
Ryan menghentikan motornya di depan sekolahnya. Mulai saat ini dia akan menjadi dirinya sendiri, tidak ada lagi acara tukar identitas.
Kenapa rasanya gue masih ingin menjadi Rayn. udah jelas seperti ini hidup gue. Apa karena Shella?
Ryan menghela napas panjang sambil berjalan di koridor kelas.
Anggap aja apa yang gue lakuin kemaren sebagai Rayn itu hanya mimpi dan gak akan pernah menjadi nyata. Gue harus bisa lupain Shella. Gue harus bisa kembali jadi diri gue. Ryan mempertegas langkahnya. Meyakinkan dirinya sendiri.
Ryan memasuki ruang kelas. Dia menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan Cinta. Mau tidak mau Cinta pun berdiri di depan Ryan yang menghalangi langkahnya. Cinta menatap sesaat Ryan. Dia tahu ini Ryan asli, bukanlah Rayn. Lalu dia mengalihkan pandangannya. Cinta telah berhasil berdamai dengan perasaannya sendiri bahwa dia tidak mau lagi terjebak dalam kebohongan cinta.
"Cinta, gue udah kembali." kata Ryan yang membuat Cinta bingung. "Gue akan kembali menjadi Ryan yang dulu."
Haruskah Cinta senang atau malah sebaliknya. Kalau Ryan kembali menjadi Ryan yang dulu itu berarti Cinta akan dipermainkan lagi. Bukan seperti Rayn yang telah memberinya sebuah hubungan yang pasti.
"Gue udah gak peduli lagi." Cinta memutar langkahnya tapi Ryan meraih tangannya mencegah Cinta pergi.
"Apa yang harus gue lakuin. Gue bingung Cinta. Gue harus gimana. Kalau gue kembali jadi diri gue sendiri," Ryan menarik tubuh Cinta hingga ke pelukannya, "Gue akan lakuin ini sama lo. Ini kan yang lo mau."
"Ryan lepaskan!"
Ryan semakin mempererat pelukannya sampai Cinta tidak bisa berkutik. Bukan dengan segenap rasa cinta tapi dengan segala kekesalan yang meracuni fikirannya. "Lo bilang sama Rayn kalau lo begitu mencintai gue. Jadi ini kan yang lo mau!"
"Ryan apa yang lo lakuin." Cinta merasa takut, dia berusaha mendorong tubuh Ryan namun sia-sia, Ryan malah mendekatkan wajahnya dan akan mencium Cinta.
Plaakkk!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Ryan. "Berhenti memperlakukan gue seperti cewek yang gak berharga!!" Cinta mengeraskan suaranya tepat di depan wajah Ryan.
Ryan melepaskan pelukannya. Dia memegang bekas tamparan Cinta di pipinya. Cukup sakit. Ryan lalu berjalan dan duduk di bangkunya. Hanya ada beberapa temannya yang melihat adegan itu secara langsung tapi mereka hanya terdiam karena mereka semua takut dengan Ryan.
Gue benci sama lo Ryan!
Cinta duduk di bangku taman sambil mengusap air matanya, tapi tetap saja air matanya tidak bisa berhenti. "Apa hanya Rayn yang mencintai gue dengan tulus. Rayn, andai lo ada di sini, pasti lo gak akan biarin gue menangis." Cinta tersadar bahwa hanya cinta Rayn yang membuat hatinya tenang. Yang membuatnya tidak pernah merasa takut akan kehilangan. Hanya cinta dari Rayn yang sekarang dia inginkan.
Sedangkan Ryan duduk sambil menopang dagunya. Apa yang dilakukannya pada Cinta sebenarnya hanyalah untuk membuat Cinta sadar akan perasaannya. Ryan yakin, Cinta pasti juga mempunyai perasaan pada Rayn. Rayn yang selama ini memberi kenyamanan pada Cinta, mana mungkin Cinta tidak jatuh hati padanya.
Semoga apa yang gue lakuin barusan memang benar. Gue ingin Cinta sadar bahwa gak seharusnya dia mencintai gue. Yah, Cinta harus bisa berhenti mencintai gue.
...***...
Mereka sama-sama menghentikan langkahnya. Sama-sama menatap dan sama-sama membisu. Sama-sama merasa seperti orang asing padahal mereka pernah menyimpan perasaan yang sama.
Inilah hidup aku. Aku Rayn. Aku harus bisa menerima kenyataan. Hidup dalam kebohongan hanya akan meninggalkan luka. Meski aku gak tahu apa yang harus aku katakan saat berhadapan dengan Shella seperti sekarang.
"Rayn, kamu udah kembali?" tanya Shella yang sebenarnya tidak butuh jawaban karena dia sudah tahu akan jawabannya.
Rayn mengangguk. "Aku minta maaf dengan apa yang sudah aku lakuin selama ini. Aku tahu kebohongan ini begitu besar, bahkan kata maaf pun mungkin udah gak bisa mengganti luka hati kamu."
"Aku memang kecewa, sangat kecewa. Tapi asal kamu tahu aku gak pernah menyimpan dendam. Aku udah maafin kamu. Tapi... Apa perasaan kamu sekarang berubah?"
Rayn hanya menunduk, tak menjawab petanyaan Shella. Lalu dia berjalan pelan melewati Shella. Perasaannya sekarang telah berubah. Berubah seiring berjalannya waktu.
"Rayn..." panggil Shella pelan sambil mengikuti Rayn masuk ke dalam kelas. Rayn duduk di bangkunya. Menatap kosong mejanya yang masih kosong. "Rayn aku tahu." Shella duduk di samping Rayn. "Aku tahu kamu sekarang mencintai Cinta kan? Karna kamu dan Ryan bertukar identitas lalu cinta kamu juga ikut bertukar?"
Rayn mengangguk pelan. Dia mulai menceritakan semuanya pada Shella. "Dulu aku mencintai kamu, tapi aku gak berani jujur sama kamu. Aku terlalu pengecut, hingga aku membiarkan Ryan yang mengungkapkan perasaannya. Aku fikir kamu pasti akan lebih bahagia bersama Ryan."
"Lebih bahagia bersama Ryan?" Shella memotong perkataan Rayn yang sebenarnya belum selesai. "Nggak Rayn.."