Bad Boy Or Good Boy?

Bad Boy Or Good Boy?
BAB 21



"Shella, tunggu!" Ryan mengejar Shella sepulang sekolah waktu itu. Ryan ingin menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. tapi Shella masih bersikeras menghindar dari Ryan. Meskipun hujan deras mulai mengguyur, Shella nekat menerobos.


Shella semakin melebarkan langkahnya. Karena jalanan yang cukup berlumpur, hampir saja Shella terpeleset seandainya Ryan terlambat menangkap tubuhnya. Dengan cepat Shella membenarkan berdirinya. Dia tak mau terbawa perasaan oleh tatapan Ryan saat itu.


"Shella dengerin penjelasanku." Dengan erat Ryan menggenggam tangan Shella agar Shella tidak kabur lagi dari dirinya. "Shella, aku gak bisa jauh dari kamu."


Shella kini menatap Ryan, "Aku gak mau jadi pengaruh buruk buat kamu."


"Tapi bukan kamu yang nyebabin aku kayak gini. Oke, aku janji akan memperbaiki semuanya. Aku sayang sama kamu Shella."


Shella terdiam beberapa saat. "Aku juga sayang kamu Rayn." jawabnya pelan.


Ryan tersenyum lalu dia segera menuntun Shella untuk berteduh. Meskipun seragam mereka tengah basah, tapi mereka tetap menunggu hujan reda untuk menikmati suasana hujan berdua. Ryan telah jatuh hati begitu dalam pada Shella tanpa memikirkan jika suatu saat nanti dia sudah tidak lagi menjadi Rayn.


...***...


Ryan berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan lemas. Rupanya dia bebarengan dengan saudara kembarnya. Sama-sama basah. Mereka saling tatap beberapa saat sebelum akhirnya mereka mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam kamar.


Segera menutup pintu kamar saat mereka sudah berada di dalamnya. "Rayn, gue tadi di tegur sama Bu Lisa gara-gara nilai lo turun semua." kata Ryan begitu panik.


Rayn tak kalah paniknya juga. "Kamu gimana sih. Udah aku bilang kamu itu harus belajar."


"Gue udah belajar tapi emang pada dasarnya otak gue yang gak nyampai." kata Ryan sambil melepas seragam basahnya.


"Gak ada cara lain lagi, aku harus balik lagi ke sekolah."


Mendengar keputusan Rayn, Ryan melebarkan matanya. "Apa? Rayn, tapi gue jadi gak bisa ketemu Shella."


"Shella..." Rayn menghentikan perkataannya. Yah, aku juga gak bisa lagi ketemu Cinta. Padahal aku sekarang udah mulai bisa membuka hati untuk Cinta.


"Mau gimana lagi. Daripada terus-terusan kayak gini nanti aku yang gak naik kelas. Kita gak bisa merubah takdir kita. Aku tetap Rayn dan kamu tetap Ryan." Rayn berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkan Ryan yang masih berdiam diri.


Aku tetap Rayn dan kamu tetap Ryan.


Kata-kata Rayn begitu melekat di hati Ryan. Yah, itu memang benar. Bagaimana pun juga mereka akan kembali menjadi diri mereka sendiri. Ryan menghela napas panjang. Dia harus kembali ke kehidupannya. Meninggalkan Shella, gadis yang sangat dia cintai. Entah kenapa dia bisa jatuh cinta seberat ini.


...***...


Keesokan harinya kedua saudara kembar ini seperti enggan untuk berkata-kata. Mulai hari ini mereka sudah tidak bertukar identitas lagi.


"Rayn, Ryan kalian kenapa? Wajahnya di tekuk gini. Kalian bertengkar?" tanya Andini pada kedua putranya.


Hanya ada gelengan dari mereka berdua.


"Hmmm.." Rayn berpikir sejenak mencari alasan yang tepat. "Soalnya pelajarannya sekarang lebih sulit Bun. Tapi Rayn janji Rayn akan lebih giat belajar lagi sekarang."


"Ya udah kalau kamu ada masalah, kamu cerita sama Bunda. Kamu juga Ryan."


Ryan hanya mengangguk. Semenjak Ryan terbiasa menjadi Rayn, Ryan jadi pendiam. Tapi kali ini ada satu hal yang begitu mengganjal pikirannya, Shella. Bagaimana dia bisa bertemu lagi dengan Shella?


