Beautiful Woman In Disguise

Beautiful Woman In Disguise
bucin



bell pulang pun berbunyi, nazia yang pamit dengan wati.


tampak nazia pun menunggu jemputan nya.


"duh kenapa sih lama banget" jar nazia.


sementara di tempat lain, nazwa yang menyuruh supir pribadi nazia untuk tidak menjemput nazia.


"kau yakin baby, untuk tidak menyuruh menjemput nazia" ujar hajir memperingati istrinya.


"yeahh aku yakin, aku mau dia hidup mandiri, dan aku mau putriku dapat pacar" kata nazwa tersenyum.


"Oh kau mrmang terbaik baby" jar hajir mencium pipi nazwa, sedangkan nazwa memeluk leher suaminya.


Sedangkan nazia lelah menunggunya, bagaimana pun dia harus bersabar.


"hay naz, kau mau pulang, ayo ikut aku" tegur edward kepada nazia.


nazia pun berpikir sejenak, baiklah dia akan ikut dari pada dia menunggu lama. lagipula edward baik.


"baiklah ayo", nazia hendak berjalan ke arah edwarad yabg sudah siap mengendali motornya.


"berhenti" tegur abraham kesal dia juga mengemudi motor besarnya itu.


"ada apa sih!!" kesal nazia, sedangkan edward diam menundukan kepala.


"pulang dengan ku saja" ajak abraham.


"no"


"ayo"


"no"


"jangan salahkan aku kalau aku menyentuhmu" jar abraham serisu abraham pun menggendong tubuh nazia untuk naik ke motor. nazia hanya pasrah saja.


tampak abraham yang sedang memasangkan helm ke kepala nazia, jantung nazia sangat berdegup kencang. begitu pula dengan abraham.


Motor abraham pun menyala abraham dan nazia pun telah berlalu, sedangkan edward dia tampak lega.


.


Sedangkan nazia hanya duduk diam di belakang.


"hey, nazia pegangan yang erat, dan peluk aku" perintah abraham.


"tidak mau"


"oh kalau begitu aku akan mengebut , jangan salahkan aku" ancam abraham.


"jangan" jar nazia takut, nazia pun memeluk tubuh abraham dari belakang. tampak wajah abraham tersenyum menghiasi wajah tampan nya itu. dan abraham pun melajukan motornya dan mengelilingi kota jakarta.


"hey hey, kenapa kau tidak membawaku pulang saja" tegur nazia dia benar benar heran kenapa pria itu membawanya mengelilingi kota.


"temani aku jaln jalan" jawab abraham, nazia berpikir sejenak, baiklah dia akan menemani pria itu.


"nazia, kamu cantik. tapi.. aku belum mencintaimu, gak tau kalau besok atau bulan depan, tunggu aja" goda abraham.


"apasih!! iiiiiii bucin" ketus nazia. padahal muka nya merah merona dan hantung nya berdegup cepat.


"gimana ini?? harinya udah malam" kata nazia karena harinya mulai gelap dan awan jingga pun tiba, di sebut juga senja.


"kau sih! kenapa malah mengajakku, nanti kakak ku marah, tapi untung saja dia tidak di sini" kata nazia, mengingat kakaknya gilang yang kejam dan galak itu.


"jika dia tau, maka kau akan di pukuli kakakku loh" sambung nazia bergelidik ngeri gilang itu sangat jutek dan kejam satu orang yang ada mengusik gilang maka dia akan mengahncurkan hidup orang itu dengan waktu beberapa menit saja.


"ya aku tau, aku tidak takut dengan kakak mu" ujar abraham benar benar tidak takut dan tidak perduli, yang oenting dia mendapatkan harus nazia. bagaimana pun caranya.


"oh benarkah itu" jar nazia, baru kali ini nazia melihat orang yang tidak takut pada gilang kakanyaa.


brummm...brummmmm..


"apa itu kok banyak orang" tanya nazia melihat ke arah belakang karena banyak orang orang yang mengikuti abraham.


"hay abraham, kau tidak akan lolos" jar pria itu, dia adalah musuh besar abraham.


"sepertinya dia musuhku" ujar abraham, nazia memeluk abraham dari belakang, tapi gilang santay saja. dia melajukan motornya karena dia tidak ingat untuk memberi tau anak buah nya itu.