Bad Boy Or Good Boy?

Bad Boy Or Good Boy?
BAB 24



"STOP!!!" teriak seseorang yang telah menghentikan motornya di belakang Diega. Dia langsung turun dan menarik Diega dengan keras. "Apa yang lo lakuin!!" dengan cepat dia memukul pipi kanan Diega sampai tubuhnya terhuyung ke belakang.


Diega meringis kesakitan sambil mengusap pipinya. Dia sangat terkejut saat melihat Ryan.


Siapa dia? Kenapa wajahnya begitu mirip dengan Rayn. Gak mungkin!


Diega menegakkan kembali tubuhnya dan memperjelas pandangannya. Melihat setiap detail wajah Ryan setelah itu Diega melihat Rayn.


"Lepasin dia! Sebelum kalian semua habis sama gue."


"Lo siapa? Heh! Ow, ternyata lo saudara kembar Rayn. Gak nyangka Rayn yang secupu ini punya kembaran kayak lo. Jadi selama ini lo nyamar jadi Rayn." Diega bisa menebak keadaan saat ini.


Lagi-lagi Diega memberi kode pada anak buahnya untuk melepaskan Rayn.


"Rayn!" Ryan akan menolong Rayn tapi tiba-tiba kedua anak buah Diega menyergapnya. "Apa-apaan kalian! Lepasin gue!" Ryan berusaha melepaskan badannya tapi sia-sia.


"Gue sekarang ngerti sama permainan kalian. Dan lo akan mendapatkan balasan dari gue sekarang!" Diega bersiap-siap untuk memukul Ryan tapi terhenti karena ketiga teman Ryan muncul dan langsung menarik Diega menjauh.


"Kalian beraninya main keroyokan. Kalau lo berurusan sama Ryan, lo juga berurusan sama kita!" Rangga dan Dion segera melepaskan Ryan dari kedua anak buah Diega.


Ryan tak mau kehilangan kesempatan itu. Dia langsung menghajar Diega dengan penuh amarah. "Lo rasain ini!" Ryan terus memukul wajah Diega. "Lo gak tahu lo berhadapan sama siapa? Gue Ryan dan gue peringatin sama lo, jangan pernah mengganggu Rayn kalau lo gak mau gue habisin!" ancam Ryan sambil melepaskan Diega yang sudah babak belur.


Diega dan anak buahnya segera kabur karena mereka sudah tidak bisa melawan Ryan beserta teman-temannya. Meski demikian ancaman masih terlontar dari mulutnya. "Kalian tunggu pembalasan dari gue! Kalian bakalan menyesal." Mereka pergi dengan mengendarai motor mereka.


"Kita gak takut sama lo!" teriak Ryan lalu dia membantu Rayn berdiri. "Rayn lo gak papa?"


Rayn masih saja meringis kesakitan. "Kamu masih tanya gak papa. Kamu lihat keadaan aku kayak gimana. Dasar!"


"Iya gue tahu. Ya udah kita pulang sekarang." Ryan menahan tubuh Rayn dan membantunya berjalan.


"Kita minta maaf." kata Rangga mulai minta maaf pada Rayn meski terdengar sangat kaku.


"Kalian niat gak sih minta maaf!" Ryan kembali menaikkan nada bicaranya.


"Ya udahlah. Ya udah! Yang penting kalian jangan pernah mengganggu saudara kembar gue dan gue mau mulai sekarang kalian juga ikut melindungi Rayn."


Seperti biasa teman-teman Ryan selalu patuh pada Ryan.


"Rangga lo bawa motor Rayn, biar gue yang bonceng Rayn nanti kalau dia pingsan di jalan kan bahaya." kata Ryan sambil mengendarai motornya.


"Pingsan? Aku gak mungkin pingsan." Rayn naik ke boncengan Ryan meski bicara seperti itu.


"Haduh lo itu letoy." Seperti biasa Ryan bicara seenaknya pada Rayn. Untunglah kebisuan yang sempat terjadi di pagi hari tadi telah mencair.


Mereka segera pulang ke rumah yang juga diikuti oleh teman-teman Ryan. Tak lama mereka kini sampai. Segera mereka turun dari motor dan berjalan masuk ke dalam rumah. Ryan memapah Rayn meski dengan firasat yang tidak enak. Pasti kedua orang tuanya akan menyalahkannya.


"Astaga, Rayn kamu kenapa?" pekik Bundanya saat melihat keadaan Rayn yang babak belur. "Ryan, apa ini gara-gara kamu? Kenapa kalian bisa datang bareng sama teman-teman kamu?"


Firasat tidak enak Ryan benar terjadi. "Bunda, kenapa Bunda bisa nuduh Ryan yang bukan-bukan. Justru Ryan yang nolong Rayn." kata Ryan sambil mendudukkan Rayn di sofa.


"Karena biasanya kamu yang suka berantem, Ryan." Andini segera mengambil kotak obat dan mengobati luka Rayn.


"Bunda, Ryan benar. Ryan yang nolong aku," ucap Rayn pelan sambil menahan sakit saat Bundanya mulai mengobati lukanya.


"Kamu ada masalah apa sampai berantem kayak gini?"


Rayn hanya terdiam. Semuanya terdiam.


Andini menatap mereka satu-satu. "Ingat yah, Bunda gak mau ada kejadian seperti ini lagi. Baik Rayn maupun Ryan."


"Iya Bun." jawab Ryan sambil berjalan ke kamarnya dengan mengajak ketiga teman-temannya. "Main ps yuk bro, kalian kan jarang-jarang main di rumah."


Andini hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah bandel putranya yang satu itu. "Ya udah, Rayn kamu makan dulu yah habis itu istirahat di kamar."


Rayn hanya menganggukkan kepalanya. Jujur, dia masih merasa sangat ketakutan. Bagaimana kalau Diega menghajarnya lagi? Apa yang bisa dia lakukan tanpa Ryan? Dan satu hal lagi, bagaimana jika Diega bilang sama Shella tentang kebenarannya. Bagaimana reaksi Shella? Apa Shella akan membencinya?