Best Love

Best Love
Part 13



Maria dibawa ke sebuah hotel yang cukup mewah yang ada di kota ini. Setelah bertahun-tahun baru kali ini Maria kembali berjalan-jalan. Iya memang sangat takut dengan desain interior yang terdapat pada hotel tersebut.


Tapi, iya sadar bukan saatnya untuk mengagumi keindahan interior pada hotel itu. Ada yang jauh lebih penting dari ini. Yaitu keselamatan dirinya dan juga keperawanannya. Iya tak ingin keperawanan yang hilang begitu cuma-cuma.


Maria mengepalkan tangannya dan merapalkan doa di dalam hati agar ia bisa diselamatkan oleh Tuhan dari b******* yang telah membelinya.


"Entah kenapa nasibku bisa seburuk ini," ujar Maria sambil menggigit bibirnya dan menatap lelaki yang tengah merangkul dirinya itu.


Jujur saja Maria merasa risih dengan laki-laki tersebut yang berusaha untuk meraba tubuhnya. Ia ingin menjauhkan tangan pria itu, tapi ia sadar jika pria tersebut adalah orang yang telah membelinya dan ia harus patuh kepadanya.


"Sesuai dengan ekspektasiku, Jika gadis perawan dia tidak akan mudah bisa disentuh. Dan aku percaya jika kau adalah seorang perawan. Namun aku akan tetap membuktikannya Apakah kau benar seorang perawan atau tidak."


Mendengar apa yang diucapkan oleh laki-laki tersebut membuat bulu kuduk Maria berdiri. Ia tak tahu akan secepat ini. Itu artinya maka habislah dirinya malam ini. Ia tak bisa berbuat apapun selain menyerah dan pasrah.


"Tuan, siapa nama mu? Dan aku harus memanggil mu seperti apa?" tanya Maria dengan suara centilnya.


Suara itu sengaja dibuat-buat untuk menarik perhatian dari orang membelinya dan agar ia tak merasa kecewa.


"Nama ku adalah Vincent, dan kau bisa memanggilku Dady."


Maria menatap ke arah orang itu. Yang benar saja ia menyebutnya Daddy. Tubuh Maria pun merinding.


"Ada apa dengan mu? Tampaknya kau sedang tidak sehat?" tanya Vincent dan mencoba untuk menyentuh kening Maria.


Maria pun menjauhkan tangan Vincent dan tersenyum lembut. Ia tidak sakit hanya merasa negri saja.


"Tidak, aku baik-baik saja dan untuk saat ini aku hanya merasa tidak nyaman. Mungkin aku belum bisa beradaptasi."


"Well, malam ini aku akan mengajari mu cantik."


Laki-laki tersebut mengecup bibirnya dan Maria hampir saja refleks untuk menampar pria tersebut sebelum akhirnya ia tersadar jika ia bahkan tak berhak untuk mengatakan penolakan apalagi sampai menamparnya.


"Ya aku akan menunggu pelajaran yang akan kau berikan Daddy."


Maria pun menghela napas panjang. Air matanya telah berkumpul karena ia benar-benar tak siap berada di sini. Wanita itu harus merelakan masa ke gadisannya yang nanti akan tinggal masa lalu.


Saat Vincent membuka pintu kamar hotel mereka, tubuh Maria sudah sangat dingin. Ia pun masuk paling akhir dan berdoa jika di dalam sana ia tak akan diapa-apain. Tapi, sepertinya hal itu takkan terjadi. Mana mungkin Vincent mau tidak melakukan apapun di dalam sana. Apalagi pria itu telah membelimya dengan harga yang cukup mahal.


Dan setelah memantapkan hatinya, Maria pun masuk ke dalam kamar hotel tersebut tapi saat membuka matanya dengan sempurna ia terkejut saat melihat banyak darah yang berceceran.


Maria mengikuti arah darah tersebut mengalir. Dan ia makin membulatkan matanya saat melihat ada mayat yang bersimbah darah di atas ranjang.


Maria ingin keluar dan mencari Vincent, tapi ia tak menemukan pria itu hingga barulah Maria sadar jika pria tersebut adalah Vincent.


"Vincent," gumam Maria dan hendak kabur.


Mungkin dialah yang telah membunuh Vincent. Maria menatap ke arah orang itu dan ia membelalak saat tahu jika orang yang berpakaian serba hitam sambil membawa pisau dan tongkat bisbol itu adalah Justin.


Maria menghampiri Justin dengan langkah pelan karena ia merasa ketakutan kepada pria itu. Apakah yang di depannya ini benar-benar Justin? Jika seperti itu Mariam sungguh berada di tengah-tengah orang yang sangat kejam.


Tubuh wanita tersebut begitu bergetar hingga pada akhirnya Justin pun menangkap tangannya dan menggenggamnya.


"Aku tahu Kau pasti akan sangat ketakutan seperti saat ini. Tapi untung saja kau tak melihat bagaimana cara aku membunuhnya."


"Justin," ucap Maria dengan lirik dan hendak meneteskan air matanya. Iya tak menyangka Justin ada di sini seakan ingin menyelamatkan dirinya. "Kenapa kau bisa berada di sini? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Maria sambil menatap ke arah Vincent. Kenapa iya malah bertanya apa yang dilakukan oleh Justin, sudah pasti pria itu melakukan sesuai dengan apa yang ia lihat sekarang. Pria itu telah membunuh Vincent. Tapi kenapa Justin melakukan hal tersebut?


Itulah yang menjadi tanda tanya dari Maria. Wanita tersebut pun menarik nafas panjang dan berusaha berpikir keras.


Ia harap ada keajaiban yang akan menolong dirinya tadi dan ia tak percaya jika orang yang akan menolongnya adalah Justin sendiri.


"Kenapa kau melakukan ini semua Justin?"


"Karena aku tidak ingin kehilanganmu."


Justi menghampiri Maria dan memeluknya dengan sangat erat. Maria tak bisa berkata-kata lagi setelah ini. Iya menangis sesugukan karena menikmati apa yang diberikan oleh Justin.


"Justin, Apa yang telah kau lakukan memang sangat baik. Tapi aku takut bagaimana dengan reputasi mu ke depan karena kau telah membunuh clean mu sendiri."


Tapi tampaknya Justin sama sekali tak peduli. Bahkan pria itu pun tak ketakutan jika suatu hari nanti akan terjadi sesuatu kepada dirinya.


"Siapa yang ingin menyakiti diri ku? Tidak ada yang bisa. Bahkan itu orang yang sangat penting. Ah, satu lagi, apakah kau sekarang sudah merasa senang aku mengambil mu?"


Maria mengangguk dan terus memeluk tubuh Justin dan tak ingin melaksanakannya.


"Maka dari itu kau harus menjadi anak yang penurut dan jangan mau menjadi anak yang bebal. Aku tidak ingin anak seperti itu."


Maria pun mengangguk. Apapun yang dikatakan oleh Justin ia akan menurutinya karena memang Justin adalah orang yang paling berarti buat Maria.


"Terima kasih semua yang telah kau lakukan kepada ku. Mungkin setelah ini aku tak bisa berkata-kata karena kebaikan mu memang sudah tak terhingga. Aku dengar dari Elmira jika diri mu seorang gay."


Justin pun memandang ke arah Maria dengan sulit diartikan. "Ya aku adalah seorang gay. Tapi untuk diri mu aku adalah orang yang normal."


Padahal nyatanya Justin sama sekali bukan seorang gay.


_________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA DAN KOMEN.