Best Love

Best Love
Part 20



Justin pulang ke rumah utamanya dan melihat jika Maria telah menunggu di depan sana. Senyumnya pun terbit melihat wanita itu yang tengah melambaikan tangan.


Hanya Maria yang berhasil membuat ia tenang seperti ini dan melupakan masalahnya sejenak.


"Aku tak tahu jika kau akan menyambut kedatangan ku."


"Tentu saja aku akan menyambutnya. Kau adalah orang yang sangat berharga untuk ku."


Justin dan Maria sangat dekat dan bak seperti sahabat. Tapi, di mata keduanya bukannya sebagai seorang sahabat, apalagi sampai melakukan hubungan badan.


Maria memeluk tubuh Justin dengan sangat erat. Sudah beberapa jam ia tak merasakan pelukan yang sangat erat ini dari seseorang.


"Aku pikir kau akan langsung tidur."


Maria menggelengkan kepalanya. Tak mungkin ia akan langsung tidur setelah pulang tadi. Bahkan ia menyempatkan diri untuk memasak.


"Tidak. Aku juga telah memasak untuk mu," ucap Maria dan sambil membawa tangan Justin ke dapur.


Justin pun dengan suka rela mengikuti Maria dari belakang. I tersenyum melihat hal yang telah dilakukan oleh Maria.


"Apakah saat ini kau tengah mengajak ku untuk makan?"


"Ya. Karena aku ingin kau menilai seberapa enak masakan ku," ucap Maria yang terlihat antusias.


"Baiklah. Aku akan menilai seberapa enak masakan mu tersebut," ucap Justin dan berjalan mendahului ke meja makan.


Ia pun tersenyum lebar melihat makanan yang sangat banyak terhidang di atas meja makan. Tiba-tiba Justin merasa jika dirinya seperti seorang suami yang baru saj disambut kedatangannya oleh sang istri.


"Wow, rupanya cukup banyak juga makanan yang kau hidangkan di hari ini. Tampaknya kau bersemangat sekali saat membuat makanan itu," ucap Justin kepada Maria. Maria tentu saja mengangguk antusias. Ia ingin mendapatkan perhatian lebih dari Justin tak selalu pulang ke rumah yang lain tetapi selalu bersamanya di rumah ini.


"Ya cobalah makanan itu semua. Aku harap kamu menyukainya."


Justin menganggukkan kepala. Ia pun duduk di salah satu kursi yang ada di meja tersebut. Lalu kemudian laki-laki tersebut pun mengambil piring dan memastikan beberapa lauk pauk ke piringnya.


Ya sudah sangat tidak sabar untuk mencicipi semua itu. Satu-satu ia memakan hidangan itu dan rasa dari semuanya sangat lezat. Memang makanan Maria adalah makanan paling lezat yang pernah dicicipi oleh Justin. Bahkan Justin berpikir jika Maria memiliki bakat untuk memasak.


Sementara itu bakat yang diterima oleh Maria ia dapatkan saat dirinya sering berada di rumah yang dulu untuk menunggu ibunya pulang sementara ia akan memasak di rumah.


"Maka dari itu kau sering-seringlah berada di rumah ini."


Justin pun menatap ke arah Maria dengan pandangan yang cukup serius. Maria terkejut dipandang dengan seperti itu. Ia menundukkan kepalanya dan berpura-pura tak mengucapkan apapun tadi.


"Aku tahu apa yang kau inginkan Maria. Maka dari itu janganlah bersedih. Aku akan berusaha untuk pulang demi diri mu."


Maria pun menganggukkan kepala. Sebenarnya ya tak memiliki hak untuk mengatur-atur Justin.


"Justin, Aku tidak tahu kenapa hidupku rasanya tidak memiliki warna. Apakah aku boleh memiliki teman dengan yang lainnya? Aku selalu kesepian di rumah ini, bahkan kau pun tak ada di sini."


