
Jennifer pun menutup matanya karena ia tahu saat ini dirinya tak baik-baik saja. Ia juga terdapat gangguan kecemasan serta penyakit mental yang sangat parah. Selain itu ia juga terserang penyakit kanker.
"Aku tidak tahu dengan kondisi ku dan aku juga tak terlalu memperhatikannya karena yang selalu saja dipikirkan oleh ku adalah diri mu Maria," ucap Jennifer dengan suara serak dan ingin menangis. "Kau tahu kesehatan mu tidak ada apa-apanya dengan menemukan diri mu. Aku sungguh mencintaimu," ucap Jennifer memeluk tubuh Maria. Anak yang sudah oa besarkan ini akhlak tubuh berkembang dan sangat cantik
Ia tak tahu kapan akan menerima kabar baik dari Maria, yaitu pernikahan. Walaupun oa sangat ingin hal itu terjadi sangat cepat, tapi Jennifer juga tak ingin melihat anaknya menikah dulu dari pada mengejar cita-citanya.
"Apakah kau sekarang bisa tinggal bersama ku? Temani aku di sini. Memohon lah kepada Justin jika dia memang benar orang baik dia pasti akan mengizinkan mu tingga bersama ku," ucap Jennifer kepada Maria sambil melirik ke arah Justin yang memperhatikan mereka dengan tatapan yang cukup tajam.
"Tidak akan. Jangan menyuruh Maria untuk memohon kepada ku. Aku tak akan melaksanakan Maria. Kau harus senang jika putri mu baik-baik saja."
"Kau Justin! Aku sudah muak dengan mu! Kau menipu ku hingga ku masuk ke dalam perangkap mu dan aku memiliki hutang dengan mu! Tapi, sekarang kau juga ingin mengambil anak ku, kau benar-benar keterlaluan Justin!"
Maria terkejut saat mendengar ibunya yang membentak Justin. Ia pun menundukkan kepala. Sepertinya hanya dirinya saja yang terlalu polos dan tak mengetahui apapun di sini.
"Mama! Jangan membentak dirinya! Benar apa yang dikatakan dia, bahwa dirimu harus bersyukur jika aku hidup baik. Aku ingin ikut dengan dirinya mama. Maafkan aku, dia sudah terlalu baik bahkan mau mengantarkan aku bertemu dengan dirimu mama."
Jennifer terkejut saat mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya. Ia tak menyangka jika Maria akan membela Justin.
Maria ingin menangis tapi rasanya ia tak bisa melakukan hal tersebut. Karena semuanya terasa hambar. Jennifer pun pergi meninggalkan Maria dan Justin di ruang tamu untuk ke dalam kamarnya.
Ibu dari Mariati seperti menangis di dalam kamar itu karena ia merasa jika anaknya bukanlah orang yang ia kenal. Ia ingin Maria yang dulu tapi sekarang Maria telah berubah.
"Aku tak tahu jika Maria akan secepat itu berubah dan melupakan ku."
Maria pun menghela napas panjang dan kemudian menatap ke arah Justin dengan pandangan yang sedikit sedih.
"Kau sedih dengan ibu mu yang seperti itu?"
Maria mengangguk. Tentu saja ia sebagai anak sangat merasakan kesedihan yang dirasakan oleh ibunya. Ia tahu bagaimana perasaan seorang ibu, apalagi saat ia tak mau menuruti keinginan sang ibu.
"Ya tentu saja aku merasa sangat sedih."
"Tapi aku tak merasa simpati sama sekali. Aku bukanlah orang baik seperti yang kau katakan. Ibu mu benar jika aku adalah orang jahat, aku seperti ini haya kepada mu dan kepadanya aku tak seperti itu."
Maria terkejut ternyata Justin memiliki sifat yang lain jika tak bersamanya. Itu artinya hanya ia yang bisa membuat Justin seperti itu?
__________
Maria pun pulang dari rumah Jennifer. Sangat berat meninggalkan sang ibu di rumah sendirian dengan kondisinya yang sakit-sakitan. Tapi apa boleh buat jika ia harus melakukan hal tersebut agar Justin mau memberikan perawatan untuk sang ibu.
