
Shella menopang kepalanya di atas meja sebuah kafe. Dia hanya melamun sambil mengaduk minumannya dengan sedotan. Tatapannya kosong. Dia masih terus memikirkan Rayn karena dia merasa sangat berbeda dekat dengan Rayn sehari ini.
"Shella, maaf yah menunggu lama."
Shella menoleh ke arah suara itu sambil tersenyum. "Iya gak papa kok Cinta." Rupanya Shella sudah membuat janji dengan Cinta di sebuah kafe malam itu. Mereka butuh teman bicara. Mengingat kekasih mereka yang hari ini memang berbeda.
Cinta duduk di sebelah Shella. Dia langsung memesan minuman. "Lo udah lama nunggu di sini?"
"Gak kok. Baru juga 15 menit. Lo katanya tadi mau cerita. Cerita apa? Soal Ryan?" tanya Shella yang seketika membuat raut wajah Cinta berubah.
Cinta mengangguk pelan sambil meminum minumannya yang baru saja diantar oleh pelayan. "Gue bingung sama sikap Ryan. Beberapa hari ini dia begitu lembut. Gue seneng sama perubahannya. Dia bisa menghargai gue. Dia juga bisa ngertiin gue, tapi entah ada masalah apa, dia jadi berubah. Dia kembali emosional seperti dulu. Bahkan dia tadi sampai berani bentak gue. Apa cowok kalau sedang ada masalah emang kayak gitu?"
Shella mendengar dengan serius semua curhatan Cinta. Perubahan? Yah, sebenarnya Shella juga bingung dengan perubahan. "Gue juga bingung. Gue juga lagi ada masalah yang sama kayak lo. Gue gak ngerti kenapa tiba-tiba Rayn nyuekin gue seharian ini. Emang sih dulu dia pendiem banget gak kayak beberapa hari ini lebih banyak bicara dan bercanda. Gue jadi merasa asing kalau dia tiba-tiba jadi seseorang yang pendiem lagi."
Mereka sama-sama menarik napas panjang.
"Kita jalani aja. Gimana pun pasangan kita, yang paling penting kita juga harus bisa mengerti keadaan mereka," kata Cinta yang sedikit berkata bijak.
"Yah lo benar."
"Shell, bentar yah gue mau ke toilet." Cinta berdiri dan beranjak pergi menuju toilet.
Shella hanya mengangguk. Dia kembali meminum minumannya yang kini tinggal sedikit. Tak berapa lama terdengar ponsel Cinta berbunyi. Shella menoleh arah panggilan itu. rupanya ponsel Cinta tertinggal di atas meja. Tak sengaja Shella melihat layar ponsel Cinta yang menyala karena ada panggilan masuk. Shella melebarkan matanya saat melihat foto yang muncul di atas nama Ryan.
Rayn? Kenapa wajah Ryan bisa sama persis dengan Rayn. Gak mungkin!
Shella terus mencermati foto itu. Tak ada perbedaan sama sekali dengan Rayn. Hanya gayalah yang membedakannya.
"Hei, lo kenapa?" tanya Cinta saat selesai dari toilet dan kembali duduk di tempatnya.
"Hp lo bunyi," jawabnya.
Cinta langsung mengecek ponselnya lalu tersenyum. Cinta menelepon balik Ryan sambil sedikit menjauh dari Shella. Shella masih saja bingung. Tidak kehabisan akal, dia segera menelepon Rayn. Tak lama kemudian panggilan Shella langsung dijawab oleh Rayn. Hanya sebentar Shella langsung mematikan panggilannya.
Nomer Rayn gak sibuk? Lalu sebenarnya siapa Ryan itu? Kenapa wajahnya bisa sama persis dengan Rayn? Masak iya gue salah lihat.
Shella masih saja bingung dengan foto yang ada di ponsel Cinta.
"Sorry yah buat lo nunggu."
"Iya gak papa. Telpon dari Ryan?" tanya Shella memastikannya lagi.
"Iya. Gak tahu tiba-tiba dia telpon. Dia bilang dia kangen sama gue. Aneh, padahal baru beberapa jam gak ketemu."
Cinta terdiam sesaat, dia memikirkan tentang perubahan cara bicara Ryan. Suara barusan begitu lembut. Suara yang bisa menenangkan dirinya. "Gue juga gak tahu. Yah, moga aja dia tetep kayak gini."
Mereka melanjutkan pembicaraan mereka. Pertemuan mereka yang tidak sengaja membuat mereka memiliki sahabat baru. Sahabat baru dengan masalah yang selalu sama sehingga membuat mereka semakin akrab.
...***...
"Gimana? Udah gak bingung? Udah gak pusing?" tanya Ryan setelah Rayn menghubungi Cinta.
Rayn tersenyum. Sakit yang dia rasakan di sekujur tubuhnya kini sedikit mereda. Dia mulai merebahkan badannya di atas tempat tidur. Menatap kosong langit-langit kamarnya yang putih bersih.
"Lo beneran udah jatuh cinta sama Cinta?" tanya Ryan memastikan.
Rayn terdiam beberapa saat. Entah sejak kapan dia jatuh cinta. Padahal sebelumnya yang dia tahu hanyalah perasaannya pada Shella. Cinta memang datang tanpa disadari.
"Rayn, gue tanya malah bengong." Ryan kini juga membaringkan badannya di samping Rayn.
"Iya sepertinya," jawabnya yang masih tanda tanya.
"Lo tuh kalau jawab yang bener." Ryan menabok lengan Rayn sampai Rayn meringis kesakitan.
"Aduh, iya.. Iya.. Sakit tau." Rayn mengusap lengannya. "Iya, aku udah mulai ada feeling sama Cinta." jawab Rayn pada akhirnya.
"Lo besok mau balik jadi gue apa gak?"
"Jadi lo?" Rayn nampak ragu. Sebenarnya dia ingin tapi bagaimana dengan nilai-nilainya.
"Gue takut lo dihajar lagi sama Diega."
"Tapi besok ada ulangan Kimia. Kamu tahu kan nilai aku ancur semua."
Ryan mengerti dengan keadaan ini. "Tapi, apa lo gak kangen sama Cinta?"
Tentu saja Rayn begitu kangen sama Cinta. Apa yang dirasa Ryan itu sama dengan apa yang Rayn rasakan. "Mau gimana lagi? Besok sore aja aku ajak Cinta keluar."
"Kalau lo ajak Cinta keluar berarti gue juga ajak Shella. Itu baru sama." Ryan menguap panjang lalu memunggungi Rayn yang masih enggan terpejam.
Ryan apa kamu gak pernah mikir kalau seandainya kebohongan kita terbongkar, pasti kita akan menyakiti mereka dan lebih parahnya lagi, kita akan kehilangan mereka.
Rayn yang memang seorang tipe pemikir lebih berpikir bagaimana akibat dari semua masalah yang dia hadapi saat ini.