Bad Boy Or Good Boy?

Bad Boy Or Good Boy?
BAB 36



Sampai hampir satu menit, Shella akhirnya melepaskan pelukannya. Dia menatap Rayn dan Cinta secara bergantian lalu melihat tangan Rayn dan Cinta yang masih menggenggam dengan erat. Tersadar, Rayn adalah milik Cinta. "Maaf. Aku.. Aku minta maaf. Aku mau pulang." Shella membalikkan badannya dan beranjak pergi.


Ingin Rayn menyusulnya dan mengantarnya pulang, tapi dia urungkan. Mereka berdua menatap punggung Shella yang kian menjauh dan menghilang.


"Ka, apa kamu masih suka sama Shella?" tanya Cinta yang kini sudah menatap Rayn. Ada apa dengan pertanyaan itu? Apa Cinta ingin semakin memperkeruh suasana atau karena Shella memeluk Rayn sehingga dia cemburu.


"Kamu tanya apa? Sejak aku bilang cinta sama kamu, sejak itu aku sudah cinta sama kamu." Rayn kini juga menatap Cinta. "Kamu sendiri, apa masih cinta sama Ryan? Dia sekarang hanya mengingatmu. Apa yang akan kamu lakuin kalau Ryan ngelakuin hal yang sama kayak dulu sama kamu?"


"Rayn, apaan sih? Aku udah sadar, semua perasaanku itu buat kamu. Kamu emang sama dengan Ryan tapi kamu berbeda. Aku gak mau ada hubungan lagi dengan Ryan. Kenapa Ryan gak lupain aku aja. Kenapa dia malah lupain Shella."


"Tapi Cinta, aku mohon sama kamu, jangan buat Ryan terlalu berpikir untuk saat ini, aku takut Ryan kenapa-napa. Turuti apa yang dia mau. Please.. Kamu jangan pernah mengungkap hubungan kita." Rayn memegang kedua tangan Cinta seperti memohon. Meski dia tahu, hatinya pasti akan terluka. Dan lagi, Rayn harus mengorbankan perasaannya demi Ryan.


Cinta menatap kedua bola mata Rayn di balik kacamatanya. Bagaimana mungkin bisa Cinta melukai hati Rayn. "Tapi Rayn, aku gak bisa. Aku gak mau nyakiti kamu dan juga Shella."


"Cinta, Ryan itu segalanya buat aku. Aku akan lakuin apa aja buat Ryan. Karena Ryan itu bagian dari diri aku."


Cinta terdiam. Dia nampak berpikir. Bagaimana pun juga dia tidak sampai hati melakukan semua itu.


"Cinta, kamu percaya sama aku, aku gak apa-apa. Soal Shella, nanti biar aku yang jelaskan. Perlahan, kita bantu ingatan Ryan untuk pulih."


Cinta akhirnya menganggukkan kepalanya pelan, pertanda dia setuju dengan apa yang diinginkan Rayn. "Aku pulang dulu yah. Udah malem."


"Biar aku anterin," pinta Rayn.


Cinta menggelengkan kepalanya sambil melepas genggaman tangan Rayn, "Kamu di sini aja jagain Ryan. Aku bisa kok pulang sendiri."


"Tapi Cinta..."


"Udah gak papa," tukas Cinta. "Nanti kalau Ryan kebangun terus cariin kamu gimana?"


"Ya udah kamu hati-hati yah."


Dan lagi, Cinta menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Lalu, dia membalikkan badannya dan beranjak pergi. Seiring kepergian Cinta, Rayn menghela napas panjang. Dia akhinya duduk di kursi tunggu karena kakinya terasa sangat pegal. Rayn membuka kacamatanya dan mengusap wajahnya yang kusut. Lalu memakai kacamatanya kembali dan menyandarkan punggungnya.


Ryan, aku rela berkorban apa pun demi kamu. Walaupun dengan perasaan ini...


...***...


