
Pada akhirnya ketiga sejoli yang kehilangan satu personel itu pergi ke sebuah mall yang cukup besar di Kota Jakarta. Aufa dan Zhara tampak begitu antusias untuk berbelanja, jauh berbeda dengan Farel yang memasang wajah lesu.
"Jadi hal pertama yang harus dibeli apa?" tanya Zhara dengan mata yang berbinar-binar.
Aufa tampak berpikir dengan jari telunjuk yang diletakkannya di dagu. "Apa, ya? Kok, gue jadi bingung sendiri," ujarnya seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tetapi, tak lama kemudian Aufa pun mulai mendapatkan ide. "Gimana kalau baju aja, Ra?" usulnya.
Zhara menautkan kedua alisnya tampak kebingungan. "Baju gue masih banyak," balasnya, menolak.
Aufa menghela napas seraya memutar bola matanya malas. "Ra ... kalau lo nanti udah jadi istri orang, lo mana bisa pake baju-baju yang sekarang ada di dalem lemari lo," jelasnya.
"Emangnya apa yang salah dari baju-baju gue?" tanya Zhara heran.
"Ya, salahlah! Baju-baju lo itu kurang..." Aufa mengerutkan keningnya, bingung bagaimana cara melanjutkan ucapannya sendiri.
"Seksi!" bantu Farel dengan antusias.
"Kenapa gue harus seksi-seksi di depan Mas Zhorif?" tanya Zhara seiring mata bulatnya berkejap polos.
Aufa menatap Farel seakan meminta bantuan kepada pria itu. Farel pun setuju dan turut membantu dengan semangat. "Gini, ya, Ra ... ketika perempuan dan laki-laki menikah, mereka biasanya akan menjalankan malam yang erotis yang disebut juga first night. Ketika pasangan yang menikah melalui tahap first night mereka, biasanya akan terjadi making love. Begitulah akhir dari penjelasan gue," ujar Farel seraya bertepuk tangan dengan bangga.
Sayangnya penjelasan yang telah diberikan susah payah oleh Farel, tidak juga membuat Zhara memahami maksud itu. "Gue nggak ngerti. Nanti aja, deh, jelasinnya! Sekarang beli dulu aja," ujar Zhara, tak ingin kepalanya mengalami migrain karena terlalu banyak berpikir.
Zhara tercengang seakan tak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya. Sebuah toko yang dipenuhi oleh segala macam dalaman dan baju-baju tipis dan tembus pandang.
"Lo make yang ginian, Fa? Diem-diem bersayap ternyata," celetuk Farel seraya menyentuh sebuah sayap kecil yang terletak pada sebuah bra yang bermodel indah.
"Ra, yang ini bagus banget!" jerit Aufa histeris seraya menunjuk-nunjuk sebuah patung yang dipakaikan sebuah lingerie.
"Mantap, nih!" sahut Farel dengan mata yang berbinar-binar.
Zhara meringis geli melihatnya. "Fa, daripada pake yang gituan, gue lebih milih telanjang lagi!" celetuknya bergidik ngeri.
"Yaudah, telanjang aja lo sono!" balas Aufa berpura-pura merajuk.
Farel yang tidak memahami situasi malah menganggukkan kepalanya setuju. "Iya, Ra! Menurut gue, daripada pake baju yang kurang bahan gini, lebih baik lo ***** aja sekalian."
Bugh!
"Etdaaahh ... kunaon?! Salah gue apalagi coba?" Farel menatap Aufa kebingungan setelah kepalanya berhasil ditoyor keras oleh gadis itu.
"Emangnya, wajib, ya? Gue kan, mudah masuk angin...." Zhara menyentuh bahan dari lingerie tersebut dengan ragu-ragu.
"Ya, kalau lo mau cepet-cepet memproduksi dedek bayik, lo harus begini, Ra..."
"....lagian, emangnya lo tega ngeliat Aufa merajuk kek gitu? Liat noh, bibirnya udah mencuat kaya paruh onta!" Farel tertawa terbahak-bahak setelah berhasil mendapat delikkan tajam dari gadis yang dikatainya itu.
"Emangnya, onta ada paruh ya, Rel?" Zhara mengernyitkan keningnya bingung.
Tawa Farel langsung tergantikan oleh wajah datar dan malasnya. "Duh! Capek ngomong ama lo, Ra ... setelah gue pikir-pikir, kasian juga calon laki lo dapet bini semacam lo, ntah deh, ini cobaan, kutukan, atau azab.
Pada akhirnya, Zhara pun rela mengeluarkan uang jajannya-yang biasanya ia belikan untuk segala macam produk skincare-untuk dipakaikan membayar pakaian yang tak bisa disebut pakaian tersebut.
"Jangan lupa, Ra ... lo harus sering-sering latihan jadi manusia setengah tutul!" ingat Farel dengan antusias.
"Hah?! Gimana maksudnya?" tanya Zhara, tak mengerti.
"Lo harus liar, seksi, dan menggoda...."
