
Zhorif kehilangan kemampuannya untuk mengendalikan ekspresinya, hingga bibirnya tanpa sadar terbuka sedikit lebar seakan menunjukkan perasaan tidak percayanya ketika Zhara mengulurkan tangan kanannya sembari menggera-gerakkan jemarinya dengan lentik.
"Cincinnya mana, Mas?" tanya Zhara.
"Saya tidak membawanya," jawab Zhorif dengan jujur. Jika ingin lebih jujur lagi, Zhorif tentu saja akan menjawab bahwa ia sama sekali belum membeli benda tersebut, bahkan berpikiran untuk membelinya saja tidak terlintas di kepala pria itu.
Untungnya, Zhara membalasnya dengan senyuman seakan memberikan kode bahwa ia tidak masalah dengan hal itu. Tentu saja, Zhorif langsung menghela napasnya dengan lega.
Tak lama dari perbincangan ringan itu, seorang pelayan datang dengan makanan yang telah mereka pesan sebelumnya. Begitu juga dengan cairan yang dituangkan di gelas yang biasa digunakan untuk minuman sejenis wine. Jangan berpikir Zhorif akan memesan minuman seperti itu karena sebenarnya minuman tersebut telah diganti menjadi minuman bersoda dengan tambahan warna cerah.
Zhara hampir menetaskan air liurnya ketika mencium betapa gurihnya aroma tersebut dan sebelum ia memulai makannya, gadis itu memilih untuk menegak minumannya terlebih dahulu. Tetapi, di tegukkan yang kedua sebuah benda asing yang dingin menyentuh bibirnya dan membuat gadis itu sontak menjauhkan bibirnya dari cairan tersebut.
Zhara membulatkan matanya tampak terkejut, pandangannya terangkat ke arah Zhorif yang baru saja menyelesaikan bacaan doa makannya dan hendak menikmati santapannya. "Mas...." panggilnya yang berhasil membuat pergerakkan Zhorif kembali terhenti.
Gadis itu mengambil garpunya dan meraih benda kecil tersebut untuk ditunjukkannya kepada pria yang saat ini duduk di hadapannya.
"Mas mau surprise-in aku, ya?!" tanya Zhara dengan penuh percaya diri.
Zhorif terkejut bukan main ketika melihat benda tersebut. Pria itu langsung menolehkan kepalanya ke segala arah demi mencari sosok yang sangat dicurigainya itu. Gotcha! Akhirnya pria itu berhasil menangkap basah keberadaan Ranti dan juga Erna yang malah melayangkan senyuman lebar mereka seraya melambai-lambai dengan wajah tanpa dosa.
"Mas!" panggil Zhara dengan sedikit kuat untuk yang ketiga kalinya.
Zhorif menoleh, pria itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya seiring punggungnya yang terhempas pada punggung kursi yang menandakan akan kepasrahannya.
"Mas, pakein cincinnya, dong!" pinta Zhara dengan bibir yang berkerucut.
Zhorif menghela napasnya dengan berat dan menggerakkan tangannya dengan begitu lambat untuk meraih cincin tersebut dan memakaikannya pada jari manis Zhara.
Zhara pun tersenyum puas ketika cincin indah tersebut berhasil tersemat pada jarinya. Saking senangnya, ia bahkan tidak sadar bahwa tubuhnya sudah bergerak untuk mendekati Zhorif dan memeluk tubuh pria itu dengan erat.
"Makasih, Mas!" ujar Zhara di sela pelukkannya.
Ada rasa yang menggelitik di diri Zhorif ketika kulit tubuh mereka bersentuhan. Ingin rasanya Zhorif mendorong agar gadis remaja itu menjauh darinya, tetapi rasa tak teganya seakan berkibar dengan tegas melawan keinginan itu.
Setelah puas menenggelamkan wajahnya di dada bidang Zhorif, Zhara pun menjauhkan dirinya dari tubuh pria itu dan tersenyum dengan lebar. "Bentar lagi muhrim, kok, Mas!" sahut Zhara seakan dapat membaca apa yang tengah dipikirkan oleh Zhorif saat itu.
