
Maria pun menjadi wanita yang sangat cantik di tempat itu. Banyak yang iri dengan kecantikan yang dimiliki Maria, tapi sayangnya wanita itu tak tertarik sama sekali jika membahas tentang kecantikan.
Kecantikan yang membawa dirinya ke dalam bencana yang sangat besar. Entah kapan ia akan keluar dari bencana ini. Yang pasti ia membenci kondisinya tersebut.
"Maria, kau benar-benar sangat cuek dengan kecantikan mu?" tanya salah satu orang yang bekerja di tempat itu.
Maria sebenernya merasa sangat jijik kafsna berteman dengan mereka. Entah apa yang membuat dirinya bisa berada di tengah-tengah mereka saat ini.
Ia tadi hanya ingin menemani Naila berdandan sebelum akhirnya malam nanti ia akan dilelang dan pergi dari tempat ini.
"Aku tidak peduli," ucap Maria jutek. Kenapa semua orang membicarakan tentang kecantikannya, apa keistimewaan dari itu?
Maria pun tersenyum lebar saat melihat Naila begitu cantik dan mengenakan pakaian yang sangat minim.
Perempuan tersebut seakan tak percaya jika di depannya ini adalah Maria. Tapi ia berusaha untuk tetap percaya karena kecantikan yang ada di depannya sangat luar biasa, tak seperti Maria biasanya.
"Naila, kau benar-benar tampak seperti Dewi yang baru saja turun dari kayangan," ucap Maria sambil menarik tubuh Naila. "Kau benar-benar seksi, tapi sangat disayangkan kau harus pergi malam ini."
Maria dan Naila berpelukan. Mereka seolah tengah melepas rindu yang sangat dalam pada diri masing-masing.
"Aku harap nanti akan bertemu dengan mu nanti," ucap Naila menenangkan Maria.
Maria pun mengangguk dengan wajah yang cukup sedih. Ia makin sedih lagi saat mendengar jika Naila akan dipanggil untuk ke ruangan.
Di sana Maria juga melihat Justin. Matanya dan mata Justin saling bertemu pandang.
Naila di bawa, sementara itu Justin masih berada di tempatnya dan yang paling membuat dada Maria berdegup adalah pria itu datang menghampiri dirinya.
"Kenapa kau ada di sini. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan mu. Kau adalah harta ku, jika kau pergi aku akan mengalami kerugian. Di luar sana banyak orang yang sudah ingin mengincar diri mu."
Maria pun mengangguk paham. Tangannya digenggam oleh Justin lalu di bawa pergi ke kamarnya.
"Kenapa harus ada pekerjaan seperti ini? Apakah semua orang hanya memikirkan tentang pasangan semata dan bersenang-senang dengan dunia?" Maria begitu polos saat ia menannyakan hal tersebut kepada Justin.
Justin pun tersenyum lebar. Jarang-jarang pria itu akan tersenyum, dan jika tersenyum maka itu akan cukup mengerikan di wajah Maria.
"Semua orang berpikir seperti itu. Apalagi pria, kau saja yang tidak tahu," jelas Justin.
"Aku tidak mau menjadi salah satu kesenangan pria. Apakah kau benar-benar akan menjual ku ke pria yang hidung belang?"
"Aku tidak akan menjual mu begitu mudah. Apalagi diri mu merupakan seorang wanita perawan dan itu sangat langka."
Maria yang mendengarkan Justin berbicara itu pun seketika menjaga jarak dari pria itu. Justin sempat kebingungan sebelum akhirnya ia paham.
"Kenapa kau menjauh dari ku? Aku tidak akan melakukan hal itu kepada mu, walau aku juga tak ingin rugi dan ingin mencicipi tubuh mu nanti. Tidak sekarang."
Pandangan Maria pun menjadi memelas yang akan melemahkan iman siapapun. Wanita itu sangat polos dan Justin menjadi tak tega.
"Kau tidak akan berhasil mengelabuhi ku jika diri mu seperti itu."
