Bad Boy Or Good Boy?

Bad Boy Or Good Boy?
BAB 30



"Rayn!" panggil Shella yang menghentikan langkah Rayn.


Perlahan Rayn membalikkan badannya. Sebenarnya dia bingung, apa yang harus dia katakan?


"Rayn, kamu kenapa ngelakuin ini semua sama aku?" tanya Shella yang lebih tenang dibanding dengan Cinta saat mengetahui kebenaran ini.


"Maafkan aku Shella. Aku hanya ingin merasakan hidup menjadi seorang Ryan."


Shella meraih tangan Rayn dan menggenggamnya. "Rayn, kamu tahu, aku begitu sangat mencintaimu. Yang aku tahu selama ini aku sudah menjadi pacar kamu. Aku gak pernah berfikir kalau itu bukan kamu. Aku ingin bersama kamu bukan dengan yang lain."


Rayn menghela napas panjang menghilangkan sesak di dadanya. "Iya, aku dulu juga mencintaimu tapi..." Rayn menghentikan perkataannya sesaat. "Tapi semenjak aku menjadi Ryan perasaanku berubah. Aku sekarang mencintai Cinta. Maafkan aku Shella.. Maafkan aku.." Rayn melepaskan genggaman tangan Shella. dia membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Shella.


Shella menatap kepergian Rayn dengan berderai air mata. Meskipun Shella tahu mereka sudah membohonginya sebesar itu, tapi Shella masih bisa memaafkan Rayn. Dia hanya tidak bisa menerima kenyataan jika Rayn sekarang mencintai Cinta.


Rayn, selama ini yang aku tahu kamu mencintai aku. Aku tidak pernah tahu bahwa yang mencintaiku ternyata bukan kamu melainkan Ryan. Ryan yang tidak pernah aku kenal selama ini. Bagaimana aku bisa membedakan perasaan ini jika fisik kalian sama.


...***...


Rayn duduk termenung di balkon kamarnya yang berada di lantai atas. Menghirup dalam-dalam udara yang cukup dingin malam itu. Menghembuskan napas panjang berusaha menghilangkan segala beban fikirannya. "Cinta.. Dan akhirnya aku harus melepaskanmu..." ucap Rayn lirih dengan tatapan yang masih kosong.


Beberapa saat kemudian Ryan datang dan ikut duduk di sampingnya yang membuat lamunan Rayn buyar. Rayn menoleh Ryan yang kini juga menatap kosong langit malam itu. "Bagaimana keadaan Cinta dia sudah sadar?"


"Kamu anterin dia pulang?" tanya Rayn lagi yang masih begitu khawatir dengan keadaan Cinta.


Dan lagi Ryan hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu tadi bisa ada di taman bersama Shella?" Rayn bertanya lagi. Entah kenapa dia sekarang menjadi lebih banyak tanya dibanding Ryan.


"Gue gak tahu." Jawab Ryan pelan.


Rayn tahu, Ryan sedang tidak mau bicara padanya. Dia pun tidak melanjutkan pertanyaan yang sebenarnya masih banyak di benaknya.


"Ternyata patah hati itu sakit." Ucap Ryan tiba-tiba. "Gue baru pertama kali ini ngerasain patah hati. Biasanya gue yang matahin hati cewek. Mungkin ini hukuman buat gue." Ryan menghela napas panjang sambil mendongakkan kepalanya.


"Patah hati? Kamu pikir cuma kamu yang sakit hati. Bagaimana dengan aku? Cinta masih sangat mencintai kamu bahkan dia sampai pingsan memikirkan kamu. Di saat aku benar-benar jatuh cinta padanya, dia malah pergi." Rayn berdiri dan masuk ke dalam kamar meninggalkan Ryan.


Ryan menoleh sesaat langkah Rayn. Apa yang dikatakan Rayn memang benar. Dulu Rayn memang mencintai Shella tapi karena dia tahu jika Ryan juga mencintai Shella, maka dia mengalah demi dirinya. Sekarang, di saat cinta itu sudah terganti, Cinta malah pergi meninggalkannya. Ryan sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Shella pun juga masih mencintai Rayn.


Ryan berdiri dan mengikuti Rayn duduk di sisi ranjang. "Gue minta maaf. Semua ini memang gara-gara gue. Harusnya gue turuti apa kata lo dulu sebelum semuanya terluka seperti ini,"


"Gak usah menyesal dengan apa yang udah terjadi." Rayn beranjak ke atas tempat tidur. Membaringkan tubuhnya yang terasa penat. Berharap esok pagi, jika dia membuka matanya semua ini hanyalah mimpi.