Bestfriend ‘Til Jannah

Bestfriend ‘Til Jannah
Fitting Baju



"Subhanallah ... cantik sekali kamu, Nak!" Ranti berdecak kagum ketika tirai dibuka, menampakkan Zhara yang kian tubuhnya telah oleh gaun pernikahan berwarna putih bersih. Rambutnya yang agak ikal, digulung sembarangan, hingga mengeluarkan kesan aesthetic bagi siapa saja yang melihatnya. "Zhorif beruntung sekali bisa menikah sama kamu!" Ranti tampak begitu bahagia hingga memeluk calon menantunya yang hanya bisa diam dan tersipu malu.


Zhara memutar tubuhnya, mematut diri sendiri di depan cermin besar yang membuat keseluruhannya terlihat lebih jelas. Fokusnya teralihkan ke bagian dada. Gaun ini memang terkesan elegan dan feminim. Namun, tidak itu saja. Gaun ini juga mengambil kesan seksi hingga bagian dadanya diukir lekuk ke bawah.


"Kamu ukuran berapa, Nak? Besar sekali." Zhara hampir tersedak oleh ludahnya sendiri ketika mendengar komentar yang diberikan oleh Ranti padanya. Ah, ralat. Sepertinya itu lebih terdengar seperti kekaguman, dilihat dari cara Ranti menatap dadanya dengan mata yang berbinar-binar.


"Eh ... Tante, kayaknya kita cari gaun yang lain aja, deh. Aku takut Mas Zhorif kurang suka," cicitnya memberanikan diri untuk memberi tanggapan. Sejujurnya, jauh di dalam lubuk hati, Zhara sudah sangat menyukai gaun tersebut. Namun, balik lagi, ia berpenampilan cantik bukan untuk dirinya, tapi untuk Mas Zhorif-nya, dan jika dilihat-lihat, semua orang pun pasti akan tahu bahwa Zhorif tidak akan pernah menyetujuinya untuk memakai gaun itu.


"Kok, Tante sih, Sayang? Panggil Mama aja, sebentar lagi kan, kamu jadi menantu Mama," nasehat Ranti yang membuat Zhara cepat menganggukkan kepalanya menurut. "Dan soal gaun ... kamu nggak perlu mikirin pendapat Zhorif, kalau kamu suka, ya, kita beli aja. Lagipula, Zhorif udah bilang ke Mama, terserah kita mau pilih gaun yang mana."


"Beneran, Ma?" Tanpa sadar, Zhara mengeluarkan nada antusiasnya. Ia benar-benar bahagia saat tahu bahwa kemungkinan dirinya untuk memakai gaun itu di hari pernikahannya adalah 100 persen.


Setelah bahagia untuk sesaat, Zhara tiba-tiba teringat akan sesuatu. "Mas Zhorif bilang begitu, itu berarti ... dia nggak bisa dateng buat fitting baju ya, Ma?" tanyanya yang ekspresinya kian berubah menjadi sedih dan kecewa. Padahal, ia sangat ingin melihat Zhorif memakai jas, apalagi jika jas yang dipakainya itu adalah pilihan Zhara sendiri.


Ranti mengusap tengkuknya kikuk, merasa tidak tega untuk menjawab jujur. Oleh karena itu, ia buru-buru membuka ponselnya untuk mengirim pesan pada putranya, memaksa Zhorif untuk tetap datang walaupun negara seberang menyerang. Namun, baru saja mengetikkan satu kata yang belum terkirim, Zhorif sudah lebih dulu mengirimnya sebuah pesan, yang menjelaskan bahwa pria itu sudah berada di depan gedung dan sedang berjalan untuk sampai ke tempat mereka saat ini.


"Mbak, apa bagian dadanya bisa dimodif ulang? Soalnya, bagian lekukkannya ini terlalu terbuka," ujar Zhara pada sang desainer baju.


"Lho, kenapa? Ini modelnya udah bagus, kok! Mama udah suka banget. Nggak usah diubah-ubah, deh. Mama yakin Zhorif suka juga, kok." Ranti buru-buru menghadang menantunya, sampai mati pun ia tidak akan pernah setuju Zhara menutupi bagian tubuhnya yang indah itu, apalagi di hari istimewanya. Bukannya bermaksud keras kepala, tapi Ranti pun tahu bahwa sebenarnya Zhara sudah sangat menyukai model gaun itu dan sama sekali tidak berniat untuk mengubahnya jika tidak memikirkan pendapat Zhorif.


Cklek!


