Best Love

Best Love
Part 23



Maria menarik nafas panjang. Saya bangun di pagi hari ya sudah disuguhkan oleh pemandangan yang sangat istimewa. Dimana Justin yang sudah bangun dan memperhatikan wajahnya dengan sangat seksama. Hal itu dilakukan malah membuat Maria sangat malu ditatap seperti itu. Ia berusaha untuk menutupi wajahnya agar bisa menyembunyikan rasa malu yang sangat melanda dirinya.


"Aku harap kau tak menatap ku seperti itu."


Justin tersenyum tipis lalu kemudian menyentuh wajah Maria dengan sangat lembut. Ia pun menatap Maria dengan pandangan yang sangat kagum.


"Masih tak menyangka jika kau akan kua tadi malah dan menahan semuanya. Aku sudah hampir khawatir jika diri mu tak akan sanggup untuk mengimbangi permainan ku, ua walaupun akhirnya kau pingsan." Maria menutup wajahnya saat mendengar perkataan vulgar yang keluar dari mulut Justin.


Tidak tahukan Justin jika saat ini ia merasa sangat malu dan bahkan Maria tak mau mengingat kejadian tadi malam dan berharap jika Justin telah melupakannya. Tapi nyatanya tak akan semudah itu.


"Kenapa kau mengatakannya. Aku sangat malu. Apakah aku tak tahu bagaimana aku yang tak bisa menahan rasa malu itu."


"Kenapa kau harus malu. Itu adalah sebuah prestasi."


Mata Maria memandang tajam ke arah Justin. Ia pun menarik napas panjang dan kemudian membuang pandangannya tersebut.


"Kau tak tahu bagaimana perasaan ku ini."


"Aku pikir aku sangat mengerti dengan perasaan mu tersebut."


"Oh," ucap Maria dan seperti biasa seorang wanita akan selalu mengambek.


"Aku tak tahu kenapa wanita bersikap seperti itu, mereka sangat sensitif dan juga pemarah. Apakah itu telah menjadi sifat wanita?" tanya Justin berpikir keras jika teori yang telah iya susun tersebut merupakan suatu kenyataan.


"Ya maka dari itu kau janganlah untuk mencoba-coba membuat mereka tidak mood. Seperti saat ini yang telah kau lakukan kepadaku," ucap Maria kepada Justin.


Justin menghela napas panjang dan mengangkat kepalanya. Lagi-lagi yang salah di sini adalah dirinya. Ia tak mengerti kenapa ia selalu salah. Dan pria itu berharap jika dirinya mendapatkan keadilan sebagai seorang lelaki.


"Wanita selalu mengatakan jika dirinya selalu benar. Aku tak tahu jika teori itu benar terjadi pada diri mu. Sementara itu aku masih marah dengan apa yang telah kau lakukan di semalam. Kau pikir hal itu tak akan membuat khawatir diri ku."


Maria menutup matanya dan seolah tak peduli dengan apa yang dilakukan dirinya semalam. Dan lagi pula dirinya sudah selamat. Jadi tak ada yang perlu dibahas lagi, hanya Justin yang terlalu membesar-besarkan masalah.


"Kupikir kejadian semalam bukanlah apa-apa. Mungkin itu adalah sebuah tantangan bagi diriku."


Mata Justin membulat mendengar Maria mengatakan hal tersebut. Lagi Maria hanyalah sebuah masalah kecil tapi berbeda dengan dirinya yang menganggap jika hal itu bukanlah masalah kecil.


Kehilangan Maria adalah sesuatu yang membuat dirinya juga kehilangan belahan hati yang lain. Walaupun Maria tak memiliki status di sisinya tapi ia merasa jika Maria adalah bagian dari hidupnya.


"Kau tak pernah mengerti dengan perasaan seseorang karena kau haha peduli dnehan perasaan mu saja," ucap Justin yang begitu mengena di hati Maria.


Maria ohm mendesah panjang dan mengangkat kepalanya. Ia menatap ke depan dengan mendecih pelan.


"Baiklah di sini aku yang salah."


