Bestfriend ‘Til Jannah

Bestfriend ‘Til Jannah
Tulang Rusuk



Pada akhirnya Alesha memang hanya akan merecoki pekerjaannya secara tak langsung dengan menitipkan Keysha kepadanya.


Zhorif hanya bisa geleng-geleng tak percaya, bahwa istri dari sahabatnya itu bahkan lebih memilih untuk mengikuti arisan yang diikuti oleh para suster dan beberapa dokter di rumah sakit ayahnya.


"Five little monkeys, jumping on the bed...."


Suara melengking Keysha yang menggema di ruangan serba putih itu membuat Zhorif mau tak mau melontarkan tawanya. Ada kepuasan tersendiri di dalam dirinya ketika melihat gadis kecil itu sangat bahagia hanya karena bisa memainkan ponsel milik Zhorif.


Pria itu segera menutupi mulutnya ketika mendapati Keysha yang memasang wajah kesal karena ditertawai olehnya.


"Uncle ke kamar mandi dulu, ya," pamit Zhorif seraya mengusap lembut puncak kepala Keysha dan meninggalkan gadis kecil itu untuk waktu yang tak cukup lama.


Sayangnya, sebuah panggilan tiba-tiba masuk dan membuat Keysha langsung menghentikan nyanyiannya. Jemari-jemari kecilnya bergerak tak tentu arah hingga akhirnya tanpa sengaja mengangkat ajakkan panggilan video tersebut.


"Akhirnya, Mas angkat juga! Katanya Mas mau nelpon aku setelah-"


"Kakak?"


"Lho?! Key, kamu, kok, bisa sama calon suami Kakak, sih?!"


"Calon suami Kakak?"


Tidak mendapat jawaban yang sesuai membuat Zhara berdecak frustrasi. Tapi, untungnya sebuah ide tiba-tiba terlintas di otaknya yang sederhana.


"Kamu lagi dimana Key?"


"Kantor Mama...."


Zhara bertepuk tangan dengan kuat karena akhirnya ia bisa mengetahui dimana keberadaan Zhorif saat ini. Ya, pasti di Rumah Sakit Maulana, bukan? Tempat sang kakak iparnya bekerja.


Gadis itu bergegas mengakhiri panggilan vidio itu dan mencari taksi untuk membawanya pergi menuju rumah sakit tersebut.


Beruntungnya, jalan raya kali sedang sepi. Hal itu tentu saja membuat Zhara dapat sampai di tujuannya dalam waktu yang singkat.


Gadis itu melebarkan senyumannya ketika kakinya melangkah masuk ke dalam bangunan besar yang bernuansa putih itu.


Tangannya merogoh kantung rok sekolahnya dan mencari nomor sang kakak ipar untuk dihubungi. Tetapi, belum juga panggilan itu tersambung, Zhara sudah lebih dulu menangkap Zhorif yang baru saja keluar dari toilet.


Gadis itu menggenggam ponselnya erat-erat seraya meyakinkan diri sebelum berlari mengejar sang pujaan hati yang ia rindukan.


Langkah kaki Zhorif yang cukup lebar membuat Zhara sedikit kesulitan untuk menyusul pria itu. Untungnya, Zhara bukanlah gadis yang mudah menyerah. Sampai pada akhirnya, ia berhasil menghadang Zhorif tepat di depan pintu ruangan pria itu.


Zhorif tampak terkejut sampai-sampai pria itu memundurkan langkahnya untuk menjauh. "Kamu?" tunjuknya, masih dengan mata membulat.


Zhara tersenyun dengan kepala terangguk-angguk. "Selamat siang, Masku Sayang!" sapa gadis itu dengan riangnya.


"Kamu tau darimana Saya ada di sini?" tanya Zhorif setelah mengusir rasa terkejutnya.


"Ya, tau dong! Tulang rusuk Mas yang menarik aku untuk datang ke sini," gombal Zhara dengan kerlingan pada matanya.


Zhorif kembali memundurkan langkahnya, bibirnya hampir saja terbuka jika ia ia tidak dapat mengendalikan ekspresinya dengan baik.


"Uncleeeee!"


Teriakkan dari dalam ruangan Zhorif membuat pria itu bergegas masuk tanpa peduli dengan tubuh mungil Zhara yang sedikit tersenggol karena pergerakkannya yang begitu tiba-tiba.


