Best Love

Best Love
Part 11



Tiba hari di mana Maria akan dilelang oleh beberapa petinggi negara yang diam-diam juga berada di sana dan juga beberapa orang kaya lainnya. Hati wanita itu sungguh hancur setelah sekian lama ia banyak melihat wanita yang memasuki ruangan ini untuk didandani.


Maria pun menarik napas panjang. Ia menatap ke arah kaca yang memantulkan wajahnya. Perempuan itu seakan tak menyangka jika ia akan semakin cantik, hanya saja hatinya tak sinkron dengan wajahnya yang penuh dengan ceria.


"Maria! Kenapa wajah mu ini ditekuk. Ayolah senyum sayang," ucap Elmira yang sengaja menyentuh pipi Maria dengan sangat lembut.


Maria sama sekali tak peduli dan membiarkan parasit itu berbicara sesuka hatinya. Sakit hati, tentu saja. Maria ingin sekali menepis tangan wanita itu dan mengajaknya bergulat.


"Kau sangat berisik, pergilah. Aku tak membutuhkan mu di sini," ucap Maria dan lalu kemudian hendak beranjak pergi dari meja riasnya.


"Kau begitu terburu-buru Maria. Tidak perlu seperti itu, dengarkan aku berbicara atau barang tidak supaya kau dapat mengukur waktu, kau harus berbincang di sini," ucap Elmira sambil mengedipkan matanya supaya bisa membuat amarah Maria meledak.


Maria tersenyum tipis. Ia hanya menanggapi sekilas karena tahu jika orang seperti itu tak bisa diajak serius.


"Aku tidak peduli. Lebih cepat itu lebih baik."


"Ow rupanya kau sangat terburu-buru," ujar Elmira dan hendak menghampiri Maria.


Maria lekas pergi dan tak ingin berbincang walau hanya sebentar dengan wanita itu. Karena ia tahu jika Elmira hanya ingin ia terpancing dan menjebaknya. 


Maka dari itu Maria pergi dan berjalan dengan cepat sehingga membuat Elmira sedikit kesulitan untuk mengejar dirinya.


"Dasar orang tidak tahu diri," teriak Elmira sangat marah kepada Maria yang sama sekali tak peduli.


"Elmira, benar-benar wanita yang sangat berisik. Kenapa Justin bisa memberikan peluang kerja kepadanya. Dia hanya menang genit, tapi pelayanan kepada sesama wanita penuh dengan iri hati."


Maria tak mengerti entah di mana letak kewarasan Justin hingga mengerjakan orang semacam Elmira yang tidak tahu diri itu.


Bahkan Justin seringkali memberikan nasehat kepada wanita tersebut dan malah ia seolah-olah menjadi wanita yang paling disayangi Justin.


Entahlah mungkin otak dari Elmira sudah geser jadi pemikirannya sedikit berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya.


Maria menghela napas panjang dan mencari Justin. Ia ingin berpisah dengan Justin sebelum pria itu akan menjual dirinya. Sungguh ia benci hal  tersebut saat terlintas kembali di pikirannya membuat Maria tak bisa berbuat apa-apa.


Di mana Justin berada. Maria terus mencari keberadaan pria itu. Sampai saat kakinya hendak menuju perbatasan keluar di mana di ruangan itu orang sedang melakukan party.


Maria tecekat dan kakinya tiba-tiba gemetar. Apakah dirinya akan sanggup berada di sana nanti dan akan menjadi pelayan salah satu mereka. Maria membenci hal itu.


Ia mengepalkan tangannya dan berharap tak akan menjadi pelayan di sana. Ia tak mau. Maria pun menangis sesugukan dan hal itu dilihat oleh Elmira yang hendak mengejarnya.


Elmira pun heran melihat Maria pergi. Ia menggaruk kepalanya sendiri lalu menghela napas panjang.


"Entah kenapa wanita itu benar-benar membosankan, dia hanya bisa menangis dan lalu kemudian pergi. Aku sudah muak dengan air matanya."


Justin tak sengaja melihat Elmira yang sedang berbicara sendiri karena kesal kepada Maria itu. Ia pun menghampiri Elmira karena ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Maria.


Justin tadi tak melihat jika Maria juga ada di sana. Kali ini ia datang kepada Elmira ingin bertanya apakah wanita itu sudah siap.


Elmira yang semula ingin menyusul Maria pun langsung berhenti. Wanita tersebut tersenyum lebar dan menunggu kedatangan Justin kepadanya.


"Ada apa Tuan memanggilku?" tanya Maria dengan suara genitnya yang bermaksud ingin menggoda Justin.


Tapi sayangnya justru sama sekali tidak tergoda dengan panggilan itu karena dia sudah biasa dengan panggilan hal semacam itu. Maka dari itu apa yang diucapkan oleh Elmira hanyalah sebuah angin lalu bagi dirinya.


"Di mana Maria? Apakah wanita itu sudah siap dengan pelelangan itu?" tanya Justin kepada Elmira. Elmira pun memanyunkan bibirnya. Ia pun kembali bersikap green dan seolah-olah tidak suka Justin menyebut nama Maria.


"Kau selalu saja berbicara tentang wanita itu. Apakah sekali saja kau jangan membicarakan dia," pinta Elmira yang tentunya takkan pernah didengar sama sekali oleh Justin.


Saat Elmira memprotes Justin menyebut nama Maria pun, Justin sudah naik darah kepada wanita itu. Bisa-bisanya sekelas Elmira hendak mengatur dirinya.


"Kau benar-benar keterlaluan Elmira. Ada Apa denganmu? Aku hanya ingin tahu tentang Maria Kenapa kau orang sangat repot sekali. Apakah kau tak ingin bekerja denganku lagi?" Mendengar ancaman yang keluar dari mulut Justin membuat Elmira langsung menciut.


Wanita itu meneguk ludahnya dengan kasar. Lalu kemudian menarik nafas perlahan dan memerankan diri menatap mata Justin dengan sangat dalam.


Melihat hal itu Justin pun mengintimidasi Elmira dan semakin membuat wanita itu tersudut.


"Maafkan aku Justin. Aku tahu aku salah tapi jangan sampai kau memecat ku. Maria sudah siap, tadi dia juga berada di sini. Hanya saja kau yang tak tahu jika ia ada di sini. Dia ingin mencarimu. Mungkin pelelangan sudah mulai bisa dibuka."


Justin pun mengangguk paham beberapa kali. Dibalik sikap tenangnya ada sikap gelisah yang disembunyikan. Pria itu tak bisa membayangkan bagaimana jika Maria pergi dari hidupnya. Tapi mau bagaimana lagi? Memang itulah yang harus ia lakukan agar memberikan dirinya uang yang banyak.


Justin pun menghilang nafas panjang dan berjalan menuju ke ruangan Maria. Mungkin ia bisa melakukan perpisahan untuk terakhir kalinya bersama Maria.


Dan ketika membuka pintu kamar wanita itu, ia terkejut melihat Maria yang begitu tampil seksi dan juga menggairahkan tengah menatap di depan jendela.


Melihat bagaimana wanita tersebut yang sangat merasa sedih membuatnya ikut juga merasakan perasaan dari wanita itu.


Ia pun menghela napas dan lalu menghampiri Maria. Maria terkejut saat ada yang memeluk dirinya dari belakang. Hatinya semakin sakit karena hal itu.


Ia pun berbalik ke belakang dan memeluk tubuh Justin dengan sangat erat dan kemudian tak ingin melepaskannya.


"Ada apa?"


"Aku tidak ingin melaksanakan mu."


"Aku tahu, tapi maafkan aku Maria. Aku tidak ingin semuanya menjadi runyam. Aku sudah menyusun rencana ini cukup lama dan mungkin kau adalah bisnis terbaik ku."


"Aku membenci mu Justin!!"


_______


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA DAN KOMEN.