Bad Boy Or Good Boy?

Bad Boy Or Good Boy?
BAB 32



"Lebih bahagia bersama Ryan?" Shella memotong perkataan Rayn yang sebenarnya belum selesai. "Nggak Rayn."


Rayn menghela napas panjang. "Nggak gimana? Aku tahu sendiri kalau kamu bahagia bersama Ryan, Shella. aku melihatnya sendiri. Aku sempat patah hati dan putus asa. Tapi Cinta menyadarkanku tentang perasaanku dan karena ketulusan Cinta, aku pun jatuh hati padanya."


Shella tidak sanggup lagi berkata-kata. Dia sendiri menjadi ragu akan perasaannya. Sebenarnya apa yang dikatakan Rayn benar adanya. Dia memang bahagia bersama Ryan, tapi entahlah untuk siapa perasaannya.


"Hebat! Hebat!" suara itu membuat Rayn dan Shella seketika menoleh. Ada Diega yang sedang menatap mereka dengan senyuman devilnya. "Lo masih mau maafin Rayn setelah kebohongan itu. Benar-benar hebat akting lo Rayn. Shella, lo harusnya sadar kalau Rayn hanya mempermainkan lo, termasuk juga saudara kembarnya yang tengil itu."


Shella berdiri dan menatap tajam Diega. "Berhenti bicara kayak gitu. Lo gak lebih baik dari Rayn maupun Ryan!" Shella melangkahkan kakinya keluar dari kelas tapi saat melewati Diega, Diega menahan langkahnya dengan menggenggam pergelangan tangan Shella.


"Gue tahu, tapi setidaknya gue mencintai lo tanpa kebohongan."


Mereka saling bertatap tajam sebelum akhirnya Shella membuang wajahnya dari tatapan Diega dan melanjutkan langkahnya.


Semua ini terasa membingungkan buat Shella. Dia tidak tahu untuk siapa sebenarnya perasaannya itu. Apa dia harus melupakan Rayn ataupun Ryan? Shella duduk di bangku dekat taman. Menghela napas panjang merasakan kepenatan di hatinya.


"Apa aku harus melupakan semua perasaan ini?" Shella terus bertanya pada dirinya sendiri. Dia bingung, galau, dan dilema.


...***...


"Rayn!" panggil Ryan saat Rayn baru saja keluar dari gerbang sekolahnya. Rayn pun menjalankan motornya mendekati Ryan. "Shella udah pulang?" tanya Ryan yang ternyata ke sekolah Rayn hanya untuk menanyakan Shella. Beberapa teman Rayn yang berjalan di dekat mereka, menatapnya aneh.


"Kok bisa mirip banget sih?"


"Kalian kembar?"


"Kenapa lo gak pernah ngasih tahu kita kalau punya saudara kembar?"


Omongan-omongan mereka tidak digubrisnya, kecuali...


"Diam!!" bentak Ryan.


Seketika mereka semua langsung diam dan berlalu. "Ih, ganteng-ganteng tapi galak."


"Ryan, udalah biarin mereka. Shella tadi kayaknya belum pulang. Lo mau nunggu dia?"


"Iya..." pandangan Ryan tertuju pada seorang gadis yang sudah berjalan beberapa meter dari mereka. "Bukankah itu Shella."


Rayn mengikuti arah telunjuk Ryan. "Iya, kenapa kita bisa gak lihat Shella barusan."


"Pasti gara-gara ada cewek-cewek resek tadi. Biar gue susul." Ryan bersiap-siap menjalankan sepeda motornya, tapi dia melihat kejadian yang sangat tidak terduga. Ada sebuah mobil berhenti tepat di samping Shella dan dengan cepat dua orang keluar dari mobil itu membawa paksa Shella masuk ke dalam mobil. Ini seperti kasus penculikan. "Shellaa..!" teriak Ryan sambil mempercepat laju motornya mengejar mobil itu.


Rayn segera melajukan motornya akan menyusul Ryan tapi tiba-tiba dia harus mengerem motornya secara mendadak karena ada Cinta yang berjalan menghadang Rayn. Rayn tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Apa itu beneran Cinta atau hanya ilusi? Rayn mengerjapkan matanya sesaat memastikan bahwa itu benar nyata.


Cinta terdiam menatap Rayn di depan sepeda motornya. Dia merasa begitu gugup. Dia harus bisa mengungkapkannya. Mengungkapkan kejujuran. "Rayn..." lidah Cinta terasa kelu. "Rayn aku gak mau kehilangan kamu." Akhirnya Cinta bisa mengungkapkannya. Ada kelegaan di hatinya.


Rayn terhipnotis sesaat. Butuh loading untuk memastikan kata-kata itu masuk ke dalam otaknya dan juga hatinya.


Tersadar Rayn turun dari motornya dan langsung memeluk Cinta. "Aku juga gak mau kehilangan kamu Cinta. Aku cinta sama kamu."


"Aku juga cinta sama kamu. Maafkan aku karena aku baru menyadari cinta ini."


Rayn melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi Cinta. "Aku bisa ngerti." Gagal pada adegan romantis selanjutnya saat Rayn teringat tentang Shella dan Ryan. Mereka berada dalam masalah. "Gawat Shella dan Ryan, kita harus segera menyusul mereka." Rayn melepaskan tangannya dari pipi Cinta.


"Ada apa?"