Bestfriend ‘Til Jannah

Bestfriend ‘Til Jannah
Lamaran Diterima



Erna dan Ranti yang kala itu baru saja hendak melangkah memasuki area makan hotel tersebut sontak verhenti.


"....saya akan menikahi kamu...."


Kedua wanita paruh baya itu saling melempar tatap seakan kebingungan dengan situasi yang terjadi saat itu.


Di lain sisi, Zhorif tampak menghela napasnya lega ketika melihat pria asing itu meninggalkan mereka berdua tanpa berkata apa-apa.


Kini tinggal Zhara yang tampak kebingungan di tempatnya. "Mas, baru melamar aku, lho," ujar Zhara setelah puas berpikir dengan pikirannya sendiri.


Zhorif menganggukkan kepalanya seakan menyetujui ucapan yang baru saja dikeluarkan oleh remaja itu. Zhorif mengeluarkan ponselnya dan menyodorkannya kepada Zhara. "Ini foto kamu, kan?" tanyanya seakan memastikan bahwa penglihatannya masih baik-baik saja.


Zhara menganggukkan kepalanya dengan kening berkerut kebingungan. "Kok, bisa ada di Mas?" tanyanya.


Zhorif mengusap wajahnya kasar, tampak frustrasi, sebelum menetralkan kembali ekspresi wajahnya. "Saya pria yang akan dijodohkan dengan kamu," jelasnya.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Otak Zhara memerlukan waktu sebanyak itu untuk mencerna kalimat yang dilontarkan oleh pria di hadapannya itu sebelum kaki Zhara tampak melemas dan hampir saja terjatuh, jika Zhorif tidak memegangi bahunya kembali.


"Ada apa?" tanya Zhorif seakan khawatir dengan tingkah Zhara yang aneh setelah mendengar penjelasannya.


"Sebentar, Mas..." lirih Zhara dengan pandangan kosong yang mengarah ke lantai.


Setelah gadis itu berhasil mengendalikan rasa syoknya, ia kembali berdiri dengan tegap dan menatap Zhorif dengan mata berkejap.


"Kita bisa makan malam bersama. Ada banyak yang hendak Saya sampaikan," ujar Zhorif sebelum berjalan lebih dahulu untuk memasuki area makan.


Zhara pun membalasnya dengan anggukkan dan bergegas menyusul Zhorif yang sudah pergi lebih dulu.


Keduanya duduk tepat di sebuah meja yang berdekatan dengan kaca yang menampilkan ramainya kota Jakarta pada malam hari.


Keduanya tampak terdiam cukup lama karena rasa canggung yang tiba-tiba menerpa. Untuk menghilangkan situasi itu, Zhara pun berinisiatif untuk memanggil sang pelayan untuk memesan makanan yang sejak tadi ia minati di gambar menu. Zhorif pun tampak menyetujui inisiatif gadis itu dan ikut memesan makan malamnya.


"Aku baru tau kalau Jakarta sekeren ini kalau diliat dari atas," ujar Zhara dengan mata yang tertuju pada kaca.


Zhorif menganggukkan kepalanya setuju setelah berdehem untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. "Soal tadi-"


"Aku tau Mas nggak bermaksud bicara seperti itu, kok!" potong Zhara cepat dengan rasa gugup.


Zhorif menghela napasnya merasa lega. "Baguslah, kalau kamu mengerti," ujarnya.


Situasi hening kembali menenggelamkan keduanya setelah perbincangan singkat itu. Zhara tampak memainkan jemari-jemarinya seraya menundukkan kepalanya terus-menerus.


"Mas...."


Zhorif mengangkat kepalanya untuk menatap manik Zhara yang terus bergerak seakan menyatakan bahwa sang pemiliknya sedang merasa tidak nyaman. "Aku mau narik ucapan aku yang tadi!" ujarnya yang sontak membuat Zhorif membulatkan matanya terkejut. "Ayo, menikah!" ajak Zhara tampak antusias sehingga mengeluarkan suara yang cukup besar sampai-sampai membuat orang di sekitar mereka ikut menoleh.


"Apa kamu bilang?" Zhorif mendekatkan telinganya seakan memastikan bahwa pendengarannya masih baik-baik saja.


