
Shella menghela napas panjang lalu menopang dagunya. Dia kini duduk sendiri di sebuah taman kecil yang berada di samping sekolah. Udara sejuk yang masih pagi menemaninya tanpa suara riuh teman-temannya yang belum datang.
Seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya, yang membuat Shella menolehnya. "Rayn?" panggilnya lirih seperti mengharapkan sosok lain berada di sampingnya saat itu. Shella kembali meluruskan pandangannya.
"Ryan udah baikan?" tanya Shella pada akhirnya karena jujur dia tidak bisa berhenti memikirkan keadaan Ryan.
"Udah. Dia udah masuk sekolah sekarang."
"Syukurlah. Sepertinya, aku juga harus lupain Ryan. Seandainya Ryan gak nolongin aku waktu itu pasti semuanya gak akan kayak gini."
"Lalu, apa jadinya kalau seandainya Ryan gak nolong kamu. Ngebiarin kamu jadi milik Diega dengan cara paksa."
Shella hanya menggelengkan kepalanya.
"Shella, apa kamu masih cinta sama Ryan?" pertanyaan itu membuat dada Shella berdebar.
"Yah, walau mungkin aku udah terlambat menyadarinya."
"Kalau seandainya Ryan sekarang ada di samping kamu, apa yang mau kamu lakukan?"
Shella terdiam lagi. Lalu menghela napas "Gue ingin peluk dia dan bilang, aku gak mau kehilangan dia."
Ryan membuka kacamatanya, sedikit mengacak rambutnya yang tadi tertata rapi. Melonggarkan dasinya dan membuka kancing atas kemejanya. "Shella..." panggilnya yang membuat Shella seketika menatapnya.
"Rayn, apa yang kamu lakuin? Kamu jangan bercanda." Shella tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Benarkah dia Ryan? Atau Rayn yang hanya menyamar menjadi Ryan.
"Kamu, gak bisa mengenal siapa aku?"
"Kamu jangan bohong lagi Rayn. Kamu jangan pernah menghibur aku dengan cara kayak gini."
"Aku gak bohong sama kamu. Aku Ryan." Ryan meraih kedua pundak Shella agar Shella mau menatapnya. "Kamu tatap mata aku. Kamu cari kebenarannya. Kamu pasti bisa mengenalku. Apa aku memang Ryan atau Rayn?"
Shella menatap kedua bola mata Ryan begitu dalam. Dia tahu, dia sadar, dia bisa mengenal sorotan mata itu dan dalam hitungan detik Shella langsung memeluk Ryan. "Ryan, kamu sudah mengingatku?"
"Aku gak mungkin melupakanmu selamanya, Shella. Maafkan aku, beberapa hari ini aku sama sekali tidak mengingatmu." Ryan mengeratkan pelukannya. Dia sudah kembali mengingat semuanya sejak dia sadar dari pingsannya kemaren.
"Kamu tahu, betapa takutnya aku membayangkan kamu gak bisa mengingatku selamanya. Aku gak mau kehilangan kamu, Yan."
"Aku juga gak mau kehilangan kamu, Shella..."
***
"Cinta!"
Suara penggilan itu membuat Cinta mendumel beberapa saat. "Ryan!" Cinta semakin mempercepat langkahnya namun tangannya berhasil mencegah Cinta untuk melangkah lagi. "Ada apa, Yan?" tanya Cinta sambil membalikkan badannya.
Rayn tersenyum sambil mengangguk.
"Bagaimana bisa?" Cinta masih tidak percaya. Kalau Rayn ada di hadapannya sekarang itu tandanya ingatan Ryan sudah kembali.
"Ryan sudah mengingat semuanya. Mulai sekarang kita kembali pada kejujuran dan semoga gak akan ada lagi kebohongan selanjutnya," kata Rayn.
Cinta menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Tak disangka Cinta memeluk Rayn. Rayn sedikit terkejut, karena mereka masih berada di lingkungan sekolah.
"Apa-apaan kalian ini. Pelukan di sekolah!" Suara itu menggelegar yang membuat Cinta seketika melepaskan pelukannya dan saling menjauh.
"Eh, Pak Teguh." kata Cinta tanpa dosa. "Maaf pak, saya lagi baper." Cinta langsung membalikkan badannya dan berlari kabur.
Pak Teguh masih melebarkan matanya pada Rayn. Rayn tersenyum lalu mendekat dan bersalaman mencium tangan Pak Teguh. "Pagi Pak. Untuk kali ini jangan marah Pak. Saya lagi khilaf." Rayn langsung membalikkan badannya dan berlari menyusul Cinta menuju kelas.
Pak Teguh hanya menggelengkan kepalanya. "Tingkah laku siswa zaman sekarang, meskipun sudah dihukum masih saja tidak kapok." Kemudian Pak Teguh melanjutkan langkah kakinya menuju kelas.
...***...
Sebulan telah berlalu. Saat pulang sekolah hari itu, terlihat Cinta sedang berlari mengejar Ryan yang kian mempercepat langkahnya menuju tempat parkir sepeda motornya.
"Ryan tunggu!" teriak Cinta yang menghentikan langkah Ryan.
"Ada apa?" tanya Ryan sambil mengangkat sedikit bahunya.
"Lo lupa sama janji kita tadi pagi. Kok lo mau ninggalin gue." Cinta mensejajarkan langkahnya di samping Ryan
"Oiya. Maaf." Mereka berjalan menuju tempat parkir. "Ya udah yuk, lo naik," ajak Ryan yang sudah menaiki motornya sekarang.
Cinta naik ke boncengan Ryan dan beberapa saat kemudian motor Ryan sudah mulai melaju. Bukan jalan menuju rumahnya yang dia tuju, tapi jalan menuju taman.
Setelah sampai Ryan segera memarkir motornya. Mereka turun dan masuk ke dalam taman. Sama-sama tersenyum saat melihat dua orang yang telah membuat janji dengan mereka. Mereka kini melangkahkan kakinya mendekat.
"Akhirnya kita bisa double date juga." kata Shella yang berjalan ke sisi Ryan.
"Iya. Acara yang sudah kita rencanain dari dulu baru terwujud sekarang." Cinta pun kini juga berjalan ke sisi Rayn.
Ryan menatap Shella dan tersenyum. "Karena sekarang gak akan ada lagi kebohongan di antara kita."
"Kita akan mulai semuanya dari awal dengan kejujuran tanpa ada kesalah-pahaman lagi." Rayn juga menatap Cinta sambil tersenyum.
..._SELESAI_...