Ketika bunyi knop pintu ditekan terdengar, Ranti dan Zhara langsung kehilangan fokus dan segera menolehkan kepala. Dilihatnya lah sosok Zhorif yang tersenyum ke arah Ranti. Namun, tiba-tiba senyumannya hilang ketika melihat Zhara. Ah, mungkin lebih tepatnya ketika melihat apa yang tengah dikenakan oleh gadis itu.


"Jangan berkomentar!" tekan Ranti sebelum Zhorif siap membuka mulutnya.


Zhara meringis ketika Zhorif melempar tatapan tajam ke arahnya, meski mulutnya masih bungkam akibat perintah dari sang ibunda.


"Ehm ... 'kan, Mas sendiri yang bilang ke Mama biar aku dan Mama pilih sendiri gaunnya," cicit gadis itu ketakutan.


Zhorif mengangkat salah satu alisnya bingung. Tatapannya langsung terarah menuju Ranti yang tiba-tiba sibuk dengan ponselnya, berpura-pura seolah ada yang menelepon dan pergi meninggalkan ruangan itu tanpa berkata apa-apa.


Zhara meringis. Ia memundurkan langkahnya ketika Zhorif mendekatinya dengan tatapan tajam. "Eh ... aku nggak niat buat pakai yang ini kok, Mas, tadi cuma mau coba aja. Hehehehe..." Tawanya renyah berusaha membodohi pria itu.


"Beneran?" tanya Zhorif dengan salah satu alis yang terangkat, mengintimidasi Zhara.


Namun, Zhara menggeleng pelan. "Gaunnya bagus, Mas ... aku jadi tergoda," cicitnya jujur.


"Kamu aja tergoda, apalagi saya," monolog Zhorif diam-diam. Sejak ia masuk ke ruangan itu, kealimmannya tandas sudah. Zhara benar-benar terlihat cantik dengan gaun itu, apalagi... Ah! Apa-apaan pikirannya ini?!


Kini, Zhorif mulai mengerti alasan di balik para orang tua sering menyuruh anak-anaknya yang hendak menikah untuk dipingit. Namun, yang Zhorif tak mengerti adalah kenapa sang ibunda dan ayahnya tidak berusaha memingit mereka seperti pasangan lain? Apakah kedua orangtuanya sudah terlalu memercayai kealiman Zhorif? Oh, ayolah! Bagaimana pun juga Zhorif masih seorang manusia, masih bisa khilaf seperti saat ini, ia berusaha keras untuk tidak menurunkan pandangan menuju dada Zhara.


"Emangnya Mas nggak suka ya, aku pakai yang model gini?" Zhara memberanikan diri untuk bertanya, meski ia sendiri tahu jawabannya.


Tahu? Mana mungkin! Zhara pasti berpikir bahwa Zhorif sangat tidak menyukai gaun tersebut, padahal faktanya terbalik. Zhorif benar-benar menggilainya hingga tidak dapat menahan diri andai saja sang desainer tidak berada di sana, memerhatikan interaksi mereka sembari tersenyum-senyum gemas.


"Cari yang lain aja," ujar Zhorif dengan susah payah, sebelum dengan susah payah pula mengalihkan pandangannya jauh dari Zhara.


"Hm ... oke," sahut Zhara sembari menggigit pipi bagian dalamnya. Ia pun meminta sang desainer untuk membantunya memilih kembali gaun mana yang kiranya akan disukai oleh pria alim seperti Zhorif.


"Yang ini bagus, Mbak," ujar Zhara ketika desainer itu meraih sebuah gaun sederhana bertangan panjang dan bagian dadanya pun tertutup pula.


"Iya, tapi bagian ininya..." Zhara mencelos ketika gaun itu diputar, memerlihatkan bagian punggungnya yang sangat terbuka. "Tapi, kalau adek emang suka banget sama yang ini, adek pakai aja, tapi jangan sampai dilihat bagian belakangnya sama pacar kamu," bisik sang desainer itu yang membuat Zhara sontak tersenyum bahagia dan segera mengangguk setuju.



"Mas kalau yang ini suka, nggak?" tanya Zhara setelah menghabiskan waktu hampir 10 menit untuk mengganti gaun yang baru.


Zhorif yang kala itu tengah menerima pesan perihal pasiennya hanya menoleh sesaat, kemudian menganggukkan kepalanya dan berkata, "Lumayan."


Sayangnya, Zhorif tidak tahu bahwa hati Zhara sudah jingkrak-jingkrak akibat kenakalannya tidak ketahuan oleh pria itu.