
Badan Ryan langsung ambruk. Ryan merasakan sakit yang sangat luar biasa. Dia tidak sanggup menahannya. "Ryan.." Shella menahan tubuh Ryan dipelukannya tapi karena terlalu berat Shella pun jatuh terduduk.
Diega tersenyum devil karena telah berhasil membuat Ryan tak berdaya.
"Ryan!" Rayn dan beberapa teman Ryan sudah berhasil masuk ke dalam gudang itu. "Apa yang lo lakuin sama Ryan!"
Diega membalikkan badannya. "Kalian?" Diega begitu terkejut apalagi saat Ali dan Dion langsung menyergapnya. "Kalian jangan pernah ikut campur sama urusan gue!"
"Kita gak ikut campur. Biar lo sendiri yang akan berurusan dengan polisi."
"Gak! Lepasin!"
Mereka terus menyeret Diega keluar dari gudang tua itu dan akan menyerahkan kepada pihak yang berwajib.
"Ryan bangun.." Shella masih saja memeluk Ryan. "Aku gak mau kehilangan kamu. Aku sayang sama kamu." Kata Shella di tengah isak tangisnya.
"Shella..." lirih terdengar suara Ryan. Dia membuka matanya sesaat sebelum akhirnya dia melemas dan menutup matanya lagi.
"Ryan! Bangun! Ryan!" Shella menggoyangkan bahu Ryan namun Ryan masih tetap saja diam tak bergerak. Dia tidak sadarkan diri karena pukulan keras dari Diega.
"Ryan!" Rayn tak kalah paniknya. Dia langsung membopong Ryan yang dibantu dengan teman-temannya. Sesegera mungkin mereka membawa Ryan ke rumah sakit terdekat.
...***...
Ini semua salah aku. gara-gara aku Ryan jadi terluka. Maafin aku Ryan. Aku gak mau kamu kenapa-napa.
Air mata Shella terus menetes saat menunggu hasil pemeriksaan dari dokter. Dia duduk bersama Cinta yang terus mengusap pundaknya.
"Shella, udah jangan nangis terus. Gue yakin Ryan gak papa. Ryan itu cowok yang kuat,"
Perkataan Cinta tidak juga membuat hati Shella tenang. Entah mengapa perasaannya begitu sangat khawatir dan gelisah.
Sedangkan di depan mereka ada Rayn yang sedang mondar-mandir tidak karuan. Tapi langkahnya terhenti saat kedua orang tuanya sudah tiba di rumah sakit. Apa yang harus Rayn jawab saat mereka bertanya apa yang terjadi.
"Rayn, bagaimana bisa semua ini terjadi?" tanya mamanya sambil memegang kedua pundak Rayn.
"Hmm, anu Bun. Ryan... " Rayn tidak bisa menjawab.
"Ini bukan salah kamu. Tante bangga sama Ryan. Memang itu yang harus dilakukan seorang lelaki untuk melindungi seorang wanita."
Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruang IGD. Semua langsung berdiri dan berjalan mendekati dokter.
"Dokter, bagaimana keadaan putra kami?"
"Putra ibu sudah mulai sadar. Untuk keadaan pastinya kita tunggu hasil rontgen."
"Apa kita boleh menemuinya?"
"Boleh."
Mereka semua segera masuk ke dalam ruangan. Terlihat Ryan yang masih menyipitkan matanya dengan satu tangan yang memijat pelipisnya.
"Ryan, kamu gak papa sayang? Masih sakit?" tanya Bundanua dan langsung mengusap lembut rambut Ryan.
Ryan hanya menganggukkan kepalanya. Dia menurunkan tangannya dan kini membuka matanya menatap kedua orang tuanya lalu Rayn.
"Ryan, untung kamu cepat sadar.
Ryan kini menautkan alisnya, "Memang apa yang terjadi sama aku?" Ryan seperti baru tersadar bahwa dirinya berada di rumah sakit. "Kenapa aku ada di rumah sakit?"
Pertanyaan Ryan sedikit membuat mereka bingung. Apa Ryan sudah tidak mengingat kejadian barusan yang dialaminya?
"Ryan, kamu mengalami kecelakaan. Kamu gak ingat?"
Ryan menggelengkan kepalanya, lalu dia menatap Cinta yang berdiri di sebelah Rayn. "Cinta, lo juga ada di sini?" kata Ryan dengan sangat pelan.
"I-iya." jawab Cinta yang sebenarnya dia bingung dengan pertanyaan Ryan.
"Makasih yah, lo selalu perhatian sama gue." kata Ryan dengan tersenyum tipis. Senyuman Ryan dulu yang diberikan pada Cinta yang membuat tanda tanya besar pada Shella. Bahkan Ryan sama sekali tidak melihat Shella.
"Ryan aku...." belum sempat Shella berkata lagi, Ryan sudah memotong pembicaraannya.
"Lo siapa?"