Bad Boy Or Good Boy?

Bad Boy Or Good Boy?
BAB 38



Ckkiittt!


Suara rem dari sepeda motor Rayn membuat Ryan dan Cinta menoleh ke arah Rayn yang kini tengah berhenti tidak jauh dari tempat Ryan dan Cinta berdiri.


Rayn mendengar apa yang dikatakan Ryan di kalimat terakhirnya. Meskipun dia tahu, ini semua tidak sama dengan kenyataan tapi tetap saja hati Rayn terasa hancur. Dan lagi, dia harus patah hati. Mengalah demi Ryan seperti suatu kewajiban dalam hidupnya.


Shella segera turun dari bocengan Rayn saat dirasanya Rayn terburu-buru menjagrak motornya.


"Rayn!" Cinta melepaskan kedua tangan Ryan yang ada dipundaknya dan menjauhkan dirinya.


Rayn hanya menatap tajam mereka lalu dengan langkah cepatnya berlenggang melewati mereka berdua dan masuk ke dalam rumah.


"Rayn!" panggil Cinta lagi sambil berlari menyusul Rayn. "Kamu marah?" tanya Cinta. Dia kini menarik tangan Rayn saat Cinta berhasil menyusulnya.


"Cinta, apa yang kamu lakuin? Harusnya kamu tetap sama Ryan bukan mengajarku."


"Lo kenapa ngejar Rayn, Cinta?" tanya Ryan sambil melepas genggaman tangan Cinta pada Rayn.


"Kenapa kalian diam? Jawab!" kata Ryan lagi. Dia semakin bingung saat melihat tatapan Rayn yang tidak seperti biasanya. Ryan tahu ada sesuatu yang disembunyikan darinya. "Lo punya hubungan khusus dengan Rayn? Apa karena wajahnya sama kayak gue, lo suka sama dia."


"Ryan, stop! Semua gak kayak yang kamu kira. Aku gak ada hubungan apa-apa sama Cinta dan kita juga baru saling kenal." Rayn memutar kakinya dan akan beranjak pergi tapi terhenti saat Cinta mulai berbicara.


"Ryan, gue cinta sama Rayn." ucap Cinta tepat di hadapan Ryan.


Ryan melebarkan matanya. Perlahan dia melepaskan tangan Cinta. Dia tidak percaya dengan semua ini. "Apa?" tanya Ryan seperti tidak mendengar, padahal kata-kata Cinta begitu jelas tertangkap di telinga Ryan. "Lo cinta sama Rayn, mana mungkin?"


Rayn membalikkan badannya dan berusaha menutupi semuanya lagi. "Cinta, kamu bilang apa? Kamu bercanda. Ini gak lucu." kata Rayn sambil tertawa kaku.


"Rayn, aku gak bisa kayak gini. Kamu bisa mengorbankan semuanya demi Ryan, tapi aku gak bisa Rayn." Cinta, memang seorang gadis yang begitu ekspresif dan emosional, dia tidak mungkin bisa tahan dengan kebohongan itu apalagi saat Ryan menginginkan hubungan yang serius darinya.


Shella hanya terdiam memandang mereka semua seperti orang bodoh. Di saat semua terasa memperebutkan Cinta lalu untuk apa dirinya berada di sana sekarang.


Perlahan Shella membalikkan badannya tapi langkahnya terhenti saat sebuah tangan menariknya. "Sebenarnya Shella adalah pacar lo bukan gue." Cinta menarik Shella agar mendekat ke arah Ryan yang berdiri mematung dalam kebingungan. "Karena kecelakaan yang lo alami, lo mengalami amnesia dan melupakan Shella. Apa lo gak pernah bayangin gimana perasaan Shella?"


Ryan tak mampu berkata-kata. Dia sangat bingung dengan keadaan ini. Dia tatap Cinta dan Shella secara bergantian mencari kebenaran yang ada. Tapi semakin memaksakan kepala Ryan semakin pusing. Dia memegang kepalanya yang terasa semakin sakit dan berat. "Aaarrrggghhh! Gak mungkin semua ini bisa terjadi." Ryan memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan semakin membungkuk menahan rasa sakitnya.


"Ryan!"


...***...


Perlahan, Ryan kini mulai membuka matanya. Dia melihat sekeliling. Raut-raut wajah yang sedari tadi khawatir seketika tersenyum tipis saat Ryan sudah benar-benar sadar. Ryan sedikit bingung, kenapa dia tiba-tiba sudah berada di kamarnya.


"Ryan, akhirnya kamu sadar."


Ryan hanya menatap bingung Bundanya yang sedang mengusap rambutnya pelan. Dia beralih manatap Rayn yang masih nampak menautkan alisnya, lalu Shella yang masih saja ingin menangis dan Cinta yang sesekali menghela napas panjang.


Ryan masih terdiam, dia memikirkan sesuatu.


"Rayn aku pulang dulu yah. Tante.. Om.." Shella berpamitan untuk pulang. Setelah bersalaman Shella membalikkan badannya dan keluar dari kamar Ryan.


"Om, Tante, Cinta juga pulang dulu." Cinta ikut menyusul Shella.


Ryan hanya menatap kepergian mereka.


"Rayn..." panggil Ryan yang kini sudah berusaha untuk duduk. Sepertinya dia ingin berbicara serius pada Rayn.


...***...


"Shella!" panggil Cinta sambil berlari ke arah Shella dan mensejajarkan langkahnya.


Shella menghentikan langkahnya dan menoleh Cinta. "Kok lo juga pulang? Ryan gak cariin lo?"


Cinta menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "Nggak. Gue gak mau nyakitin Rayn dan juga lo. Lebih baik gue menghindar." Cinta merangkul bahu Shella dan mengajaknya berjalan.


Shella tersenyum. Dia mengikuti langkah Cinta, "Gue seneng punya sahabat kayak lo. Walau mungkin kisah cinta kita pada saudara kembar itu gak sejati tapi gue pengen persahabatan kita sejati sampai selamanya."


"Yah, tentu."


Mereka melangkah bersama. Melangkahkan kakinya dengan ringan melepaskan segala masalah yang ada. Berusaha merelakan sesuatu yang mungkin tidak bisa mereka miliki.