"Mau Mamaaaa!" rengeknya sebelum kembali menangis.


Gadis kecil itu tampak fokus menangis sehingga tak menyadari, jika Zhara berdiri tak jauh darinya. "Key?" panggilnya yang membuat Keysha sontak menoleh ke arahnya.


"Kakak?" panggil Keysha seraya mengucek matanya yang masih dipenuhi oleh air mata.


Zhorif lagi-lagi dibuat terkejut ketika mengetahui jika keduanya saling mengenal.


"Mas, biar aku aja yang gendong. Lebih baik Mas cari Mbak Sasha dulu, kayaknya Key haus," ujar Zhara sebelum mengulurkan tangannya untuk menerima Keysha.


Walaupun bingung, Zhorif tetap menganggukkan kepalanya dan pergi mencari Alesha setelah memberikan Keysha pada gadis SMA itu.


Cukup sulit dan memakan waktu lama bagi Zhorif untuk menemukan keberadaan Alesha yang ternyata sedang bercanda ria dengan para suster di kantin rumah sakit. "Sha! Anak lo nangis," jelas Zhorif dengan napas yang terengah-engah karena kelelahan.


Alesha tampak terkejut sebelum berlari menuju ruangan Zhorif yang mengharuskannya pergi ke lantai 5. Setelah sampai tepat di depan pintu ruangan, Alesha menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya untuk menatap Zhorif. "Gue numpang nyusuin Keysha, ya," cengir Alesha yang membuat Zhorif hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah.


"Gue tunggu di luar kalau gitu," ujar Zhorif.


Tak lama dari itu, Zhara pun keluar dengan tangan melambai pada Alesha sekaligus Keysha. Gadis itu mendapati Zhorif yang tengah duduk di kursi kosong yang sengaja disedikan di depan ruangannya. Tanpa berpikir panjang, Zhara langsung menghampiri Zhorif dan ikut duduk di sebelah pria itu. Pergerakkan yang terjadi secara tiba-tiba membuat Zhorif menoleh untuk mengetahui ulah siapa itu. Tetapi ketika pandangan keduanya bertemu, Zhorif malah melepaskan jas putihnya dengan cepat dan menutupi tubuh Zhara yang sontak saja membuat gadis itu terkejut.


"Mas?" Kening Zhara berkerut, seakan meminta penjelasan akan tingkah aneh yang baru saja dilakukan oleh pria itu.


"Kancing kamu," ujarnya sebelum memalingkan pandangannya dari gadis itu.


Zhara menunduk dan menyadari bahwa kacing seragamnya ternyata terlepas. Zhara menghela napasnya seraya mengancingkan kembali seragamnya. "Maaf, Mas. Keysha kalau mau nyusu, dadaku suka dipegang-pegang juga," jelasnya kelewat jujur.


"Uhuk! Uhuk!"


Kali ini Zhorif tak dapat mengendalikan dirinya. Ludahnya berhasil membuat dirinya tersedak sendiri.


"Mas, kenapa?" tanya Zhara tampak khawatir.


Zhorif menggelengkan kepalanya. Tidak! Ia menolak untuk memikir ulang kejadian di beberapa detik lalu.


Drrrtt ... drrrttt....


Zhara mengalihkan pandangannya menuju layar ponselnya. Sebuah pesan dari sang ibu membuatnya kembali menghela napas gusar.


"Mas...."


"Hm?" Zhorif menoleh ke arah Zhara. Ya, tampaknya ia mulai terbiasa dengan panggilan yang diberikan gadis itu padanya.


"Anterin aku ke Heavenly Hotel, ya?" ujar Zhara dengan nada memohon yang menyertakan puppy eyes, sang senjata maut miliknya.


Mendengar nama hotel tersebut membuat Zhorif langsung mengecek arlojinya dan berucap 'astagfirullah' seraya mengusap wajahnya kasar. Pria itu bergegas berdiri dari duduknya. "Ayo, Saya juga ada urusan di sana," ujar Zhorif tanpa pikir panjang yang tentu saja membuat Zhara merasa senang setengah mati.


-bersambung-


Happy reading!


Jangan lupa tinggalkan voments kalian, ya....


-Charlies_N-