Setelah dua hari berada di rumah sakit, akhirnya Ryan diperbolehkan untuk pulang ke rumah meski masih dalam masa penyembuhan. Sudah dua hari juga dia melupakan Shella. Sejak dua hari itu juga Shella belum pernah menjenguk Ryan, karena Rayn sempat melarangnya untuk bertemu Ryan sementara waktu agar pikiran Ryan tenang.


"Akhirnya kamu pulang juga, bosen banget nungguin kamu di rumah sakit," kata Rayn sambil membereskan barang-barang Ryan bersiap untuk pulang ke rumah. Sebenarnya itu hanyalah gurauan Rayn, mana mungkin Rayn bisa bosan menunggu saudara kembarnya sendiri.


"Siapa suruh lo nungguin gue. Kan ada Bunda." Ryan duduk di tepian brangkar. Dia termenung sesaat, seperti memikirkan sesuatu tapi dia sendiri tidak tahu apa yang dia pikirkan. Dia seperti merasakan rindu pada seseorang.


"Rayn," panggil Cinta sambil berjalan masuk bersama Shella yang membuat Rayn dan Ryan seketika melihat ke arah mereka. Cinta tersenyum dan menatap Rayn yang diiringi tatapan heran dari Ryan.


"Cinta lo udah kenal sama Rayn?" tanya Ryan yang merasa aneh melihat ekspresi Cinta saat itu.


"Eh, Hmmm, gue baru kenal kemarin kok. Gimana keadaan lo hari ini?" tanya Cinta yang mengalihkan pembicaraan.


"Gue udah boleh pulang dari rumah sakit berarti gue udah sembuh dong," ucap Ryan dengan semangat, dia tidak tahu bahwa dia sebenarnya masih belum bisa mengingat semuanya.


"Iya, syukurlah."


Tatapan Ryan kini berujung pada Shella ang hanya berdiam diri menatap Ryan di samping Rayn. "Lo temen Rayn?" pertanyaan itu lagi yang terlontar dari mulut Ryan pada Shella.


"I-Iya..." jawab Shella dengan gagu. Apakah dia harus mengikuti semua drama ini?


"Kenalin nama gue Ryan, saudara kembar Rayn." Ryan mengulurkan tangannya mengajak Shella bersalaman, tapi Shella tak juga membalasnya. Dia bengong sambil menatap Ryan.


Ryan, aku sudah mengenalmu tanpa sebuah perkenalan seperti sekarang. Andai dulu kamu gak menjadi Rayn, mungkin sekarang aku berkenalan denganmu tanpa ada rasa seperti ini.


Perlahan Shella meraih tangan Ryan. "Nama aku Shella."


Ryan mengernyitkan dahinya saat merasakan lembutnya tangan Shella. apa dia mengingat sesuatu? Dia menatap Shella lalu melepaskan tangannya. "Gue seperti pernah melihat lo sebelumnya." Ryan mengingat sesuatu.


Shella tersenyum. Apa Ryan sudah mulai mengingatnya?


"Gue pernah lihat foto lo di hp Rayn. Jangan-jangan kalian udah jadian."


Jadian? Mereka bertiga saling bertatap satu sama lain.


"Rayn, udah lo ngaku aja sama gue. Ternyata Rayn diam-diam punya pacar juga." Ryan terus menggoda Rayn, sedangkan Rayn masih terus terdiam. Bagaimana bisa dia membantah Ryan?


"Iya, aku pacar Rayn." ucap Shella berbohong yang membuat Cinta dan Rayn menatap ke arahnya.


Aku rela menyamar menjadi pacar Rayn agar aku bisa terus bertemu dengan kamu, Ryan.


Ryan tertawa lebar, "Akhirnya lo punya pacar juga Rayn. Selamat! Selamat!"


Mengapa kebohongan ini terulang kembali? Demi apa pun, jangan sampai cinta ini tertukar lagi.


Rayn semakin pusing memikirkan semua ini. Dia harus hidup dengan kebohongan lagi.