.


Ranti hanya bisa terkekeh geli menatap suaminya yang tiba-tiba terbatuk keras. "Pantes aja bedak rias Mama selalu rusak. Nggak heran...." Zhorif pun ikut menertawakan sang ayah yang menutupi wajahnya malu menggunakan koran pagi.


"Oh, iya, Rif. Mama sama Tante Erna udah buat janji temu untuk kamu dan putrinya," ujar Ranti yang sontak membuat Zhorif menghentikan tawanya. "Ayolah, Nak ... Mamamu ini sudah tidak muda lagi, ingin cepat-cepat menggendong cucu. Turuti permintaan Mama, kali ini aja, ya?" pinta Ranti seakan tahu bahwa putranya pasti akan menolak.


Zhorif menghela napasnya gusar. "Ma, memangnya kapan aku nggak nurutin permintaan Mama? Untuk kali aja, biar aku yang tentuin siapa wanita yang akan aku pilih untuk dijadikan istriku," ujar Zhorif dengan nada selembut mungkin, takut-takut menyakiti perasaan ibunya.


"Pa ... lihat anakmu itu!" rengek Ranti pada Hasan yang membuat pria paruh baya itu menolehkan kepalanya ke arah Zhorif.


"Sudahlah, Rif ... apa salahnya menuruti permintaan Mamamu? Toh, kamu cuma bertemu sebentar dengan gadis itu," ujar sang ayah, ikut membujuk.


Zhorif hanya bisa memijat pelipisnya yang terasa pening seraya menganggukkan kepalanya pasrah. "Ya, terserah sama Mama. Silakan atur jadwal pertemuannya," ujarnya pasrah. "Aku berangkat kerja dulu, Pa, Ma. Assalamu'alaikum," pamit Zhorif sebelum meninggalkan ruang makan di kediaman keluarga Maulana itu.


"Wa'alaikumsalam...."


Belum sempat menyalakan mesin mobil, sebuah panggilan yang berasal dari ponselnya membuat Zhorif segera mengangkat panggilan itu.


"Rif, Mama udah bikin janji temunya. Hari ini di Hotel Heavenland jam 16.00 sore, kamu jangan lupa, ya?!"


"Assalamu'alaikum, Ma...."


"Eh? Wa'alaikumsalam. Kok, salam terus, sih?"


"Tetap harus, Ma...."


"Oh ... yaudah, pokoknya kamu jangan sampai lupa. Awas, ya?!"


"Iya, iya...."


"Yaudah, Mama matiin, ya. Nggak usah pakai salam lagi, masa mau tiga kali ngucap salam-salamannya."


"Hm."


Zhorif menggeleng-gelengkan kepalanya, menahan rasa frustrasi yang seakan hendak merobek tubuhnya. Terkadang, ibunya memang selalu bersikap berlebihan kepadanya dan membuatnya merasa tak nyaman, walaupun Zhorif sendiri pun mengerti bahwa ibunya itu sedikit kesepian, lantaran sang ayah yang masih sibuk bekerja di usia tuanya.


Line!


"Mas, addback aku, ya 😘"


Zhorif mematikan ponselnya tanpa menghiraukan pesan yang dikirimkan oleh gadis itu. Pasalnya, ia tidak ingin mood paginya semakin memburuk lantaran adanya gangguan dari sang ibu dan juga gadis yang baru dikenalnya kemarin itu.


Drrtt ... drrttt ... drrrtttt...


Zhorif meraih ponselnya dengan menahan rasa kesalnya setengah mati.


"Assalamu'alaikum. Kenapa lagi, Ma? Aku lagi nyetir."


"Asyik ... senangnya dapet panggilan sayang dari calon suami. Wa'alaikumsalam juga Papa!"


Zhorif melotot karena terkejut, tangannya sontak menjauhkan ponselnya dari telinga dan menatap layar hitam yang semakin menjelaskan bahwa panggilan itu berasal dari Zhara, bukan Ranti.


"Maaf, Saya tidak bermaksud-"


"Nggak papa, kok, Mas! Mas ada waktu nggak? Ketemuan, yuk! Eh? Tapi, bukannya Mas lagi nyetir?"


"Iya, Saya sedang menyetir."


"Oke, deh, kalau gitu! Nanti lanjut lagi, ya, Papa Sayang...."


Tit!


Zhorif meletakkan dahinya di stir mobil dan membenturkannya dengan pelan untuk beberapa kali. Rasa malu pada dirinya saat ini benar-benar tidak bisa tertahankan lagi.


Pria itu menyudahi segala pikiran mengenai rasa malunya seiring kaki panjangnya melangkah teratur memasuki Rumah Sakit Maulana, sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang mempekerjakan dokter-dokter profesional yang terjamin. Ya, rumah sakit itu memang kepunyaan keluarganya, lebih tepatnya kepunyaan almarhum sang kakek yang dulunya menjabat sebagai direktur rumah sakit serta dokter spesialis bedah. Kini, posisi itu sedang ditempati oleh sang ayah-Hasan-dan akan diturunkan kepada Zhorif ketika pria itu sudah siap menjalin hubungan rumah tangga alias menikah.


"Selamat pagi, Dr. Zhorif!" sapa para suster yang selalu antusias menyambut kedatangan pria tampan itu.


Zhorif pun membalasnya dengan senyuman yang diiringi dengan anggukkan singkat sebelum dirinya mulai memasuki ruangan tempat para pasien berkonsultasi padanya.


Tak lama dari itu, datanglah seorang anak kecil yang tengah digendong oleh ibunya. Melihat sang ibu tampak keberatan menggendong putrinya, membuat Zhorif mengulurkan tangannya untuk membantu dengan cara mengambil alih sang gadis kecil.


"Keysha sakit lagi?" tanya Zhorif ketika mendapati cairan ingus yang keluar dari lubang hidung gadis kecil itu.


Sang ibu mengangkat tangannya ke atas tampak pasrah. "Nggak tau lagi, deh, gue. Udah berapa kali gue bilangin papanya untuk berhenti kasih Keysha permen, masih aja. Ludes, kan?!" omelan itu sontak membuat Zhorif terkekeh geli.


"Uncle ... Mama sakit, ya? Kenapa dia suka marah-marah terus?" tanya gadis kecil itu seraya berbisik, walaupun bisikkannya itu tetap bisa didengar oleh sang ibu.


Zhorif mengendikkan bahunya seraya menggelengkan kepalanya, memasang raut wajah bodohnya. "Nggak tau, mungkin Mama mau cari Papa baru untuk kamu, Key," balas Zhorif yang membuat sang ibu sontak melotot tajam ke arahnya karena telah berbicara sembarangan.


Gadis kecil bernama Keysha itu tampak menganggukkan kepalanya dengan wajah polos. "Kalau Uncle? Uncle kapan punya Aunty baru?" tanyanya.


Pertanyaan itu membuat ibu dari Keysha tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun, Key ... satu aja dia nggak punya, gimana mau nyari yang baru!" tawa wanita itu, membalas dendam.


-bersambung-


Lanjut lagi, nggak?


Kalau mau....


Voments dulu dong! Jangan pelit, tar kuburan lo sempit 😅


-Charlies_N-