"Berangkat yuk." ajak Ryan tiba-tiba karena jika Ryan membayangkan hari-harinya tanpa Shella pasti akan memakan banyak waktu. Segera Ryan berpamitan pada orang tuanya dan berjalan keluar dengan lemas yang diikuti Rayn.


Mereka saling bertatap sesaat sebelum menaiki sepeda mereka masing-masing. Tak menunggu lama lagi mereka segera menjalankan motor mereka meninggalkan rumah menuju sekolah.


Kenapa rasanya begitu berat pergi ke sekolahku sendiri hari ini. Cinta.... Yah, aku sudah terbiasa bersamanya setiap hari. Bagaimana kalau Ryan mempermainkan Cinta seperti dulu lagi.


Rayn menggelengkan kepalanya sambil mempercepat laju motornya agar segera sampai di sekolahnya.


Beberapa saat kemudian Rayn tiba di sekolah. Sekolah yang sudah beberapa minggu dia tinggalkan. Rasanya sangat berbeda. Begitu asing. Dia berjalan menuju kelasnya melewati koridor kelas.


"Rayn.." panggilan yang sebenarnya sudah tidak asing lagi baginya kini menjadi begitu sangat asing.


Rayn menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah panggilan itu. Nampak Shella melangkah cepat ke arahnya. Senyuman Rayn yang dulu mengembang setiap kali melihat kedatangan Shella kini tak muncul lagi. Yang ada dibenaknya sekarang hanyalah senyuman Cinta yang begitu ceria dan tulus untuknya.


"Rayn, kamu udah siap kan buat ulangan hari ini?" tanya Shella dengan mata berbinarnya.


Rayn hanya terdiam. Saat ini dia merasa begitu asing dengan Shella, seperti baru mengenalnya.


"Rayn?" panggil Shella sambil menggoyang lengan Rayn agar tersadar dari lamunannya.


"Eh, iya. Aku udah siap kok." Rayn melanjutkan langkahnya tanpa membarengi Shella. Shella mengernyitkan dahinya merasa ada yang aneh pada Rayn. Shella pun menyusul langkahnya, sambil menatap Rayn dari samping.


Kenapa aku merasa berbeda saat berada di dekat kamu sekarang. Tapi, ah sudahlah. Mungkin hanya perasaanku saja. Shella membuang jauh-jauh segala pemikiran buruknya.


Rayn menghentikan langkahnya saat akan memasuki ruang kelas. Pertama kalinya dia berpapasan dengan Diega setelah beberapa hari. Tatapan Diega yang begitu garang membuat Rayn bergidik takut. Rayn mengalihkan pandangannya dan memberanikan diri melewati Diega. Sepertinya emosi Diega pada Rayn semakin besar. Apalagi setelah Diega dihajar sama Ryan, dia sekarang menjadi dendam dengan Rayn. Dendam yang harus terbalaskan.


Diega mengeraskan rahang bawahnya sambil menatap tajam Rayn. Ingin dia menyergap Rayn saat itu juga andai saja tidak ada Shella yang berjalan mengikutinya.


Rayn duduk di bangkunya sambil mengusap keringat yang keluar di pelipisnya. Menenangkan detak jantungnya yang dag dig dug. Ketakutannya pada Diega kembali terjadi. Dia masih saja belum bisa membela dirinya sendiri. Tanpa sadar saat ini Rayn dalam masalah besar. Bisa saja sewaktu-waktu Diega menghabisinya.


"Ka, kamu kenapa sih ngelamun aja?" tanya Shella sambil menepuk pundak Rayn.


Rayn menggelengkan kepalanya. "Gak papa." Jawabnya singkat sambil mengeluarkan buku pelajarannya dan juga ponselnya. Dia menatap layar ponselnya. Mencari sebuah kontak lalu memanggilnya. Hanya dengan menempelkan layar telpon ke telinganya tanpa bersuara.


Shella masih terus menatap Rayn. Mencari jawaban dari pertanyaan yang masih tetap sama dibenaknya. Mengapa Rayn tiba-tiba berubah? Tatapan Shella tak dilihat sama sekali oleh Rayn.