Best Love

Best Love
Part 17



Maria menarik napas panjang dan menyiapkan mentalnya untuk bertemu dengan Jennifer. Ia sudah sampai di depan rumah lamanya yang kini berubah menjadi rumah yang cukup mewah. Ia tak mengerti kenapa ibunya tak berpindah rumah saja ketimbang berada di tempat ini yang tentunya pasti banyak orang yang akan menggunjingnya.


Maria menatap ke arah Justin yang menganggukkan kepala. Justin sangat berbeda dengan Justin yang ada di sini. Justin yang tengah bersamanya adalah Justin yang kerap kali dilihat oleh orang-orang dan juga sangat dingin. Maria sendiri tak terlalu mengerti kenapa pria itu bisa dengan cepat mengganti ekspresinya.


"Apakah kau akan tetap di sini saja? Bukannya kau tadi ingin mengetik pintu dan memanggil orang tua mu di dalam?" Maria pun baru sadar karena ia terlalu melamun memikirkan Justin.


Wanita tersebut maju selangkah dan menekan Bella rumah hingga berbunyi dan Maria pun tak sabar menunggu orang yang berada di dalam rumah itu keluar. Ia berharap ibunya akan baik-baik saja dan Maria lebih sedikit tenang jika wanita itu baik-baik saja.


Saat pintu tersebut dibuka, Maria terkejut melihat Jennifer yang tampak sangat berbeda. Wanita itu kurus dan jhga terlihat tengah sakit. Maria tak tega dengan kondisi yang tengah dialami ibunya.


"Mama! Apa yang terjadi dengan mu? Kenapa kau sangat berbeda sekali?" tanya Maria dengan mata yang penuh menuntut.


Jennifer sendiri sangat kaget saat mengetahui suara sang anak yang telah sekian lama tak didengarnya. Ia pun menatap k arah Maria dengan sangat teliti untuk memastikan jika anak ini adalah anaknya. Tapi, ternyata memang benar jika Maria adalah anaknya.


Jennifer bahagia dan langsung memeluk tubuh Maria dengan erat sampai tak ingin melepaskan Maria sama sekali karena saking rindunya ia dengan anak semata wayang ini. 


"Maria! Ini benar kau? Aku sungguh tak menyangka jika ini adalah kau. Tuah Terima kasih karena kau sedih mengabulkan doa ku untuk bertemu dengan anak ku. Aku tak menyangka dia akan datang ke sini sendiri."


Jennifer menyentuh wajah Maria dan mengamati wajah itu yang sama sekali tak berubah hanya semakin cantik dan tubuhnya juga sempurna. Dan ketika berpikir beberapa detik barulah Jennifer tersadar oleh suatu hal.


Kenapa Maria bisa berada di sini? Apakah wanita itu sudah lepas dari Justin? Jika benar begitu maka ini adalah suatu kabar yang sangat menggembirakan.


"Katakan kepada ku kenapa kau bisa ada di sini? Apakah si bajingan itu sudah melepaskan mu?" tanya Jennifer.


Maria pun menoleh ke arah Justin yang dari tadi hanya melihatkan interaksi antara dirinya dan juga sang ibu. Jennifer mengikuti arah pandang Maria dan ia bahkan sampai menutup mulutnya saking tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Ternyata Maria datang bersama dengan Justin. Ia pun langsung maju dan hendak menampar wajah Justin. Namun, Maria yang melihat hal tersebut dengan cepat menahan pergerakan sang ibu sebelum sempat menampar Justin.


"Mama! Jangan menamparnya! Dialah yang mengantarkan ku ke sini dan mengizinkan aku pergi untuk menemui mu."


Jennifer pun sedikit bernapas lega saat Maria telah menjelaskan kenapa Justin bisa ada di sini. Ia menatap ke arah Justin dengan sangat serius dan merasa bingung kenapa pria itu bisa memiliki hati walau setitik saja. Padahal Justin yang dahulu dikenal oleh ya sangat anti dalam bersimpati.