"Memang diri mu yang salah. Hanya saja kau tak ingin mengakuinya."


Maria pun sangat merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Justin. Ia pikir pria itu tengah menyisir dirinya.


"Seperti kau orang baik saja."


"Kenapa kau mengalihkan topik utama. Aku tak sedang membahas hal tersebut. Kau memang orang baik dan aku tidak. Jadi kita adalah dia orang yang sangat serasi.


"Tapi aku tak tahu apa status kita."


"Kita tak memiliki statusnya sama sekali. Dan aku juga tak mengharap sebuah status yang hanya bersifat fana."


Ia menarik napas panjang dan berpikir jika dirinya yang mencintainya sebelah pihak. Ya Maria mengakui perasaannya kepada Justin, tapi dia tam tahu apakah Justin juga merasa bahagia sama kepada dirinya.


Tapi, jauh di lubuk hati Maria ia berharap jika Justin juga mencintai dirinya. Walau itu terdengar sangat mustahil tapi Maria yakin tidak ada yang tidak mungkin.


_________


Hari ini Justin memutuskan untuk tak pergi ke tempat kerjanya. Ia masih sangat khawatir atas kehilangan Maria kemarin. Tapi untungnya Maria dijual kepada dirinya. Bayangkan jika Maria tak dibagi oleh dirinya, entah siapa yang akan mendapatkan Maria.


Mungkin setelah itu Justin akan merasa gila. Maka dari itu untuk mengantisipasi hal tersebut Justin memutuskan untuk tak pergi ke tempat kerjanya dan menemani maria yang kebosanan di sini.


"Tumben sekali kau tidak pergi bekerja. Biasanya kau akan pergi sangat pagi untuk bekerja dan selalu meninggalkanku saat aku masih tertidur." Justin juga sindiran itu tapi juga pada dirinya.


Laki-laki tersebut dengan duduk di ruang santai sambil membaca koran dan ditemani kopi yang dibuatkan oleh Maria.


Maria pun menghampiri laki-laki itu dan kemudian duduk di sampingnya. Ia menatap ke arah koran yang tengah dibaca oleh Justin. Wanita tersebut pun turut membaca koran itu.


Saat Justin sedang nyaman membaca koran dan tiba-tiba kepala Maria menghalangi pemandangan Justin, lantas Justin langsung mendorong kepala Maria.


"Tumben sekali kau ingin membaca koran."


"Ini bukan tumben Aku dulu juga sering membaca koran bekas."


Justin ingin sekali menyindir kehidupan Maria yang begitu menyedihkan. Tapi mengingat jika wanita tersebut memiliki hati yang sangat sensitif membuatnya harus berpikir dua kali untuk melakukan hal tersebut.


"Baiklah baca dengan benar. Jangan kepalamu yang besar itu malah menghalangi pemandangan."


"Baik bos," uca Maria yang sangat semangat dan mulai membaca koran itu.


Mereka berdua terlihat sangat dekat apalagi Justin sambil mendekap tubuh Maria. Dan pada akhirnya Maria merasa bosan dengan koran yang ia baca dan hampir saja tertidur.


Lalu kemudian Justin pun langsung mengangkat kepala Maria yang terjatuh ke pundkanya.


"Aku pikir dirimu tidaklah suka membaca."


Maria pun merasa sangat protes dengan apa yang dipikirkan oleh Justin mengenai dirinya.


"Siapa bilang. Aku adalah anak yang cerdas dan bahkan aku adalah anak yang hobi membaca. Aku juga selalu ranking satu, hanya saja kau yang membuat diri ku tak lagi bersekolah."


"Lalu?"


"Kau begitu jahat telah membuat putus sekolah anak yang begitu pintar."


"Aku jahat? Padahal aku telah memberikanmu homeschooling. Dan kau juga telah memiliki ijazah. Apakah kau juga ingin berkuliah? Tapi aku pikir nanti saja, karena aku tak bisa menjaga mu."


"Sudah aku duga," ucap Maria sambil mengerucutkan bibirnya.


_________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.