
"Ryan aku...." belum sempat Shella berkata lagi, Ryan sudah memotong pembicaraannya.
"Lo siapa?" tanya Ryan. Ryan seperti tidak mengenal Shella sama sekali. Apa dia hanya berpura-pura atau Ryan memang tidak mengingatnya, lalu mengapa Ryan masih mengingat yang lainnya.
"Ryan? Kamu gak ingat sama aku? Aku Shella..."
Ryan terus memandang Shella. Seperti berusaha mengingat sesuatu lalu dia menggelengkan kepalanya. "Gue gak kenal sama lo. Lo teman Rayn?"
Shella dan semua masih terheran dengan Ryan. "Yan, kamu baru sadar jangan bercanda. Gak lucu," kata Rayn yang mengira Ryan sedang bercanda.
"Gue gak bercanda, gue bener-bener gak ingat siapa dia."
"Ryan, mana mungkin sih kamu gak ingat Shella. Coba kamu ingat-ingat lagi." Rayn masih kekeh yang membuat Ryan menjadi berpikir keras. Dia berusaha mengingatnya tapi kepalanya terasa sangat pusing dan begitu berat. Ryan memejamkan matanya dan memegang kepalanya.
"Ryan, udah gak usah dipaksakan," kata Bundanya yang mengerti kalau Ryan menahan rasa sakitnya.
Shella menggelengkan kepalanya. Mengapa Ryan hanya tidak bisa mengingatnya. Apa Ryan tidak benar-benar mencintainya hingga semua memori tentang Shella hilang. Shella membalikkan badannya dan langsung berlari keluar.
"Shella..." panggil Rayn, ingin dia mengejarnya tapi ada sesuatu yang lebih penting yang harus ditanyakan. "Dokter apa yang sebenarnya terjadi pada Ryan?" tanya Rayn yang semakin khawatir dengan keadaan Ryan.
Dokter langsung memeriksa keadaan Ryan dengan seorang suster yang sekarang memberi suntikan penghilang rasa sakit karena Ryan masih saja kesakitan dan memegangi kepalanya.
"Dokter, putra kami tidak kenapa-napa kan?"
Ryan akhirnya mulai tertidur, Dokter itu pun menghela napas panjang. Dia kini menatap kedua orang tua Ryan dengan serius. "Ternyata apa yang saya takutkan terjadi. Beberapa syaraf di otak belakang Ryan terjepit sehingga sebagian ingatan Ryan hilang."
"Bagaimana bisa dokter? Mengapa hanya Shella yang tidak diingat oleh Ryan?" Rayn masih begitu bingung dengan kedaan Ryan.
"Mungkin dulu Ryan tidak mengenal Shella, karena ingatan Ryan hanya hilang sebagian."
Hilang ingatan sebagian? Itu berarti Ryan hanya melupakan Shella dan semua kejadian di saat Ryan menjadi Rayn. "Tapi dokter apa ingatan Ryan bisa pulih kembali?" tanya Cinta sangat khawatir dengan masalah baru yang akan mereka hadapi. Apa dia harus kembali pada Ryan setelah Cinta menyadari perasaannya pada Ryan. Tidak!
"Amnesia yang dialami Ryan hanya bersifat sementara. Tapi, kalian harus sangat bersabar karena jika kalian memaksa Ryan untuk mengingatnya, Ryan akan terus merasa kesakitan," terang dokter.
"Shell, lo jangan sedih. Ryan pasti akan kembali mengingat lo."
Shella menggelengkan kepalanya. Tanpa melihat Cinta, Shella mulai mengeluarkan apa yang dia rasa, "Gue pernah denger kalau seseorang yang mengalami amnesia pasti dia tidak akan melupakan seseorang yang di cintai. Mungkin dia lupa dengan semua kejadian yang dia alami tapi dia tidak mungkin lupa dengan persaannya itu. Ryan melupakan semuanya, berarti dia tidak benar-benar mencintai gue."
"Lo ambil kesimpulan darimana? Ryan masih mengalami shock. Butuh waktu untuk Ryan bisa sembuh."
Shella mengusap air matanya dan menatap Cinta. Apa ada yang salah dengan perkataan Cinta? "Mungkin Ryan masih ada perasaan sama lo."
"Apa lo bilang? Dari dulu Ryan gak pernah mencintai gue."
"Ryan begitu dekat sama lo, gak mungkin dia gak ada feeling sama lo. Lo juga masih suka kan sama Ryan."
Tuduhan Shella membuat Cinta bingung, "Apa sih yang lo bilang. Gue gak ada apa-apa sama Ryan sekarang. Lo percaya sama gue dan lo harus bisa tenangin pikiran lo jangan emosi gini."
Shella lberdiri. Dia tidak mau lagi mendengarkan apa kata Cinta. Dia hanya menuruti apa yang ada dipikirannya. Dia turuti segala emosinya.
"Shella..." panggil Rayn yang menghentikan langkah Shella. Rupanya Rayn mendengar pembicaraan Cinta dan Shella. Rayn berjalan cepat menyusul Shella sebelum Shella menjauh. "Kamu mau kemana?"
"Rayn...." kata Shella begitu lirih, dia kini menatap Rayn. Seseorang yang begitu sama dengan Ryan secara fisik.
"Shella, Ryan beneran cinta sama kamu. Kamu jangan pernah berpikir kalau Ryan akan melupakan kamu untuk selamanya. Perlahan kita harus bantu Ryan untuk mengingat semuanya tapi kamu harus bersabar. Jangan turuti emosi kamu. Aku tahu persis Ryan dan Cinta sudah tidak ada apa-apa lagi." Rayn mengusap pundak Shella. Rupanya Rayn berhasil menenangkan Shella. Apa Rayn tidak sadar kalau ada Cinta kini berdiri tepat di belakangnya.
"Tapi Ka, kalau seandainya Ryan gak bisa mengingat aku gimana. Aku..." dan lagi, Shella terbawa suasana hatinya, "Aku gak mau kehilangan Ryan."
"Shella, kamu harus yakin Ryan pasti bisa mengingat kamu lagi." Rayn kini memegang kedua pundak Shella, sedikit erat agar Shella bisa yakin.
Tak disangka Shella justru memeluk Rayn, butuh suatu pelukan untuk menenangkan dirinya. Dua pasang mata ini sedikit melebar. Rayn yang terkejut dengan pelukan Shella, begitu juga dengan Cinta. Jujur dia cemburu meskipun dia tahu pelukan itu bukan berdasarkan cinta.
Shella menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rayn. Memejamkan matanya sesaat menghilangkan segala kegundahannya. Terasa begitu nyaman. Terkadang dia memang tidak bisa membedakan antara Rayn dan Ryan. Shella tidak melihat ada Cinta yang berjalan semakin mendekat di samping Rayn.
Kini Rayn memandang Cinta, tersadar saat ada cairan bening yang sudah mengembun di sudut mata Cinta, Rayn akan melepaskan pelukan Shella tapi Cinta justru memegang tangan kiri Rayn dan menggelengkan kepalanya. Dia melarang Rayn melepaskan pelukan Shella. Rayn hanya terdiam dan menurutinya. Kini tangan kiri Rayn mengenggam tangan Cinta dengan erat sedangkan tangan kanannya berada di punggung Shella. Rayn dan Cinta masih saling bertatapan.