"Kenapa dia bisa mengizinkan mu?" tanya Jennifer yang sesungguhnya mulutnya ini akan merasa gatal jika tak bertanya kepada Maria.


Maria pun tersenyum dan menatap ke arah Justin sebentar lalu menatap ke arah ibunya. Ia menghela napas panjang dan berharap jika akan dimaafkan dengan kesalahan yang ia perbuat. Mungkin ibunya tak akan senang ketika ia mendengar apa yang sudah dilakukan Maria bersama dengan Justin.


Jennifer bahkan sangat tak percaya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Maria. Apakah Justin sekarang memiliki hati. Walaupun itu bagus tapi tetap saja Jennifer penasaran kenapa pria itu bisa berubah secepat itu. Tapi tampaknya Justin tak juga berubah. Terlihat dari tampangnya yang masih sama seperti dulu. Penuh dengan Aura hitam serta bengis.


"Apakah kau yakin dia telah berubah dan pasti akan menjagamu? Bagaimana jika misalnya dia akan merencanakan sesuatu kepada mu?" Maria menghilangkan kepalanya untuk meyakinkan sang ibu.


Justin tak sejahat seperti yang dipikirkan oleh ibunya. Justin memiliki hati dan menyebarkan merawat Maria dengan baik.


"Kau tak tahu betapa baiknya dia saat mengurusku Mama, kau selalu saja berburuk sangka kepadanya. Lihatlah aku sekarang baik-baik saja terjadi tidak ada yang perlu kau harus khawatirkan." Keadaan Maria memang baik-baik saja. Tapi bagaimana misalnya tekanan batin Maria tidak sebaik dengan fisik yang ia lihat saat ini. Atau bisa saja wanita itu dalam pengaruh tekanan sehingga ia kemungkinan berbohong kepadanya.


"Maria, Tapi tetap saja aku tak bisa percaya begitu dengan mudahnya. Aku khawatir kepada dirimu. Mungkin itulah yang dirasakan setiap ibu jika kamu tahu." Maria pun menganggukan kepalanya karena ini juga tahu bagaimana perasaan seorang ibu.


"Tentu saja aku tahu bagaimana perasaan seorang ibu mama. Maka dari itu aku menyakinkan dirimu jika diri ku baik-baik saja."


Jennifer menghela napas panjang dan mempersilakan sang anak masuk. Ia terlalu lama mengobrol di luar hingga sampai melupakan jika sang anak masih berada di luar.


Justin pun ikut masuk. Tampang pria itu benar-benar tak terbaca dan Maria bahkan merasa aneh kepada Justin.


"Dia terlihat cukup mengerikan, maka dari itu kau tak diperlukan dengan buruk olehnya, bukan?" Maria menggelengkan kepala karena memang ia sama sekali tak pernah diperlakukan dengan buruk oleh Justin.


Walau pun ada itu pun sesekali dan Sudja terjadi cukup lama. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.


"Mama! Kau selalu saja bertanya dengan pertanyaan yang sama. tentu saja jawaban ku juga akan sama jika aku baik-baik saja. Kau selalu saja menganggap jika Justin adalah orang jahat."


"Bagaimana aku tidak menganggap jika dia adalah orang jahat. Dia begitu banyak Melaka sesuatu yang buruk dan bahkan Mella perdagangan manusia. Apakah itu yang kau sebut jika dia adalah pria yang baik? Aku tak mengerti dengan penilaian mu itu."


Maria pun mengehela napas panjang. Mungkin insting seorang ibu sangat kuat sehingga ia selalu saja mengkhawatirkan anak-anaknya. Maria rasa hal itu sangat wajar terjadi.


"Aku tahu kau sangat khawatir kepada ku. Tapi sekarang akulah yang akan khawatir dengan kondisi mu."


________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.