Maria begitu dekat dengan Justin. Tidak tahu kedekatan itu mulai kapan terjalin, tapi sudah jelas jika kedekatan itu berasal dari Maria yang suka bercerita kepada Justin.
Maria tak lagi begitu takut kepada Justin, dan ia juga mau mengikuti olah tubuh setelah terus menolak.
"Aku tidak ingin makan ini. Ini bukanlah makanan kesukaan ku. Kenapa kau harus menjaga tubuh ku," ucap Maria yang menolak makanan tersebut dari Elmira.
Elmira sudah sangat bosan mendengar penolakan yang berasal dari mulut Maria. Jadi ketika Maria terus menolak maka dirinya akan pergi meninggalkan wanita itu agar ia tak mendengar ucapan pedasnya.
Maka bergantilah Justin yang masuk untuk memaksa Maria makan. Biasanya Maria akan mau jika dipaksa oleh Justin walaupun beberapa kali Justin juga tidak berhasil membujuk Maria.
Justin pun terpaksa meluangkan waktunya untuk menemui Maria. Ia menghampiri wanita itu lalu duduk di sampingnya.
"Sekarang apa lagi yang membuatmu tidak ingin makan? Katakan kepadaku," tuntut Justin kepada Maria.
Maria yang menyembunyikan wajahnya itu mengangkat kepalanya. Ia tampak sedang bosan terlihat dari wanita itu yang mengercutkan bibirnya.
"Aku tidak suka makanan itu. Dan aku tidak ingin memakannya, sementara Elmira terus memaksaku untuk memakan makanan tersebut."
"Dia sengaja agar kau bisa cepat tumbuh dengan baik."
"Tapi aku tidak ingin tumbuh dengan baik. Aku tidak ingin pergi, Aku ingin bertemu dengan mamaku Aku tidak ingin juga bekerja seperti itu. Dan aku juga tidak ingin jauh darimu." Kalimat terakhir diucapkan Maria dengan pelan. Wanita itu hampir saja menangis tapi untung ada Justin yang menghisap punggung Maria.
Entahlah akhir-akhir ini setelah beberapa bulan diam di sini Maria menjadi begitu dekat dengan Justin. Pun begitu pula dengan Justin sendiri yang dekat dengan Maria.
"Aku tahu ini pasti sangat berat untukmu. Tapi memanglah itu yang aku lakukan agar aku bisa mendapatkan uang banyak."
Maria menatap ke arah Justin dengan pandangan marah. Apakah sama sekali Justin tidak memikirkan bagaimana perasaannya setelah ini.
"Aku tidak ingin pergi darimu, kenapa kau sangat jahat dan ingin menjualku. Tolong bantu aku sekali saja," ucap Maria kepada Justin.
Justin Tatan mendengar permohonan yang keluar dari bibir Maria. Masih kecil saja tapi berhasil menggoda hasratnya. Entah kenapa di telinga Justin merupakan kata yang berbeda.
Pria itu yang dari dulu sudah menahan dirinya dari Maria lantas menarik Maria ke dalam pelukannya.
Lalu kemudian ia mencium bibir Maria dengan sangat pelan. Maria tentu saja kaget ketika Justin melakukan hal tersebut kepada dirinya. Yang benar saja Justin melakukan hal itu.
Maria masih canggung dan tak mengerti sehingga ia diam saja saat Justin memegang kendali pada bibirnya.
Ciuman bukanlah apa-apa. Dan ia akan menjadi wanita yang sangat berharga. Mungkin Justin bisa menebak jika ini adalah ciuman Maria.
"Maria," ucap Justin sambil mengusap bibir Maria yang bengkak. "aku memang tak rela melepas mu. Maka dari itu, aku tidak akan pernah berniat untuk melepaskan diri mu bagaimana pun caranya," ucap Justin dengan napas yang tersengal-sengal. "Kau adalah milik ku. Dan aku akan menjual mu kepada orang yang benar-benar tepat. Jadi kau jangan pernah khawatir dengan hal itu."
________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA DAN KOMEN.