"Iya, ayo, menikah!" ulang Zhara tanpa keraguan di kalimatnya. "Aku dengar umur Mas nggak lama lagi bakal berkepala tiga, cukup matang untuk menikah," ujarnya seraya tersenyum.


"Bukan masalah, kok, Mas," balas Zhara enteng.


Zhorif lagi-lagi harus menghela napasnya, bingung bagaimana cara menolak remaja yang baru saja mengajaknya untuk menikah tanpa menyakiti perasaannya. "Memangnya kamu nggak punya cita-cita? Saya adalah tipe suami yang tidak suka istrinya bekerja," ujarnya.


Zhara membulatkan matanya seraya menepuk tangannya heboh. "Cita-citaku sekarang ini adalah menikahi Mas dan ngomong-ngomong aku juga suka tipe suami yang mengekang istrinya," balas Zhara dengan senyuman polosnya.


Zhorif menahan geraman kesalnya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Saya belum berniat untuk menikah..." jelas Zhorif, "....Saya datang ke sini karena kemauan ibu Saya," tambahnya.


"Sama, dong, Mas! Aku juga dateng karena Mami maksa," balas Zhara, cengingisan.


"Apa kamu mengerti maksud dari semua ucapan Saya?" tanya Zhorif tampak lelah meladeni gadis di hadapannya itu.


Dan, Zhara malah memasang ekspresi kebingungan dan menggeleng dengan polosnya.


"Saya bermaksud untuk menolak perjodohan konyol ini!" jelas Zhorif dengan tegas seraya bangkit dari duduknya.


Zhara tampak terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Zhorif dan menatap pria itu dengan takut-takut. "Mas marah, ya?" tanyanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Zhorif pun ikut terkejut ketika melihat Zhara yang tampak ingin menangis karena ucapannya yang terdengar seperti bentakkan. Rasa bersalah langsung merasuki dirinya. "Saya tidak bermaksud-"


Tangisan Zhara tiba-tiba pecah, kulit wajahnya yang berwarna putih tiba-tiba saja memerah seiring air mata berjatuhan dari mata bulatnya. Suara sesenggukkan yang dikeluarkan oleh gadis itu berhasil menarik kembali perhatian orang-orang di sekitar mereka.


Zhorif bergegas menghampiri Zhara dan mencoba menenangkan gadis itu dengan elusan pada bahunya. Untuk beberapa kali Zhorif mengumpati dirinya yang berhasil melakukan dosa yang berulang dengan menyentuh tubuh seseorang yang bukan muhrim-nya.


"Mas kenapa nggak mau nikah sama aku?" tanya Zhara di sela tangisannya.


"Bukan begitu-"


"Mas sendiri, kan, yang bilang kalau Mas mau bertanggung jawab. Kalau aku nanti hamil gimana, dong?" tanya Zhara seraya menghapus air mata yang membasahi pipinya.


Zhorif kembali dilanda rasa tak nyaman begitu orang-orang di sekitar mereka langsung berbisik-bisik dan menatapnya seakan-akan ia adalah seorang pria brengsek yang baru saja meniduri gadis itu dan tidak ingin bertanggung jawab.


" Ya Allah ... harus berapa kali Saya bilang kalau kamu tidak akan hamil...." Zhorif menghela napasnya geram, tetapi tangannya malah bergerak sendiri untuk mengusap rambut Zhara untuk menenangkan gadis itu.


"Tapi, aku mau nikah sama Mas," rengeknya kembali mengeraskan tangisannya.


Zhorif mengusap rambutnya frustrasi sebelum menganggukkan kepalanya dengan yakin. "Baik, kita akan menikah kalau kamu berhenti menangis," ujar Zhorif dengan tegas.


Dan, hal itu berhasil menghentikan tangisan Zhara dalam waktu kurun dari 5 detik. "Beneran, Mas?" tanya gadis itu memastikan.


"Hm ... terserah kamu," ujar Zhorif sebelum kembali ke kursinya dengan kaki yang melemas.


-bersambung-


Wah, nggak nyangka ada lamaran yang kayak begini, kan?


Siapa yang mau dapet lamaran kayak gini, tunjuk tangan!


Jangan lupa tinggalkan voments yang bermacam ragam supaya Author makin semangat update, ya....


-Charlies_N-