Terserahlah! Zhorif tidak ingin peduli lagi. Yang ia inginkan ialah memakan habis makanan yang telah ia pesan dan bergegas pulang untuk mengomeli sang ibu yang tega-teganya melakukan hal sekeji itu kepada putra kandungnya sendiri.
Pada akhirnya, kedua pasangan baru itu menikmati makan mereka di dalam keheningan. Ah ... menikmati? Mungkin kata itu hanya untuk mendeskripsikan perasaan Zhara, bukan Zhorif.
"Mas bakal anterin aku pulang, kan?" tanya Zhara.
Zhorif menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Kamu bisa pulang-" Zhorif menghentikan kunyahannya ketika matanya tak lagi dapat menemukan keberadaan sang ibu dan juga ibu dari Zhara.
"Nggak masalah, kok, Mas. Aku bisa naik taksi. Mas pasti ada kerjaan di rumah sakit, kan?" tebak Zhara yang membuat Zhorif menganggukkan kepalanya.
Zhorif tidak berbohong. Ia memang memiliki jadwal jaga malam pada hari ini.
Zhorif mengeluarkan senyuman terpaksanya dan mengucapkan terima kasih, sebelum menerima tas tersebut dengan berat hati.
Di tengah perjalanan, Zhara pun terpaksa meminta sang supir untuk berhenti. "Pak, bisa putar arah lagi? Saya ketinggalan tas, dompet Saya juga ada di sana," pinta Zhara seraya meringis menyadari kebodohannya sendiri.
"Waduh, Mbak. Gimana, ya? Saya harus bergegas pulang, baru dapat kabar kalau istri Saya hendak melahirkan," ujar sang supir taksi, memasang wajah bersalah.
"Kalau Saya turun di sini. Gimana caranya Saya bayar ke Bapak?" balas Zhara berbalik tanya.
"Nggak masalah, Mbak. Saya juga mohon maaf karena harus pergi tanpa mengantarkan Mbak ke tujuan seperti ini," ujar pria paruh baya itu.
Zhara menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak papa, Pak. Saya bisa turun di sini. Semoga lahiran istri Bapak lancar," ujar Zhara dengan ramah sebelum turun di pinggir jalan tempat stop kendaraan terdekat.
Zhara menghela napasnya dengan wajah tertekuk seiring kepergian mobil sedang berwarna biru muda itu. Tubuhnya berbalik untuk kembali ke hotel yang sebelumnya ia datangi. Di tengah perjalanannya, Zhara mengangkat salah satu kakinya dan meringis ketika mendapati bahwa pergelangan kakinya lecet akibat higheels yang ia kenakan.
Ketika gadis itu kembali memutuskan untuk melanjutkan jalannya. Sebuah mobil mewah berwarna hitam terhenti di dekatnya dengan lampu yang membuat matanya kesilauan. Seorang pria bertubuh tinggi datang menghampirinya dan mencekal pergelangan tangan Zhara secara tiba-tiba.
Zhara menyipitkan pandagannya, mencoba menatap pria yang kini berada di hadapannya. "Siapa?" cicit gadis itu seraya mencoba melepaskan cekalan pria itu dari pergelangan tangannya.
Pria itu tampak tersenyum dan menggerakkan tubuhnya untuk menutupi cahaya mobil agar wajahnya dapat dilihat jelas oleh Zhara.
"Mas Arka?" lirih Zhara seraya memundurkan langkah kakinya secara perlahan.
"Iya, ini Mas. Kamu ngapain di sini?" tanya pria itu seraya memajukan langkahnya mencoba menarik tangan Zhara agar lebih mendekat ke arahnya.
"Aku-"
"Bugh!"
"Mas!"
Zhara membulatkan matanya tak percaya ketika Zhorif datang dari arah sampingnya dan memberikan pukulan keras pada wajah pria bernama Arka itu, dan menyebabkan pria itu tersungkur ke tanah.
Zhorif menarik Zhara untuk berlindung di belakangnya.
"Jangan sentuh tunangan Saya!"
-bersambung-
Jadi, gini guys....
Seharusnya aku udah update kemarin, tapi sayangnya bab yang kutulis sebelumnya nggak ke-save dan hilang 😭😭
Maaf atas keterlambatannya, ya....
Jangan lupa tinggalin voments kalian
-Charlies_N-