
"Kamu kenal sama Shella?" tanya Cinta yang membuat Ryan terkejut.
"Shella?" Gawat! Apa yang harus gue katakan. Cinta beneran lihat foto Shella yang ada di hp gue.
"Ryan, please jujur sama aku. sejak kapan kamu mengenal Shella?"
"Aku.. Hmm, ini..." Ryan mencari alasan yang tepat. Jangan sampai Cinta curiga. "Aku gak tahu, ini memory temen aku. Aku gak kenal siapa dia. Tadi aku cuma lihat-lihat foto dia."
Cinta masih saja menatap Ryan dengan penuh kecurigaan.
Ryan segera duduk. Bagaimana juga dia harus bisa meyakinkan Cinta. "Cinta, percaya sama aku."
Cinta hanya terdiam. Apa benar dengan apa yang dikatakan Ryan. Haruskah aku percaya begitu saja?
"Cinta, kamu kenal sama cewek itu. Emang dia siapa? Bukan siswi SMA sini kan?" tanya Ryan lagi berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Dia itu Shella. Teman aku. Dia gak sekolah di sini." jawab Cinta.
"Kok kamu gak pernah cerita sama aku tentang Shella?" selidik Ryan lagi. Dia harus tahu seberapa dekat Cinta dengan Shella.
"Aku kenal dia sekitar dua minggu yang lalu. Ternyata kita cocok dan berteman."
Ryan menghela napas panjang. Kenapa juga dunia ini terasa begitu sempit. "Dia.. Dia teman curhat kamu?"
"Iya. Kita punya banyak kesamaan. Meskipun dia lebih pendiam daripada aku tapi kita cocok banget. Aku pengen deh, suatu saat nanti aku sama dia bisa double date. Kamu mau gak?"
Double date? Gila! Mana mungkin. Pelipisnya kini berkeringat. Dia tahu suatu saat pasti dia harus mengakhiri permainan ini tapi bukan sekarang. Karena dia belum siap.
"Yah, kapan-kapan aja yah." jawab Ryan pelan. "Tapi nanti kita dinner yuk. Hanya berdua." ajak Ryan agar Cinta lupa tentang Shella untuk sementara waktu.
...***...
"Rayn, kita gak ke cafe yang sama kan?" tanya Ryan sambil memakai jaketnya besiap-siap untuk pergi.
"Nggak. Aku tadi nyuruh Shella buat nunggu di cafe KITA." Rayn juga memakai jaketnya. Berkaca sesaat. Untunglah memar diwajahnya sudah mulai memudar. Kalau tidak, apa yang harus dia ceritakan pada Cinta.
"Ya udah gue duluan yah." Ryan dengan semangat mengambil helm dan kunci motornya lalu keluar dari kamar.
"Dasar Ryan." Rayn menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku saudara kembarnya satu itu. Ekspresi Rayn berubah secara mendadak. Dia melupakan sesuatu. "Tadi di cafe apa yah? Kenapa mendadak pikun gini." Rayn memutar bola matanya mencari solusi. "Aku ajak ketemuan Cinta di taman aja biar gampang." Kemudian Rayn meraih ponselnya. Dengan cepat dia mengirim pesan pada Cinta. Tak menunggu waktu lama Cinta langsung membalas pesan itu.
Rayn tersenyum kecil lalu dia bergegas keluar dari kamarnya. Berjalan dengan cepat agar orang tuanya tidak bertanya macam-macam karena dia tidak ingin berbohong pada mereka. Kali ini Rayn sedikit bandel. Sampai di luar rumah Rayn segera mengendarai motor sport Ryan dan langsung melaju menuju taman.
Saat berada di pertengahan jalan, tiba-tiba ban motor Rayn bocor. Rayn menghela napas panjang saat mengecek ban motornya. "Kempes? Terpaksa harus menambal dulu nih." Sebelum dia menuntun sepeda motornya ke tukang tambal ban, dia memberi kabar pada Cinta terlebih dahulu agar Cinta mau menunggunya.
"Untung.. Untung tambal bannya gak jauh-jauh amat.."
...***...
Senyuman terulas di bibir Shella saat melihat Ryan sudah datang. Ryan kini duduk di samping Shella. "Kamu kenapa tiba-tiba ingin ketemuan di taman?"
Shella masih saja tersenyum. "Karena aku ingin menikmati udara malam ini terlebih dahulu bersama kamu, Rayn."
Kemudian mereka saling bertatapan.
Hanya beberapa hari gak bertemu kamu, aku merasa sangat merindukan kamu Shella. Apa aku bisa mengakui kalau sebenarnya aku bukan Rayn yang kamu sebut-sebut. Aku bukanlah Rayn yang kamu cintai. Aku bukanlah Rayn yang mampu merebut hati kamu. Aku hanyalah saudara kembarnya yang menyamar. Baru kali ini aku merasa begitu sangat pengecut yang takut mengakui kenyataan ini. Tapi yang jelas rasa ini tidak pernah bohong untukmu. Cinta ini nyata dan tulus untukmu