Jennifer terlalu mengabaikan kesehatannya sampai ia lupa jika ia memiliki riwayat penyakit yang cukup berbahaya. Wanita itu menganggap jika uangnya hari digunakan untuk membuka usaha dan bisa menyaingi Justin.
"Kenapa Mama sampai melakukan hal tersebut. Aku benar-benar nrasa bersalah karena dirinya," ucap Maria dalam hati dengan suasana yang sedih. Ia menatap ke luar jendela kaca Sambil menghembuskan napas lelah.
"Aku tak tahu jika Siti ku akan merasakan sakit yang luar biasa seperti ini. Aku kira aku sudah bahagia."
"Maria, kau terlalu naif dan berpikir jika kebahagiaan satu hari bisa membuat mu bahagia selamanya," sindir Justin yang tengah menyetir mobil itu.
"Tentu saja. Maka dari itu aku selalu menyembunyikan mu dari dunia luar agar kau tak gampang dibodohi. Kau jangan terlalu penasaran dengan hal itu, kau sudah tahu kan apa akibatnya jika kau terlalu sangat penasaran?"
Maria mengangguk. Ia tentu saja sudah tahu karena akibat dari semua itu tengah ia rasakan.
"Aku menyesal."
"Aku malah menyenangi perbuatannya mu. Aku banyak mendapatkan uang. Serta bisa mendapatkan mu."
"Apakah kau tidak takut telah melakukan banyak kejahatan dan salah satunya telah membunuh orang yang membeli ku."
"Kenapa aku harus takut? Hal itu sudah sangat wajar di lakukan di dalam dunia gelap. Aku juga sering melakukannya agar aku bisa mendapatkan keuntungan yang banyak. Maka dari itu jangan menganggap diri ku orang baik. Benar apa yang dikatakan oleh Jennifer."
Maria pun mengehela napas panjang dan mengangkat kepalanya. Ia pun mengalihkan tatapannya ke daerah lain. Tak terasa waktu begitu lama berlalu dan Maria sudah berada di depan rumahnya bersama dengan Justin.
Justin menurunkan dirinya. Maria hendak masuk begitu saja ke dalam rumah, tapi Justin menahan tangannya.
"Apa?" tanya Maria ketus.
"Kau melupakanku."
Justin pun meraih tengkuk Maria dan lalu mengecup bibir wanita itu sebentar.
"Kau akan ke mana lagi?"
"Tentu saja kembali ke rumah ku yang lain."
Maria pun menahan napasnya dan mengangguk. Ia tak senang Justin melakukan kejahatan tersebut. Tapi apa boleh buat senang atau tidak ia harus menerima semua kejahatan Justin karena itu memang sudah menjadi pekerjannya cukup lama.
"Cepatlah kembali ke rumah karena aku masih banyak ingin yang ku tanyakan kepadamu."
"Hm," balas Justin dengan singkat.
Maria hanya mendesah panjang karena pria itu tampak sedikit cuek setelah pulang dari rumahnya tadi. Antara Mungkin dia sudah merasa kesal setelah mendengar ucapan Jennifer yang berharap Maria tinggal di rumahnya. Karena Maria dengan jelas bagaimana raut wajah Justin pada saat itu.
Maria pun merasa wajar Kenapa pria tersebut bisa bersikap hal sedemikian rupa. Bahkan ketika dirinya sudah dijual Justin pun dengan lugas untuk menyelamatkan dirinya apalagi ia membiarkan Maria dengan cuma-cuma tinggal di rumah Jennifer, yang pasti hal itu tidak akan mudah dia lakukan.
"Aku tidak tahu harus beruntung atau tidak mendapatkan hatimu. Atau bahkan aku tak pernah sama sekali mendapatkan hatimu," ucap Maria kepada dirinya sendiri sambil melihatkan Justin yang pergi ke rumah satunya lagi.
_______
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA DAN KOMEN.