Zhara pun manggut-manggut berpura-pura mengerti agar kedua temannya itu bisa berhenti mengatakan hal-hal aneh yang membuat kepalanya terbelah menjadi dua.
"Ra! Ra! Ra! Sini, deh!"
Zhara pun menoleh ke arah Aufa yang tengah menunjuk-nunjuk sebuah produk kosmetik yang tak dimengerti olehnya.
"Ini untuk apaan lagi, Fa?" tanyanya malas.
"Biar seksi, lo harus pake ini, setiap nemu calon laki!"
"Ra, lo harus inget ... tujuan hidup lo sekarang adalah how to be a cheetah...."
"Lo pikir gue ****?! Mana ada cheetah bibirnya merah macam bendera indonesia!"
"Leh ugha otak lo...." Farel meringis karena tak berhasil membodohi sahabatnya yang biasanya selalu terbodohi.
Aufa mengenakan lipstick merah terang itu ke bibirnya, lalu mencium telapak tangannya sendiri untuk menunjukkan sisa warna merah yang tertinggal di kulitnya. "Liat, nih! Lo harus sering-sering pake beginian. Ini sebagai tanda kalau Zhorif-zhorif itu udah taken! Emangnya, lo mau, laki lo ntar dideketin ama tante-tante ganjen?!"
Zhara pun sontak menggelengkan kepalanya kuat, membayangkan hal itu saja sudah membuat Zhara ketakutan, bagaimana jika sampai benar-benar terjadi?
Gadis itu segera berlari ke kasir dan menebus nota lingerie dan kosmetik tadi dengan penuh semangat sembari mengkhayal-khayal ekspresi Zhorif ketika tau dirinya telah mempersiapkan banyak hal untuk pernikahan mereka.
"Ra! Ra! Ra! Woy, Raaaaaaaa!!!"
Zhara pun memutar kepalanya dengan malas karena paksaan dari kedua sahabatnya itu.
"Buseeettt, dah! Itu kakak ipar lo, kan? Lagi sama siapa, tuh?! Ganteng, bet!"
Zhara menyipitkan matanya, memerhatikan Alesha yang tengah berjalan berduaan dengan seorang pria yang tampak tak aaing di matanya.
"Mas Zhorif?"
"Zhorif?!"
Aufa dan Farel menatap Zhara dengan mata yang terbelalak kaget.
"Iya, itu Mas Zhorif...."
Zhara hanya pasrah ketika tangannya ditarik paksa oleh kedua temannya itu untuk menghampiri Alesha dan juga Zhorif.
"Mbak Sasha, apa kabar?!"
Alesha dan Zhorif kompak menoleh. Wanita dewasa itu tampak terkejut mendapati kehadiran adik iparnya dengan teman-temannya.
"Lho? Kok, kalian bisa di sini? Nggak sekolah?"
Zhara hanya bisa menundukkan kepalanya, tak berani menatap Zhorif yang kian memerhatikannya. Hancur sudah reputasinya sebagai murid yang baik di sekolah.
"Ehh ... lagi ada rapat guru, Mbak, jadi murid-murid pulang lebih cepet!" bohong Aufa sembari melirik-lirik Farel, meminta bantuan.
"Mbak sendiri ngapain ke sini?" tanya Farel.
Alesha melirik Zhorif sejenak sebelum tersenyum tipis. "Mbak, makan siang sama sahabat Mbak. Mbak nggak perlu kenalin kalian lagi, kan? Zhara pasti udah kasih tau kalian siapa dia."
Aufa dan Farel manggut-manggut penuh kejujuran. Kedua manusia itu memeluk lengan Alesha erat dan mulai berjalan mendahului Zhorif dan Zhara. "Mbak, temenin kami nyari bahan untuk tugas seni, dong! Sekalian mau pinjem duit, hehehehe...."
"Ohh ... yaudah, kalau gitu kita langsung ke Gramed aja..." usul Alesha, "....yuk, Rif!" ajaknya pada Zhorif yang hanya bisa berdiri canggung.
"Eh, bukannya Zhara bilang, dia sakit perut tadi?!" Aufa memulai aksinya.
"Hah?!" Zhara menautkan alisnya kebingungan. Memangnya, kapan ia pernah mengucapkan kata-kata itu?
"Ho'oh! Lo tadi kan, bilang sendiri! Yaudah, sono! Pulang bareng calon laki lo, biar kami aja yang beli bahan-bahan art and craft-nya," tambah Farel.
Zhara pun secara perlahan mulai mengerti maksud dari kedua sahabatnya itu dan mulai melakukan aktingnya.
"Eh, iya, nih! Aw! Kok, perut aku sakit banget, ya?"
"Kenapa kamu?"
Zhara menatap Zhorif yang membungkukkan tubuhnya hanya demi memerhatikan wajahnya. Tak ingin ketahuan, Zhara pun memasang wajah meringis dan mencengkram perutnya.
"Mas, gendong...."
-bersambung-