Justin menggelengkan kepalanya. Dia bukan ingin menjadi orang yang jahat. Hanya saja ia tak ingin Maria memiliki teman yang bisa saja mengajaknya ke jalan yang salah.


"Tidak adakah permintaan yang lain?"


"Aku ingin bersekolah?"


"Itu boleh saja. Tapi tampaknya hal tersebut tidak bisa dilakukan."


Maria pun harus kecewa dengan semua itu. Wanita itu pun menganggukan kepalanya.


__________


Maria menatap pemandangan yang indah dari rumahnya. Lagi-lagi ia ditinggal sendiri di rumah ini tanpa ada seorang pun. Padahal Maria ingin sekali menikmati pemandangan yang indah di depan rumah nya tersebut dengan beberapa teman.


"Tinggal bersama ibu memanglah yang terbaik. Tapi meninggalkan Justin juga bukan merupakan pilihan yang baik. Aku benar-benar merasa delima dengan semua ini," ucap Maria sambil memejamkan matanya.


Maria pun turun dari balkon dan menuju ke halaman rumahnya. Jika tidak ada orang lain kenapa dia harus menunggu orang tersebut jika ia bisa menikmatinya sendiri. Mari akun berfoto menikmati pemandangan tersebut sambil mengabadikannya dalam bentuk sebuah video.


"Aku merindukan teman-temanku yang dulu. Andai saja aku bisa membawanya kemari." Tapi tampaknya mereka semua telah sukses. Hanya Maria saja yang luntang-lantung tidak bernasib.


"Rupanya di rumah ini cukup membosankan. Aku penasaran bagaimana dengan pekerjaan Justin."


Itulah Maria yang selalu saja ingin tahu. Tapi wanita itu setidaknya memiliki efek jera setelah rasa ingin tahunya malah membawa ia ke suatu bencana.


Maria pun berjalan di depan halaman rumah dengan mondar-mandir tidak jelas. Lalu kemudian ia masuk ke dalam rumah. Ia merupakan tubuhnya di kata sofa sambil memandang ke atas dengan pandangan bosan.


Sejenak pikirannya kosong. Sampai pada akhirnya ia pun berpikir jika orang yang sering melakukan hubungan badan maka akan bisa hamil. Sementara itu Maria sering melakukannya bersama Justin.


Maria terkaget-kaget dengan hal tersebut hingga pada akhirnya ia pun bangun dan menyentuh perutnya.


"Apakah aku akan hamil? Tidak! Usia ku masih muda dan aku tidak ingin hamil," ucap Maria menggebu-gebu karena belum siap untuk menjadi seorang ibu.


Wanita itu pun merasa histeris sendiri. Ia pun membuka internet dan mencari tahu mengenai tanda-tanda kehamilan. Setelah tahu pun ia merasa jika dirinya tidaklah hamil.


Mungkin hanya Maria saja yang terlalu parno.


"Hampir saja jantungku ingin copot."


"Memangnya apa yang terjadi denganmu?" Maria yang belum sepenuhnya sadar itu lantas kembali terkejut lagi dan menatap ke arah Justin yang datang secara tiba-tiba.


"Kenapa kau bisa berada di sini? Apa yang kau lakukan di sini?"


"Tentu saja aku pulang. Karena aku merindukanmu. Kau sendiri kan yang menginginkan aku selalu pulang."


Maria tengah nggak karena tak menyangka jika keinginannya dipenuhi. Ia pun langsung berdiri dan berhambur dalam pelukan Justin.


"Kau serius memenuhi keinginanku."


"Hem."


Justin mengangkat tubuh Maria dan melingkarkan kaki wanita tersebut di pinggangnya. Ia pun tersenyum dan mencium bibir Maria.


"Karena aku tak banyak pekerjaan, apakah kau ingin kita melakukan olahraga di dalam kamar."


Maria sangat malu untuk mengangguk.


_______


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA