Best Love

Best Love
Part 15



Maria pun menunggu kepulangan Justin di rumah dengan hanya menggunakan pakaian tipis. Ia mengerti dengan isyarat yang diberikan oleh Justin.


Dan wanita itu benar-benar melakukannya. Ia pun menunggu sampai tertidur di depan pintu. Justin yang baru saja pulang ke rumah pun langsung disuguhi oleh hidangan yang sangat empuk di depan ruang tamunya.


Ia tersenyum lalu menghampiri Maria. Ia menatap Maria dengan cukup lama sebelum akhirnya tatapannya pun semakin turun. Pria itu pun mengecup bibir Maria pelan.


Wanita itu tengah tertidur di luar alih-alih menyambut kedatangan Justin dengan sangat bahagia.


"Apakah sangat lelah sehingga membuat mu sampai tertidur seperti ini?" tanya Justin kepada angin lalu yang berharap sampai ke telinga Maria.


Ia pun tak tega melihat betapa polosnya wajah anak itu. Anak perempuan yang ia anggap polos tapi ia telah renggut kesuciannya. Dan lalu kemudian ia pun membawa Maria ke dalam kamar dan merebahkan wanita itu.


Ia melakukannya dengan cukup pelan agar tak membangunkan Maria. Ia tahu jika wanita tersebut benar-benar merasa kelelahan dan itu artinya ia harus menjaga Maria agar tak jauh sakit walau dirinya harus merelakan hasratnya yang terpendam.


Karena memang Justin sangat tahu dengan dirinya, jika sudah keterusan maka akan sulit berhenti dan hal itupun yang ditakutkan oleh Justin.


"Aku harap kau tidak akan merasakan sakit lagi setelah ini. Hiduplah dengan tenang dan aku selalu ada untuk mu," ucap Justin dengan sangat lembut di telinga Maria.


Ya memang sudah dari awal ia merasa simpati kepada Maria. Ia tak menyangka jika anak ini akan tumbuh menjadi anak yang cantik dan begitu mempesona.


Ia tahu Maria memiliki potensi besar untuk sukses dan menjadi wanita karir, tetapi dia malah menjadikan Maria sebagai pemuas nafsu dirinya. Jika dikatakan bajingan maka dialah bajingan itu.


Justin pun menarik napas panjang dan lalu kemudian merenggangkan dasinya dan hendak membuka jas yang ia gunakan. Rupanya, Maria sadar jika ada orang lain di kamar ini hingga ia pun membuka matanya dan terkejut jika ia melihat jika Justin telah pulang.


Maria pun mengucek matanya dan berusaha menatap ke depan ke arah Justin. Ia pun tersenyum lebar seolah tengah memberikan isyarat kepada Justin jika ia hendak menghampiri pria itu tapi rasa kantuknya membuat ia terus berada di atas kasur.


"Kau sudah pulang. Kenapa tidak membangunkan ku?" Justin pun menghela napas panjang. Inilah yang ia khawatirkan dan pada akhirnya terjadi juga.


Maria telah bangun dan tentunya istirahat dari wanita itu akan terganggu karena dirinya.


"Aku ada masalah tadi di mimpi ku dan aku merasa juga ada orang yang ada di sini. Dan itu rupanya adalah kau."


Justin mengerutkan keningnya. Ia tak terlalu mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Maria. Masal? Masalah seperti apa?


"Kau memiliki masalah apa di mimpi mu?" Maria pun bungkam ketika ditanya hal tersebut kepada dirinya. Ia pun berusaha untuk kuat dan menahan tangisnya yang hendak keluar.


Ia tahu jika dirinya terlalu cengeng bahkan sampai Elmira saja heran ia seperti ini dan persis seperti anak kecil. Dan apakah selama ini Justin tak merasa ilfil kepadanya?


"Aku bermimpi tenang Mama. Aku sangat khawatir dengannya, apakah dia baik-baik saja sekrang atau tidak? Dan apa yang sedang ia lakukan."


Justin pikir Maria akan meluapkan ibunya, nyatanya sampai sekarang wanita itu masih memikirkan bagaimana ibunya.


"Kau sepertinya sangat merindukan dia. Baiklah, jika ada waktu aku akan membawa mu."


"Apakah yang kau katakan itu benar?" Justin pun menganggukkan kepalanya. "Terima kasih." Maria pun menatap Justin cukup lama. Ia sedikit bingung, apakah pria itu tak ingin melakukan hal seperti malam kemarin. "Aku sudah memakai pakaian tipis."


"Tidurlah. Jangan memaksakan diri karena aku tahu jika kau sangat lelah."


Ternyata Justin juga sangat perhatian kepadanya dan hal itu benar-benar membuat Maria salah tingkah.


__________


Maria pun membuka matanya dan ia mendapati jika saat ini Justin tengah memeluk tubuhnya. Siapa yang menyangka jika orang yang dulu sangat dingin dan bahkan banyak orang mengira jika dia adakah gay kini tengah tidur berdua dengannya.


Bahkan pria itu tampak sangat damai dengan tidurnya. Maria merasa tak tega untuk membangunkan pria itu dari mimpi indahnya.


"Jangan terus menatap ku karena aku jika diri mu pasti tenang tertarik kepada ku."


Maria pun menutup mulutnya saking malunya akibat ketahuan tengah memperhatikan pria itu. Ia pun tersenyum tipis dan menyentuh wajah Justin tanpa ragu.


"Kenapa kau sangat tampan?"


"Entahlah. Mungkin itu memang sudah menjadi takdir ku," jawab Justin dengan entengnya menanggapi kenapa ia bisa begitu tampan.


Memang tak akan ada manusia yang mampu menolak ketampanan yang hakiki dimiliki oleh Justin. Bahkan Maria pun sampai mengakui jika Justin sangatlah tampan.


"Lantas apa hubungan kita?"


Justin diam dan tak bisa menjawab. Untuk hubungan yang sangat serius ia benar-benar tak menganggap hal itu dan hanya berpikir jika hubungan ini akan berjalan tanpa adanya status.


"Jangan berharap jika kita akan memiliki status. Kita akan seperti ini selamanya, dan kau juga tak boleh pergi dari diri ku."


Maria pun terdiam mendengar jawaban yang sama sekali tak ingin ia dengar. Hatinya sungguh sakit karena ia merasa masih memiliki hati dan ia menganggap jika dirinya berharga dan pantas mendapatkan pengakuan status bukan seperti orang yang tidak jelas.


Maria pun menyembunyikan kekecewaannya itu dengan cara membuang pandangannya. Hatinya sakit dan ia berusaha untuk tetap tegar di samping Justin agar pria itu tak curiga.


Justin menarik napas panjang dan memeluk tubuh Maria dengan sangat erat. Ia tak ingin kehilangan Maria barang sedetikpun, karena hal itu mampu membuatnya gila.


"Maria, jangan orang meninggalkan ku. Aku akan selalu ada untuk mu. Dan pegang kata-kata ku, ini," ucap Justin dengan sangat serius.


________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA